SPBU Jakarta Pusat Tak Jual Solar Bersubsidi, Tarif Kopaja Bisa Naik Jadi Rp 5.000

Kompas.com - 01/08/2014, 20:17 WIB
Sejumlah bus Kopaja dan Metromini yang Alsadad RudiSejumlah bus Kopaja dan Metromini yang "ngetem" di depan Stasiun Sudirman, Jakarta, Selasa (4/2/2014) sore. Sejumlah penumpang pengguna KRL Commuter Line yang turun di stasiun tersebut mengatakan, keberadaan Kopaja dan Metromini yang "ngetem" lebih membantu dikarenakan letak halte Transjakarta terdekat yang sulit untuk dijangkau.
|
EditorDesy Afrianti
JAKARTA, KOMPAS.com — Kebijakan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) untuk tidak menjual solar bersubsidi di stasiun pengisian bahan bakar umum milik Pertamina yang dimulai dari wilayah Jakarta Pusat mendapat protes dari sopir angkutan umum.

Mereka mengaku sulit bila harus ke SPBU di wilayah lain untuk mengisi BBM.

"Susahlah. Kami rutenya kan lewat sini (Jakarta Pusat). Bisa aja isi di tempat lain, tetapi kalau habis banget bagaimana? Nanti mogok, penumpang ngoceh," kata Ula, sopir Kopaja P16 jurusan Tanah Abang-Ciledug, Jumat (1/8/2014).

Mungkin saja sewaktu-waktu Ula mengisi tangki bus dengan solar nonsubsidi dan pertamina dex. Kalau itu dilakukan berkali-kali, katanya, bisa saja angkutan umum menaikkan tarif dari Rp 3.000 menjadi Rp 5.000 per penumpang.

Ia juga menyatakan, penerapan yang diawali di Jakarta Pusat ini tentu akan merambah ke wilayah lain. Dengan begitu, pasokan solar bersubsidi dihapus merata dan ia harus menggunakan solar nonsubsidi ataupun pertamina dex.

Untuk diketahui, harga solar nonsubsidi Rp 12.800 per liter, sedangkan pertamina dex Rp 13.150 per liter. Sementara itu, harga solar subsidi Rp 5.500.

Hal senada juga dikatakan sopir bus Kopaja S602 jurusan Ragunan-Monas, Er, yang mengaku akan kesulitan mendapatkan solar saat sudah tiba di Jakarta Pusat.

"Ya tahu sendiri kan daerah Ragunan mau ke Monas macet terus. Kalau pas mau isi solar, harus bayar tiga kali lipat, ya kami tekor juga," ucap Er.

Ia pun meminta pemerintah memikirkan kembali kebijakan itu. Sebab, jika semua SPBU tidak menyediakan solar bersubsidi, maka ia berniat menaikkan tarif.

"Lah kalau naik juga kami pikirin. Mau nggak, penumpang naik. Penumpang nggak naik, kami nggak nyetor, mau makan apa?" katanya.

Sementara itu, Ketua Regu SPBU 31.103.3 Cikini Rahmad Novizar mengatakan, dalam sehari, SPBU Cikini dapat menghabiskan 5 kiloliter-6 kiloliter untuk bahan bakar minyak jenis solar.

Solar tersebut biasa dibeli oleh kopaja dan mobil pribadi. "Lebih banyak (kendaraan) pribadi isi solar di sini daripada angkutan umum. Ada Kopaja P20, S502 yang lewat jalur sini. Kalau mobil pribadi biasanya Fortuner, Panther, dan lain-lain," ujar Rahmad.

Menurut dia, tangki SPBU untuk solar bersubsidi diisi sebanyak 31.000 kiloliter dengan estimasi habis dalam waktu tiga pekan, sementara pertamina dex sebanyak 16.000 kiloliter dengan estimasi habis lebih kurang dalam satu bulan.

Baca juga: Hindari Solar Nonsubsidi, Pengendara Rela Ganti Mobil



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Agenda Sidang Senin: Rizieq Shihab Diperiksa dan Dituntut

Agenda Sidang Senin: Rizieq Shihab Diperiksa dan Dituntut

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG Senin: Sebagian Jakarta dan Bogor Berpeluang Hujan Ringan

Prakiraan Cuaca BMKG Senin: Sebagian Jakarta dan Bogor Berpeluang Hujan Ringan

Megapolitan
Korsleting Listrik, Toyota Avanza Hangus Terbakar di Otista

Korsleting Listrik, Toyota Avanza Hangus Terbakar di Otista

Megapolitan
Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Kota Bogor Hari Ini, 10 Mei 2021

Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Kota Bogor Hari Ini, 10 Mei 2021

Megapolitan
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Bekasi Hari Ini, 10 Mei 2021

Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Bekasi Hari Ini, 10 Mei 2021

Megapolitan
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Jakarta Hari Ini, 10 Mei 2021

Jadwal Imsak dan Buka Puasa Jakarta Hari Ini, 10 Mei 2021

Megapolitan
Tiba di Indonesia, 1.278 Pekerja Migran Langsung Dikarantina di Wisma Atlet

Tiba di Indonesia, 1.278 Pekerja Migran Langsung Dikarantina di Wisma Atlet

Megapolitan
Pemohon SIKM Butuh Surat Rekomendasinya, Perangkat RT/RW di Kota Tangerang Diminta Jujur

Pemohon SIKM Butuh Surat Rekomendasinya, Perangkat RT/RW di Kota Tangerang Diminta Jujur

Megapolitan
Kronologi Kelompok Debt Collector Adang Babinsa, Pemimpinnya Ajak 8 Teman untuk Cari Mobil Incaran

Kronologi Kelompok Debt Collector Adang Babinsa, Pemimpinnya Ajak 8 Teman untuk Cari Mobil Incaran

Megapolitan
Update 9 Mei: Bertambah 809, Kasus Covid-19 di Jakarta Kini Mencapai 415.647

Update 9 Mei: Bertambah 809, Kasus Covid-19 di Jakarta Kini Mencapai 415.647

Megapolitan
Polisi Tangkap 11 Debt Collector Pengadang Babinsa, 9 di Antaranya Ada di Video Viral

Polisi Tangkap 11 Debt Collector Pengadang Babinsa, 9 di Antaranya Ada di Video Viral

Megapolitan
SPSI Sebut Masih Ada Perusahaan di Kota Tangerang yang Belum Lunasi THR Tahun Lalu

SPSI Sebut Masih Ada Perusahaan di Kota Tangerang yang Belum Lunasi THR Tahun Lalu

Megapolitan
Pemprov DKI Terima 2.189 Permohonan SIKM, Lebih dari Setengahnya Ditolak

Pemprov DKI Terima 2.189 Permohonan SIKM, Lebih dari Setengahnya Ditolak

Megapolitan
Polisi Tangkap 11 Debt Collector Pengadang Babinsa TNI di Jakarta Utara

Polisi Tangkap 11 Debt Collector Pengadang Babinsa TNI di Jakarta Utara

Megapolitan
Kadisdik: PPDB DKI 2021 Jalur Prestasi Tidak Menggunakan Batas Usia

Kadisdik: PPDB DKI 2021 Jalur Prestasi Tidak Menggunakan Batas Usia

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X