Kompas.com - 22/05/2014, 08:27 WIB
Bangunan kampus USBI di Pancoran, Jakarta Selatan. Rabu (21/5/2014). Kompas.com/Robertus BelarminusBangunan kampus USBI di Pancoran, Jakarta Selatan. Rabu (21/5/2014).
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com - Pihak Putera Sampoerna Foundation (PSF) tidak membantah mengenai "giving back" dengan nilai ratusan juta dari dua lembaga pendidikannya. Namun, mereka membantah jika hal itu dilakukan tanpa sepengetahuan orangtua siwa dan juga dipaksakan.

Managing Director Putera Sampoerna Nenny Soemawinata mengatakan, mekanisme ini dipilih lantaran penerima beasiswa harus ikut memiliki tanggung jawab bagi generasi mahasiwa selanjutnya. Ini didasari, karena selama memberikan beasiswa beberapa tahun, tetapi tidak ada rasa tanggung jawab dari yang menerimanya.

"Dari pengalaman kami beberapa tahun melakukan itu, anak-anak Indonesia yang kita berikan beasiswa merasa tidak punya rasa tanggung jawab atau ikatan apa-apa dengan kami dan juga negara," kata Nenny kepada Kompas.com, di lantai 27 Tower Sampoerna Strategic Square, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (21/5/2014).

Dua lembaga PSF, yakni Akademi Siswa Bangsa Internasional (ASBI) --setingkat SMA-- dan Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI), menurutnya, merekrut siswa siswi dari latar belakang kurang mampu. Proses penerimaan melalui tahapan seleksi dengan serangkaian tes. Para pelajar lulusan ASBI kemudian ditawari untuk melanjutkan ke perguruan tinggi USBI.

Pihaknya lalu membentuk Koperasi Siswa Bangsa (KSB) bagi mahasiswa USBI. Setelah mereka lulus dan bekerja, melalui koperasi ini, alumnus USBI bisa memberikan bantuan mereka kepada generasi setelahnya. Bantuan itu, kata Nenny, berupa potongan 20 persen pendapatan gaji setelah lulusan mereka bekerja.

"Mereka mengembalikan 20 persen dari pendapatannya. Itu betul, kita enggak bilang salah. Nah, dikembalikannya ke mana? Ke KSB. Siapa anggotannya, ya anak-anak ini. Tadi kita sampaikan program harus berkelanjutan dan berkesinambungan, dikembalikan lagi untuk membantu generasi berikutnya seperti mereka," ujar Nenny.

Nenny mengatakan, pihaknya tidak memungkiri adanya CSR dari berbagai perusahaan lain selain mereka untuk dana pendidikan. Tetapi, itu juga digunakan untuk anak didik mereka. "Kami foundation tidak ambil keuntungan," ujarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mekanisme ini, menurutnya, sudah banyak digunakan di negara lain, seperti AS. Di Indonesia, diakuinya, masih baru. Bagi yang bersedia dengan mekanisme itu, mesti melakukan perjanjian tadi.

"Karena kami menginginkan anak tersebut, kasarnya "giving back", atau membayar ke koperasi di mana anggotannya mereka juga," ujarnya.

Ia mengatakan, perjanjian ini, sudah disampaikan kepada orangtua anak didik mereka sejak awal tahap penerimaan dan melalui mekanisme penentuan. Nenny mengatakan, tidak ada unsur paksaan karena melalui proses tersebut.

"Kami mengatakan, kalau mau ikut perjalanan ini, syaratnya seperti ini," kata Nenny.

20 Tahun dan Rp 800 juta

Nenny mengatakan, pihaknya sudah melakukan perhitungan bagi lulusan yang melakukan giving back tersebut. Menurutnya, proses pengembaliannya tidak selama prediksi penulis pada artikel yang beredar di internet.

"Kalau mereka (alumnus) tetap mempertahankan performance seperti sekarang di kuliah, itu sudah kita hitung maksimal 20 tahun (membayar). Ini yang tertinggi," ujarnya.

Berapa contoh total biaya dan besarnya cicilannya, Nenny tidak menyebut eksplisit. Apakah nilainnya mencapai Rp 800 juta seperti yang tertera pada artikel di internet, pihak PSF tidak menampik.

"Mungkin bisa saja sampai segitu," kata Programer Coordinator Koperasi Siswa Bangsa (KSB) Ella Celia, pada kesempatan yang sama.

Pertama, Ella menyatakan, itu tergantung biaya pendidikan di universitas yang dijalani oleh siswa. Kedua tergantung gaya hidup atau fasilitas yang diterima. "Itu tergantung hidup mereka mau seperti itu atau tidak," ujarnya.

Untuk mengurangi bantuan KSB, lanjutnya, ada mahasiswa yang menjalani usaha online atau menjadi guru les. Atau misalnya, sambung Nenny, ada 9 siswa yang kuliah di daerah Houston, AS, yang bisa hidup berhemat. Misalnya, dari sisi transport sampai menyediakan makan sendiri. Mereka hanya meminta 50 persen bantuan perbulan dari KSB.

"Saya mau segini, enggak segitu. Silakan, kami terbuka. Karena anggota koperasinya mereka," sambung Nenny.

Waktu mengembalikannya juga bisa lebih singkat. Ia mencontohkan, lulusannya itu menduduki karir puncak dalam waktu cepat. Pihaknya juga mengukur sejauh ini dalam waktu 6 bulan para lulusannya sudah dapat bekerja. Selain itu, pihaknya membantu pertumbuhan karier dan penempatan karier para alumnus mereka.

"Finalnya ada di tangan anak-anak. Segigih apa dia menginginkan," jelas Nenny.

ASBI dan USBI memiliki lokasi berbeda. Deputy Head of ASBI Hairun Gani mengatakan, total 1.300 lebih siswa ASBI tersebar di empat kota yakni, Bogor, Palembang, Malang dan Bali. Sementara USBI, baru satu tempat yakni di Pancoran, Jakarta Selatan, dengan jumlah mahasiswa sekitar 400-an saat ini. Hadir pula Public Relations Manager PSF Sandra Darmosumarto.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polisi Buru Sekawanan Begal yang Bacok Korbannya hingga Tewas di Cakung

Polisi Buru Sekawanan Begal yang Bacok Korbannya hingga Tewas di Cakung

Megapolitan
Jokowi Minta Harga PCR Jadi Rp 300.000, Ini Tanggapan Persatuan Rumah Sakit

Jokowi Minta Harga PCR Jadi Rp 300.000, Ini Tanggapan Persatuan Rumah Sakit

Megapolitan
RSUI Layani Vaksinasi Covid-19 untuk Pengungsi Mancanegara, Simak Ketentuannya

RSUI Layani Vaksinasi Covid-19 untuk Pengungsi Mancanegara, Simak Ketentuannya

Megapolitan
Seorang Pria di Cakung Tewas Dibacok Sekawanan Begal

Seorang Pria di Cakung Tewas Dibacok Sekawanan Begal

Megapolitan
Menanti Hasil Investigasi Penyebab Kecelakaan Maut Transjakarta di Cawang

Menanti Hasil Investigasi Penyebab Kecelakaan Maut Transjakarta di Cawang

Megapolitan
Penghuni Kamar Kos Tak Tahu Tetangganya Penagih Pinjol Ilegal: Enggak Pernah Bersosialisasi

Penghuni Kamar Kos Tak Tahu Tetangganya Penagih Pinjol Ilegal: Enggak Pernah Bersosialisasi

Megapolitan
Teror Pinjol Terhadap Korbannya, Ancam Santet hingga Sebar Foto Tak Senonoh

Teror Pinjol Terhadap Korbannya, Ancam Santet hingga Sebar Foto Tak Senonoh

Megapolitan
Polisi Tangkap 2 Pengedar Narkoba, Sita 3.000 Butir Ekstasi dan 336 Gram Ganja

Polisi Tangkap 2 Pengedar Narkoba, Sita 3.000 Butir Ekstasi dan 336 Gram Ganja

Megapolitan
Senangnya Anak SD di Kota Tangerang Kembali ke Sekolah Setelah Dua Tahun Belajar Online

Senangnya Anak SD di Kota Tangerang Kembali ke Sekolah Setelah Dua Tahun Belajar Online

Megapolitan
Tangkap 3 Pengedar Narkoba, Polisi Sita 7,2 Kg Sabu

Tangkap 3 Pengedar Narkoba, Polisi Sita 7,2 Kg Sabu

Megapolitan
Pagi yang Menghebohkan di Cawang Ketika Dua Bus Transjakarta Tabrakan hingga Tewaskan Dua Orang

Pagi yang Menghebohkan di Cawang Ketika Dua Bus Transjakarta Tabrakan hingga Tewaskan Dua Orang

Megapolitan
Pohon Tumbang di Pujasera Cipondoh, Pemilik Sebut Kerugian Capai Rp 20 Juta

Pohon Tumbang di Pujasera Cipondoh, Pemilik Sebut Kerugian Capai Rp 20 Juta

Megapolitan
Curhat Pedagang yang Kiosnya Terbakar di Pasar Kalideres, Tak Sempat Selamatkan Dagangan

Curhat Pedagang yang Kiosnya Terbakar di Pasar Kalideres, Tak Sempat Selamatkan Dagangan

Megapolitan
Update Kondisi Korban Kecelakaan Bus Transjakarta, 7 Korban Luka Sudah Boleh Pulang

Update Kondisi Korban Kecelakaan Bus Transjakarta, 7 Korban Luka Sudah Boleh Pulang

Megapolitan
UPDATE 25 Oktober: Tidak Ada Kasus Baru Covid-19 di Kota Tangerang

UPDATE 25 Oktober: Tidak Ada Kasus Baru Covid-19 di Kota Tangerang

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.