JAKARTA, KOMPAS.com — PT KAI Commuter Jabodetabek menyelesaikan penambahan panjang peron di seluruh stasiun lintas Jakarta-Bogor. Penambahan ini untuk mendukung operasi kereta listrik dengan 10 kereta per rangkaian. Harapannya, kapasitas bertambah dan penumpang lebih nyaman.

Direktur Komersial dan Humas PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Makmur Syaheran, Minggu (23/2), menyebutkan, 20 kereta dari total 150 kereta yang didatangkan dari Jepang sejak November 2013 telah rampung uji sertifikasi di Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Dua rangkaian, masing-masing dengan 10 kereta, itu juga telah menjalani serangkaian uji coba kelaikan jalan.

Namun, kedua rangkaian belum bisa dioperasikan karena belum semua peron stasiun mendukung 10 kereta. Pada tahap awal, PT KCJ menyiapkan peron di seluruh stasiun lintas Bogor-Jakarta untuk mendukung rangkaian 10 kereta.

”Mayoritas stasiun di lintas Jakarta-Bogor sudah punya peron untuk 10 kereta. Kini tinggal empat stasiun, yakni Depok Lama, Depok Baru, Pondok Cina, dan Manggarai, dalam proses penyelesaian akhir,” kata Makmur.

Setelah lintas Jakarta-Bogor, PT KCJ akan memperpanjang peron di lintas Bogor-Jatinegara pada tahap kedua, kemudian lintas Serpong-Tanah Abang pada tahap ketiga. Harapannya, seluruh stasiun bisa disinggahi kereta rel listrik dengan jumlah 10 kereta per rangkaian.

Makmur menambahkan, sepanjang 2013 PT KCJ mendatangkan 180 kereta tipe 205 dari Jepang. Dengan demikian, ada 18 rangkaian baru yang akan dioperasikan di lintas Jabodetabek mulai tahun ini.

Seluruh pesanan ditargetkan tiba di Indonesia pada Maret 2014. Minggu siang, 20 kereta tiba di Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, sekaligus melengkapi 130 kereta yang tiba secara bertahap sejak 4 November 2013.

Manajer Komunikasi PT KCJ Eva Chairunisa menambahkan, kini ada 20 kereta yang lain telah diajukan untuk sertifikasi. Sementara 90 kereta lain sedang disiapkan untuk sertifikasi yang meliputi uji statis dinamis, perakitan, serta perbaikan wajah interior dan eksterior. ”Sertifikasi butuh waktu setidaknya 1-2 bulan,” ujarnya.

Seluruh kereta yang dipesan adalah kereta rel listrik (KRL) bekas tipe 205 yang masih beroperasi di Jepang. Harganya sekitar Rp 1 miliar per kereta. Harga KRL bekas ini seperenam sampai seperdelapan dari harga baru. Setelah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, KRL dirakit di Balai Yasa Manggarai, kemudian dilakukan uji sertifikasi di Ditjen Perkeretaapian.

Tambah kapasitas

Makmur menambahkan, tambahan 18 kereta akan difokuskan untuk mengganti kereta lama yang butuh perawatan, khususnya kereta yang sering mogok atau pengatur suhunya rusak.