Seperti Commuter Line, Tarif Transjakarta Akan Dihitung Sesuai Jarak

Kompas.com - 11/08/2014, 16:20 WIB
Pemandangan pengunjung Jakarnaval yang duduk di sepanjang sparator buswat Koridor I, di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Minggu (22/6/2014). Transjakrta tetap beroperasi di acara Jakarnaval ini. Kompas.com/Robertus BelarminusPemandangan pengunjung Jakarnaval yang duduk di sepanjang sparator buswat Koridor I, di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Minggu (22/6/2014). Transjakrta tetap beroperasi di acara Jakarnaval ini.
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorDesy Afrianti
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Transjakarta berencana mengubah sistem tarif layanan bus. Apabila selama ini diberlakuan tarif yang sama untuk jarak jauh dan dekat, maka nantinya tarif akan dihitung berdasarkan jarak per halte.

Menurut Direktur Utama PT Transjakarta Antonius NS Kosasih, sampai saat ini rencana penerapan tarif berdasarkan jarak per halte masih sedang disusun. Ia menargetkan sistem tersebut sudah bisa diterapkan mulai tahun depan.

"Nanti akan dihitung per jarak. Targetnya tahun depan sudah bisa diterapkan. Jadi yang jarak dekat disubsidi oleh yang jauh," kata Kosasih, di Halte Karet, Senin (11/8/2014).

Mengenai pemberlakuan tiket elektronik di koridor I yang membuat penumpang layanan terintegrasi, Kopaja AC; APTB; dan BKTB harus membayar dobel, Kosasih menjelaskan itu terjadi karena ketiga layanan tersebut belum mau ikut dalam penerapan tiket elektronik akibat besarnya biaya investasi.

Meski demikian, Kosasih mengaku sampai sejauh ini masih melakukan pembahasan dengan para operator APTB, BKTB, dan Kopaja AC untuk mencari solusi terbaik agar para penumpang ketiga layanan tersebut tidak merasa dirugikan.

"Kami sudah meminta APTB, BKTB, dan Kopaja AC untuk mengintegrasikan tiket dengan kami. Tapi karena investasi tiket elektronik ini membutuhkan biaya yang tidak kecil, kami tidak bisa langsung memaksa mereka untuk ikut, ucap Kosasih.

Saat ini, tarif yang dikenakan untuk para penumpang transjakarta adalah Rp 3500 untuk jarak jauh maupun dekat.

Penerapan tarif berdasarkan jarak atau sistem progresif sudah diterapkan di layanan kereta Commuter Line sejak pertengahan 2013. Pada layanan KRL, penumpang dikenakan tarif Rp 2.000 untuk lima stasiun pertama, dan Rp 500 tiap tiga stasiun berikutnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemohon SIKM Butuh Surat Rekomendasinya, Perangkat RT/RW di Kota Tangerang Diminta Jujur

Pemohon SIKM Butuh Surat Rekomendasinya, Perangkat RT/RW di Kota Tangerang Diminta Jujur

Megapolitan
Kronologi Kelompok Debt Collector Adang Babinsa, Pemimpinnya Ajak 8 Teman untuk Cari Mobil Incaran

Kronologi Kelompok Debt Collector Adang Babinsa, Pemimpinnya Ajak 8 Teman untuk Cari Mobil Incaran

Megapolitan
Update 9 Mei: Bertambah 809, Kasus Covid-19 di Jakarta Kini Mencapai 415.647

Update 9 Mei: Bertambah 809, Kasus Covid-19 di Jakarta Kini Mencapai 415.647

Megapolitan
Polisi Tangkap 11 Debt Collector Pengadang Babinsa, 9 di Antaranya Ada di Video Viral

Polisi Tangkap 11 Debt Collector Pengadang Babinsa, 9 di Antaranya Ada di Video Viral

Megapolitan
SPSI Sebut Masih Ada Perusahaan di Kota Tangerang yang Belum Lunasi THR Tahun Lalu

SPSI Sebut Masih Ada Perusahaan di Kota Tangerang yang Belum Lunasi THR Tahun Lalu

Megapolitan
Pemprov DKI Terima 2.189 Permohonan SIKM, Lebih dari Setengahnya Ditolak

Pemprov DKI Terima 2.189 Permohonan SIKM, Lebih dari Setengahnya Ditolak

Megapolitan
Polisi Tangkap 11 Debt Collector Pengadang Babinsa TNI di Jakarta Utara

Polisi Tangkap 11 Debt Collector Pengadang Babinsa TNI di Jakarta Utara

Megapolitan
Kadisdik: PPDB DKI 2021 Jalur Prestasi Tidak Menggunakan Batas Usia

Kadisdik: PPDB DKI 2021 Jalur Prestasi Tidak Menggunakan Batas Usia

Megapolitan
Lebih dari Seribu Permohonan SIKM di Jakarta Ditolak Karena Alasan Ini

Lebih dari Seribu Permohonan SIKM di Jakarta Ditolak Karena Alasan Ini

Megapolitan
Hari Keempat Larangan Mudik, 100 Kendaraan Diputar Balik di Posko Penyekatan Kota Tangerang

Hari Keempat Larangan Mudik, 100 Kendaraan Diputar Balik di Posko Penyekatan Kota Tangerang

Megapolitan
Polisi Bubarkan Antrean Pengunjung Mal BTM Bogor yang Mengular hingga Jalan

Polisi Bubarkan Antrean Pengunjung Mal BTM Bogor yang Mengular hingga Jalan

Megapolitan
Cara Baru Penentuan Zonasi PPDB DKI Jakarta 2021, Ini Penjelasannya

Cara Baru Penentuan Zonasi PPDB DKI Jakarta 2021, Ini Penjelasannya

Megapolitan
Kodam Jaya Pastikan Kawal Proses Hukum Kasus Pengadangan Babinsa oleh Debt Collector

Kodam Jaya Pastikan Kawal Proses Hukum Kasus Pengadangan Babinsa oleh Debt Collector

Megapolitan
Jelang Lebaran, Ini Siasat Pemkot Jakpus Hadapi Lonjakan Pengunjung di Pasar Tanah Abang

Jelang Lebaran, Ini Siasat Pemkot Jakpus Hadapi Lonjakan Pengunjung di Pasar Tanah Abang

Megapolitan
Mudik Lebaran Dilarang, Penumpang di Bandara Soekarno-Hatta Turun Drastis hingga 90 Persen

Mudik Lebaran Dilarang, Penumpang di Bandara Soekarno-Hatta Turun Drastis hingga 90 Persen

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X