Kompas.com - 05/12/2014, 19:24 WIB
Ilustrasi anak-anak BARRY KUSUMAIlustrasi anak-anak
EditorPalupi Annisa Auliani

Selain kamera lubang jarum, siswa-siswa di sekolah gratis ini juga diajarkan bercocok tanam di halaman depan sekolah. Meski hanya di sebidang tanah, teknik yang digunakan telah modern, yaitu teknik fertigasi. Teknik ini singkatan dari fertilitas dan irigasi, bagian dari metode hidroponik yang menghemat tempat dan pupuk, tetapi hasilnya optimal.

Sekolah ini, kata Agustian, sengaja mengajarkan hal-hal itu agar siswa-siswa memiliki kemampuan yang bisa diandalkan. Dengan demikian, mereka kelak bisa mandiri dan keluar dari lingkaran kemiskinan. Pasalnya, orangtua para siswa ini sebagian besar hanya bekerja sebagai buruh, pembantu, atau pemulung.

Berkat relawan

Sekolah alam ini terletak sekitar 10 kilometer dari Kota Bekasi atau 27 km dari Jakarta, didirikan tahun 2006. Hingga saat ini, sekolah alam tersebut empat kali berpindah tempat.

”Awalnya kami menyewa sebuah rumah, lalu pindah ke rumah warga yang kosong karena kontraknya habis. Kami juga pernah bersekolah di mushala,” kata Fitri Yanhi, satu dari tujuh guru di sekolah ini.

Para guru itu digaji sebesar Rp 300.000 per bulan dari sumbangan donatur. Gaji tersebut baru mulai mereka dapatkan tahun 2010, atau empat tahun sejak sekolah berdiri.

Sekolah gratis ini memang berbeda dengan sekolah lain. Di luar pendanaan yang mengandalkan donatur tak tetap, setiap akhir pekan sejumlah relawan datang mengajarkan hal baru.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, sekolah ini terbuka bagi siapa saja. Setiap orang dengan beragam latar belakang agama, suku, dan ras bisa menjadi murid, guru, atau relawan.

Pada awal Desember mendatang, misalnya, sekolah ini akan kedatangan mahasiswa dari Universitas Katolik Daegu, Korea Selatan. ”Perbedaan itu pelengkap untuk memberikan perspektif yang luas terhadap kehidupan,” kata Agustian.

Bima (24), relawan yang telah ikut sejak 2013, tak pernah merasa ada masalah dengan perbedaan tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Sumber KOMPAS
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polisi Tunggu Hasil Analisa Sampel Bangunan SMA 96 Jakarta yang Roboh

Polisi Tunggu Hasil Analisa Sampel Bangunan SMA 96 Jakarta yang Roboh

Megapolitan
Rumah Lawan Covid-19 Tangsel Bersiap Hadapi Gelombang Ketiga

Rumah Lawan Covid-19 Tangsel Bersiap Hadapi Gelombang Ketiga

Megapolitan
Bandar Narkoba yang Tabrak Polisi Ditangkap di Kendal

Bandar Narkoba yang Tabrak Polisi Ditangkap di Kendal

Megapolitan
Mobil Putar Arah Bikin Macet di Jalan Palmerah Utara, Sudinhub Jakbar Akan Tutup dengan Barrier

Mobil Putar Arah Bikin Macet di Jalan Palmerah Utara, Sudinhub Jakbar Akan Tutup dengan Barrier

Megapolitan
Klarifikasi Jakpro soal Penentuan Lokasi Sirkuit Formula E Jakarta

Klarifikasi Jakpro soal Penentuan Lokasi Sirkuit Formula E Jakarta

Megapolitan
Bangunan di Atas Saluran Air Kemang Belum Seluruhnya Dibongkar, Camat Minta Pemilik Tambah Pekerja

Bangunan di Atas Saluran Air Kemang Belum Seluruhnya Dibongkar, Camat Minta Pemilik Tambah Pekerja

Megapolitan
Pemuda Pancasila Akui 16 Tersangka Ricuh Demo di DPR/MPR Anggota Aktif

Pemuda Pancasila Akui 16 Tersangka Ricuh Demo di DPR/MPR Anggota Aktif

Megapolitan
Anies Sebut Formula Pengupahan Saat Ini Tak Cocok untuk Jakarta

Anies Sebut Formula Pengupahan Saat Ini Tak Cocok untuk Jakarta

Megapolitan
PTM Terbatas di Depok Dimulai Lagi Besok

PTM Terbatas di Depok Dimulai Lagi Besok

Megapolitan
Klaster PTM Terbatas di Kota Bogor, 24 Orang Positif Covid-19

Klaster PTM Terbatas di Kota Bogor, 24 Orang Positif Covid-19

Megapolitan
Kasus Covid-19 di Depok Meningkat, Hanya 2 dari 30 Kelurahan yang Nihil Kasus

Kasus Covid-19 di Depok Meningkat, Hanya 2 dari 30 Kelurahan yang Nihil Kasus

Megapolitan
LPSK: Kasus Pelecehan Seksual terhadap Anak Naik Tajam, Diduga Efek Pandemi Covid-19

LPSK: Kasus Pelecehan Seksual terhadap Anak Naik Tajam, Diduga Efek Pandemi Covid-19

Megapolitan
Polisi yang Dianiaya Oknum Anggota Pemuda Pancasila Membaik, Segera Pulang

Polisi yang Dianiaya Oknum Anggota Pemuda Pancasila Membaik, Segera Pulang

Megapolitan
Pelecehan Seksual Anak di Depok Marak Terjadi, Tigor: Status Kota Layak Anak Harus Dicabut

Pelecehan Seksual Anak di Depok Marak Terjadi, Tigor: Status Kota Layak Anak Harus Dicabut

Megapolitan
Sisa Seorang Pasien Dirawat di Rumah Lawan Covid-19 Tangsel

Sisa Seorang Pasien Dirawat di Rumah Lawan Covid-19 Tangsel

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.