Kompas.com - 14/11/2014, 15:03 WIB
|
EditorDesy Afrianti
DEPOK, KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan melakukan inspeksi mendadak di dua sekolah di Depok, Jawa Barat, Jumat (14/11/2014). Dalam sidak di dua lembaga pendidikan itu, Anies mengundang guru-guru sekolah untuk melakukan pertemuan.

Pada pertemuan pertamanya dengan guru-guru di SD Negeri 1 Sukmajaya, Anies mendengar keluhan guru soal kurikulum baru 2013. Guru mengeluh kesulitan untuk menerapkan sistem penilaian siswa secara deskripsi. [Baca: Cara Anies Ungkap Metode Mengajar yang "Salah" di Sekolah]

Penilaian ini membingungkan dan dirasa guru menyita banyak waktu. Anies bertanya guru memilih Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau kurikulum 2013. Secara kompak, para guru menjawab memilik kurikulum KTSP. "Kami lebih memilih kurikulum KTSP Pak," kata Entin (52), menjawab pertanyaan dan guru lainnya secara serempak.

Anies mendengar paparan dari para guru bahwa kurikulum baru saat ini, memang menguntungkan bagi siswa. Siswa menjadi lebih aktif di dalam kelas.

"Lebih baik untuk anak kurikulum 13. Hanya bagi guru penilaiannya jadi lebih sulit. Keberatannya di penilaiannya saja. Jabarannya banyak banget, Pak," ujar seorang guru lain.

Seorang guru bercerita, bagaimana dia memiliki total 67 orang siswa dari dua kelas. Ia mengaku kesulitan untuk memberikan penilaian deskripsi terhadap murid sebanyak itu.

Anies terlihat mengangguk dan mencatatnya di buku kecil. Keluhan yang sedikit berbeda didengar Anies di SMP Negeri 1 Depok. Pengajar di sana, suka dengan kurikulum 2013, karena dianggap beragam.

"Tetapi administratifnya lebih sulit, misalnya membuat LPP dan penilaian yang beragam. Kalau KTSP secara umum, penilaiannya lebih singkat," ujar Teti, salah satu guru Bahasa Inggris di SMP tersebut.

Anies mengaku mendengar semua masukan terkait kurikulum baru ini baik dari pengajar maupun murid. Guru dan murid menyatakan kurikulum 2013 terasa lebih berat. Ia mengatakan, akan me-review mengenai kurikulum itu.

Meski demikian, Anies menyatakan penerapan kurikulum itu hanya masalah waktu dan proses. Ia berjanji, akan tetap mengedepankan kepentingan siswa. "Karena ini menyangkut bukan soal ego, ini soal masa depan anak-anak kita. Kita lepaskan ego dan lain-lain," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tertarik Coba Jasa 'Sleep Call' agar Tak Kesepian? Simak Tarifnya

Tertarik Coba Jasa "Sleep Call" agar Tak Kesepian? Simak Tarifnya

Megapolitan
Jokowi Lempar Jaket G20, Relawan Heboh Berebutan

Jokowi Lempar Jaket G20, Relawan Heboh Berebutan

Megapolitan
Pelanggan Ini Pesan Layanan 'Sleep Call Setahun Penuh, Biaya Pelayanan Capai Rp 10 Juta

Pelanggan Ini Pesan Layanan "Sleep Call Setahun Penuh, Biaya Pelayanan Capai Rp 10 Juta

Megapolitan
9 Pohon di Jakarta Tumbang Imbas Hujan Deras dan Angin Kencang, Timpa Kabel PLN hingga Gereja

9 Pohon di Jakarta Tumbang Imbas Hujan Deras dan Angin Kencang, Timpa Kabel PLN hingga Gereja

Megapolitan
Pensiunan Polri yang Tabrak Lari Mahasiswa UI di Jagakarsa Dikenakan Wajib Lapor

Pensiunan Polri yang Tabrak Lari Mahasiswa UI di Jagakarsa Dikenakan Wajib Lapor

Megapolitan
16 Rumah Semi Permanen di Jelambar Roboh Akibat Hujan dan Angin Kencang

16 Rumah Semi Permanen di Jelambar Roboh Akibat Hujan dan Angin Kencang

Megapolitan
Bawa Kabur Uang Perusahaan Rp 531 Juta, Kurir J&T Express Langsung Beli Rumah di Bekasi

Bawa Kabur Uang Perusahaan Rp 531 Juta, Kurir J&T Express Langsung Beli Rumah di Bekasi

Megapolitan
KRL Anjlok di Stasiun Kampung Bandan, KCI Minta Maaf Perjalanan Terganggu

KRL Anjlok di Stasiun Kampung Bandan, KCI Minta Maaf Perjalanan Terganggu

Megapolitan
Kronologi Kurir J&T Express Bawa Kabur Uang Perusahaan Rp 531 Juta

Kronologi Kurir J&T Express Bawa Kabur Uang Perusahaan Rp 531 Juta

Megapolitan
Cerita Fahrija Bikin Jasa 'Sleep Call', Berawal Lihat Riset Tingginya Tingkat Kesepian...

Cerita Fahrija Bikin Jasa "Sleep Call", Berawal Lihat Riset Tingginya Tingkat Kesepian...

Megapolitan
Satpol PP Gerebek 4 Tempat Prostitusi di Depok, 28 Orang Diamankan

Satpol PP Gerebek 4 Tempat Prostitusi di Depok, 28 Orang Diamankan

Megapolitan
Kisah Natasha Jadi Talent Layanan Sleep Call, Hobi Ngobrol dan Dengar Curhat Bisa Jadi Cuan

Kisah Natasha Jadi Talent Layanan Sleep Call, Hobi Ngobrol dan Dengar Curhat Bisa Jadi Cuan

Megapolitan
Polisi Klaim Sediakan Kantong Parkir Buat Bus Relawan Jokowi agar Tak Bikin Macet Kawasan GBK

Polisi Klaim Sediakan Kantong Parkir Buat Bus Relawan Jokowi agar Tak Bikin Macet Kawasan GBK

Megapolitan
5 RT dan 1 Jalan di Jakarta Utara Tergenang Banjir Rob

5 RT dan 1 Jalan di Jakarta Utara Tergenang Banjir Rob

Megapolitan
Antrean Bus Penjemput Relawan Jokowi Bikin Macet, Pengendara Diimbau Hindari Kawasan GBK

Antrean Bus Penjemput Relawan Jokowi Bikin Macet, Pengendara Diimbau Hindari Kawasan GBK

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.