Polisi: Tawuran Bukan Lagi Kenakalan Remaja...

Kompas.com - 10/12/2014, 14:45 WIB
41 pelajar Sekolah Menengah Atas diamankan petugas Polsek Sukaraja karena hendak tawuran, Jumat (7/11/2014). Para pelajar itu pun kedapatan membawa senjata tajam jenis celurit. K97-14 KOMPAS.com/RAMDHAN TRIYADI BEMPAH41 pelajar Sekolah Menengah Atas diamankan petugas Polsek Sukaraja karena hendak tawuran, Jumat (7/11/2014). Para pelajar itu pun kedapatan membawa senjata tajam jenis celurit. K97-14
|
EditorHindra Liauw
JAKARTA, KOMPAS.com - Puluhan pelajar terlibat tawuran di atas rel kereta api Stasiun Universitas Pancasila, Jakarta Selatan. Mereka tak lagi membawa buku, melainkan senjata untuk melukai pelajar sekolah lain, seperti gir yang diikat dan diputar-putar untuk menyabet lawannya dan bambu panjang untuk memukul lawan.

Satu pelajar terlihat terjatuh dan senjata lawan mendarat di tubuhnya. Beruntung ia selamat ditolong teman-temannya.

Cerita tadi adalah cuplikan video tayangan berita yang dipaparkan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, dalam acara 'Workshop Peran Kepala Sekolah SMA/SMK Upaya Mencegah Tawuran Pelajar Akibat Provokasi Melalui Media Sosial", di Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Rabu (12/10/2014).

Melihat tayangan tersebut, sebagian peserta workshop yang merupakan kepala sekolah negeri dan swasta di Jakarta Selatan itu bersorak ngeri.

Rikwanto melanjutkan, tawuran yang masih terjadi hingga kini bukan lagi dianggap sebagai kenakalan remaja. "Kita lihat betapa yang terjadi itu seperti itu. Terus kita masih anggap kenakalan remaja?. Padahal, sudah masuk kategori kejahatan remaja," kata Rikwanto, Rabu siang.

Rikwanto mengatakan, penanganan tawuran memang membutuhkan kerja sama semua pihak. Ketika anak keluar dari rumah untuk bersekolah, orangtua beranggapan sekolah bertanggung jawab terhadap anak. Sementara sekolah, ketika tawuran terjadi di jalan, sekolah beralasan itu bukan tanggung jawab mereka lagi.

Rikwanto bertanya, jika demikian, siapa yang bertanggung jawab terhadap anak pada saat anak berada di luar sekolah.

"Polisi," ucap salah satu hadirin, yang disambut tawa.

Pihaknya mengakui bahwa kepolisian memang berperan melakukan pengamanan. Namun, tanpa peran pihak lainnya, hal tersebut menjadi sulit. Pasalnya, jumlah polisi terbatas untuk mengawasi secara keseluruhan.

"Siapa yang peduli terhadap mereka kalau bukan kita. Bayangkan kalau itu terjadi pada saudara kita, atau ade kita. Siapa yang peduli," ujarnya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dishub DKI: Boleh Berboncengan asal Tujuannya Sama dengan Si Pengendara Motor

Dishub DKI: Boleh Berboncengan asal Tujuannya Sama dengan Si Pengendara Motor

Megapolitan
Polisi Janji Kedepankan Cara Persuasif untuk Bubarkan Kerumunan

Polisi Janji Kedepankan Cara Persuasif untuk Bubarkan Kerumunan

Megapolitan
GBK Tutup Selama PSBB, Kendaraan Dilarang Masuk

GBK Tutup Selama PSBB, Kendaraan Dilarang Masuk

Megapolitan
Jualan Online Berjalan seperti Biasa Saat PSBB, Pelaku Bisnis Masih Khawatir Kena Sanksi

Jualan Online Berjalan seperti Biasa Saat PSBB, Pelaku Bisnis Masih Khawatir Kena Sanksi

Megapolitan
DKI Jakarta Efektif PSBB, Ini Langkah Grab agar Mitra Terus Beroperasional

DKI Jakarta Efektif PSBB, Ini Langkah Grab agar Mitra Terus Beroperasional

Megapolitan
PSBB DKI Jakarta, Pengendara Sepeda Motor Pribadi Boleh Berboncengan

PSBB DKI Jakarta, Pengendara Sepeda Motor Pribadi Boleh Berboncengan

Megapolitan
Kaum Miskin Kota Sekarat, Mati karena Corona atau Mati Kelaparan

Kaum Miskin Kota Sekarat, Mati karena Corona atau Mati Kelaparan

Megapolitan
Sektor Usaha yang Dikecualikan Selama PSBB Wajib Batasi Aktivitas Kerja Pegawainya

Sektor Usaha yang Dikecualikan Selama PSBB Wajib Batasi Aktivitas Kerja Pegawainya

Megapolitan
[UPDATE] 10 April, Pasien Positif Covid-19 di Jakarta Tembus 1.719 Orang

[UPDATE] 10 April, Pasien Positif Covid-19 di Jakarta Tembus 1.719 Orang

Megapolitan
PSBB Jakarta, Barang Nonkebutuhan Pokok Tetap Dapat Diakses di Marketplace

PSBB Jakarta, Barang Nonkebutuhan Pokok Tetap Dapat Diakses di Marketplace

Megapolitan
Anies Terbitkan Pergub soal PSBB, Dua Kegiatan Ini Masih Diperbolehkan

Anies Terbitkan Pergub soal PSBB, Dua Kegiatan Ini Masih Diperbolehkan

Megapolitan
Ingat, Perusahaan yang Masih Diizinkan Beroperasi Harus Selalu Bersih hingga Dekat dengan Fasilitas Kesehatan

Ingat, Perusahaan yang Masih Diizinkan Beroperasi Harus Selalu Bersih hingga Dekat dengan Fasilitas Kesehatan

Megapolitan
Diizinkan Tetap Buka, Beberapa Poin Harus Diperhatikan Pengelola Penyedia Makan di Masa PSBB

Diizinkan Tetap Buka, Beberapa Poin Harus Diperhatikan Pengelola Penyedia Makan di Masa PSBB

Megapolitan
Jumlah Tempat Tidur Pasien Covid-19 dan PDP di Depok Tak Memadai

Jumlah Tempat Tidur Pasien Covid-19 dan PDP di Depok Tak Memadai

Megapolitan
Denda Rp 100 Juta atau 1 Tahun Penjara bagi Pelanggar PSBB DKI Jakarta

Denda Rp 100 Juta atau 1 Tahun Penjara bagi Pelanggar PSBB DKI Jakarta

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X