Kasus Renggo, Pengawasan di Sekolah Lemah

Kompas.com - 06/05/2014, 19:32 WIB
Ruang kepala sekolah SD 09 Pagi Makasar, Jakarta Timur bersebelahan dengan lokasi penganiayaan Renggo Khadafi (11) pelajar yang diduga kuat dianiaya kakak kelasnya SY (13). Kompas.com/Robertus BelarminusRuang kepala sekolah SD 09 Pagi Makasar, Jakarta Timur bersebelahan dengan lokasi penganiayaan Renggo Khadafi (11) pelajar yang diduga kuat dianiaya kakak kelasnya SY (13).
|
EditorKistyarini

JAKARTA, KOMPAS.com - Suku Dinas Pendidikan Dasar Jakarta Timur memeriksa guru dan Kepala SD 09 Makasar terkait kasus penganiayaan terhadap salah satu siswanya, Renggo Khadafi (11). Dari hasil pemeriksaan itu sekolah dianggap lemah dalam pengawasan terhadap murid.

Kepala Suku Dinas Pendidikan Dasar Jakarta Timur, Nasrudin mengungkapkan, pihaknya menemukan beberapa poin dalam pemeriksaan yang dilakukan terhadap guru dan kepala sekolah.

Pertama, kepala sekolah tidak berada di tempat karena sakit. "Pada saat kejadian Kepala Sekolah sedang sakit sehingga tidak masuk dan tidak ada di tempat. Tapi ada surat dokter," kata Nasrudin saat ditemui di sekolah tersebut, Selasa (6/5/2014).

Nasrudin menambahkan, setelah dipukuli Renggo masih tetap melanjutkan kegiatan belajar mengajar di sekolah. "Korban kembali belajar di kelas dan kondisinya normal. Pulang sekolah juga normal. Sehingga guru tidak ada yang tahu (adanya pemukulan)," ujar Nasrudin.

Temuan selanjutnya, para guru di sekolah tersebut tidak melakukan pengawasan pada jam istirahat. Menurutnya, para guru saat kejadian berada di ruang kantor. Padahal, lanjut Nasrudin, jika mengetahui pimpinannya (kepala sekolah) tidak masuk, guru harus berperan lebih untuk melakukan pengawasan.

Hal ini yang menurutnya telah terjadi kelemahan pengawasan sekolah sehingga terjadinya kasus tersebut. "Tentu guru harus lebih waspada karena saat itu tidak ada pimpinan," ujarnya.

Menurut Nasrudin, sudah lama dibentuk piket khusus yang membagi tugas guru untuk melakukan pengawasan pada waktu istirahat sekolah. Sebab, jam-jam tersebut merupakan momentum rawan karena siswa bisa berada di mana saja.

"Ada piket khusus pada jam istirahat. Sebenarnya ini sudah lama. Tapi kita akan bentuk lagi. Jadi pada jam istirahat, guru yang piket khusus itu seharusnya berkeliling di sekolah melakukan pengawasan. Kevdepan ini kita akan atur lagi," jelas Nasrudin.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE 31 Oktober: Tambah 585, Kasus Covid-19 di DKI Jadi 105.597

UPDATE 31 Oktober: Tambah 585, Kasus Covid-19 di DKI Jadi 105.597

Megapolitan
Seorang Pria Tewas akibat Terbawa Arus Deras Saat Mencuci Pakaian di Ciliwung

Seorang Pria Tewas akibat Terbawa Arus Deras Saat Mencuci Pakaian di Ciliwung

Megapolitan
Polisi Duga Ada Urusan Percintaan di Balik Hilangnya Rizky

Polisi Duga Ada Urusan Percintaan di Balik Hilangnya Rizky

Megapolitan
Seorang Perempuan bersama Dua Anaknya Terjebak di Lift Selama 1,5 Jam

Seorang Perempuan bersama Dua Anaknya Terjebak di Lift Selama 1,5 Jam

Megapolitan
Jakarta Terpilih sebagai Kota Terbaik dalam Kemajuan Transportasi

Jakarta Terpilih sebagai Kota Terbaik dalam Kemajuan Transportasi

Megapolitan
UPDATE 31 Oktober: 80 Pasien Covid-19 di Kabupaten Bekasi Masih Dirawat di Rumah Sakit

UPDATE 31 Oktober: 80 Pasien Covid-19 di Kabupaten Bekasi Masih Dirawat di Rumah Sakit

Megapolitan
Tabrak Trailer dari Belakang, Pengendara Motor Patah Tulang dari Hidung sampai Paha

Tabrak Trailer dari Belakang, Pengendara Motor Patah Tulang dari Hidung sampai Paha

Megapolitan
UPDATE 31 Oktober: Kumulatif Kasus Terkonfirmasi Covid-19 di Tangsel Kini 1.823

UPDATE 31 Oktober: Kumulatif Kasus Terkonfirmasi Covid-19 di Tangsel Kini 1.823

Megapolitan
Lawan Arus Saat Kendarai Motor, Dua Pemuda Tewas Dihantam Mobil Boks

Lawan Arus Saat Kendarai Motor, Dua Pemuda Tewas Dihantam Mobil Boks

Megapolitan
Polda Metro Jaya Antisipasi Puncak Arus Balik Libur Panjang

Polda Metro Jaya Antisipasi Puncak Arus Balik Libur Panjang

Megapolitan
Progres Revitalisasi Taman Ismail Marzuki Capai 40,85 Persen

Progres Revitalisasi Taman Ismail Marzuki Capai 40,85 Persen

Megapolitan
Turun Rp 24 Triliun, Anggaran Perubahan DKI Jadi Rp 63,23 Triliun

Turun Rp 24 Triliun, Anggaran Perubahan DKI Jadi Rp 63,23 Triliun

Megapolitan
Pemkot Jakarta Selatan Gelar Vaksinasi Rabies Gratis untuk Hewan Peliharaan

Pemkot Jakarta Selatan Gelar Vaksinasi Rabies Gratis untuk Hewan Peliharaan

Megapolitan
UPDATE 31 Oktober: Tambah 21 Orang, Kasus Terkonfirmasi Covid-19 di Kota Tangerang Kini 2.180

UPDATE 31 Oktober: Tambah 21 Orang, Kasus Terkonfirmasi Covid-19 di Kota Tangerang Kini 2.180

Megapolitan
Kronologi Penganiayaan WN Pakistan, Pelaku Mulanya Kesal Diklakson kemudian Menyerang Pakai Senjata Tajam

Kronologi Penganiayaan WN Pakistan, Pelaku Mulanya Kesal Diklakson kemudian Menyerang Pakai Senjata Tajam

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X