Cuaca Panas akibat Dominasi Angin dari Belahan Bumi Selatan

Kompas.com - 16/01/2015, 19:05 WIB
Para pengendara sepeda motor nekat menerobos genangan air di pertigaan Hek, Kramatjati, Jakarta Timur, Senin (24/11/2014). KOMPAS.COM/ROBERTUS BELLARMINUSPara pengendara sepeda motor nekat menerobos genangan air di pertigaan Hek, Kramatjati, Jakarta Timur, Senin (24/11/2014).
EditorHindra Liauw
JAKARTA, KOMPAS.com — Warga Jakarta dan sekitar- nya merasakan kondisi cuaca yang berganti-ganti, dari hujan hampir sepanjang hari menjadi panas terik. Padahal, secara umum, wilayah Indonesia bulan ini sedang dalam puncak musim hujan. Penyebabnya adalah angin dari belahan bumi selatan yang kering dominan dan mendesak angin dari belahan bumi utara yang basah.

Hari Kamis (15/1), misalnya, cuaca cerah dan tidak ada hujan di wilayah Jakarta. Sementara itu, hujan turun beberapa kali dengan berbagai intensitas dalam sehari setidaknya pada Senin hingga Rabu sebelumnya.

”Tidak hanya di Jakarta dan sekitarnya. Dampak cuaca panas juga terjadi di Jawa ke arah timur, hingga Bali dan Nusa Tenggara,” kata Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mulyono R Prabowo di Jakarta, Jumat.

Menurut Mulyono, angin dari belahan bumi selatan lebih kuat sehingga mendesak angin dari belahan bumi utara untuk bergeser lebih ke utara di garis pertemuan dua massa udara (intertropical convergence zone). Angin belahan bumi selatan berembus dari barat ke timur.


Pusat tekanan rendah

Pemicu kondisi itu adalah terdapat pusat tekanan tinggi di lautan sebelah barat Australia dan pusat tekanan rendah di Darwin, Australia. Akibatnya, angin dari barat Australia bergerak secara kuat ke arah pusat tekanan rendah dan menimbulkan angin yang mencapai Jawa hingga Nusa Tenggara.

Kecepatan angin mencapai 25-30 knot, sedangkan kecepatan angin rata-rata 15 knot. Bahkan, lanjut Mulyono, kondisi cuaca panas sempat terjadi seminggu di Nusa Tenggara karena begitu kuatnya angin dari belahan bumi selatan. ”Karena angin bersifat kering, awan hujan sulit terbentuk. Suhu menjadi sekitar 31 derajat celsius, sedangkan saat hujan berkisar 27-28 derajat celsius,” ujarnya.

Namun, kondisi tersebut tidak terjadi sepanjang hari. Akibatnya, cuaca panas terik bisa berganti ke hujan dalam sehari dengan perbedaan suhu yang signifikan. Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik BMKG A Fachri Radjab mengatakan, perbedaan cuaca bisa terjadi pada musim apa pun mengingat adanya variabilitas cuaca.

Berdasarkan pantauan, Jumat, pusat tekanan tinggi di lautan barat daya Australia bertekanan udara 1.025 milibar, sedangkan pusat tekanan rendah di Darwin 1.005 milibar. Menurut Fachri, angin dari belahan bumi selatan kemungkinan tidak dominan lagi mulai Sabtu sehingga potensi hujan lebih besar. (J Galuh Bimantara)

JAKARTA, KOMPAS — Warga Jakarta dan sekitar- nya merasakan kondisi cuaca yang berganti-ganti, dari hujan hampir sepanjang hari menjadi panas terik. Padahal, secara umum, wilayah Indonesia bulan ini sedang dalam puncak musim hujan. Penyebabnya adalah angin dari belahan bumi selatan yang kering dominan dan mendesak angin dari belahan bumi utara yang basah.

Hari Kamis (15/1), misalnya, cuaca cerah dan tidak ada hujan di wilayah Jakarta. Sementara itu, hujan turun beberapa kali dengan berbagai intensitas dalam sehari setidaknya pada Senin hingga Rabu sebelumnya.

”Tidak hanya di Jakarta dan sekitarnya. Dampak cuaca panas juga terjadi di Jawa ke arah timur, hingga Bali dan Nusa Tenggara,” kata Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mulyono R Prabowo di Jakarta, Jumat.

Menurut Mulyono, angin dari belahan bumi selatan lebih kuat sehingga mendesak angin dari belahan bumi utara untuk
bergeser lebih ke utara di garis pertemuan dua massa udara (intertropical convergence zone). Angin belahan bumi selatan berembus dari barat ke timur.

Pusat tekanan rendah

Pemicu kondisi itu adalah terdapat pusat tekanan tinggi di lautan sebelah barat Australia dan pusat tekanan rendah di Darwin, Australia. Akibatnya, angin dari barat Australia bergerak secara kuat ke arah pusat tekanan rendah dan menimbulkan angin yang mencapai Jawa hingga Nusa Tenggara.

Kecepatan angin mencapai 25-30 knot, sedangkan kecepatan angin rata-rata 15 knot. Bahkan, lanjut Mulyono, kondisi cuaca panas sempat terjadi seminggu di Nusa Tenggara karena begitu kuatnya angin dari belahan bumi selatan. ”Karena angin bersifat kering, awan hujan sulit terbentuk. Suhu menjadi sekitar 31 derajat celsius, sedangkan saat hujan berkisar 27-28 derajat celsius,” ujarnya.

Namun, kondisi tersebut tidak terjadi sepanjang hari. Akibatnya, cuaca panas terik bisa berganti ke hujan dalam sehari dengan perbedaan suhu yang signifikan. Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik BMKG A Fachri Radjab mengatakan, perbedaan cuaca bisa terjadi pada musim apa pun mengingat adanya variabilitas cuaca.

Berdasarkan pantauan, Jumat, pusat tekanan tinggi di lautan barat daya Australia bertekanan udara 1.025 milibar, sedangkan pusat tekanan rendah di Darwin 1.005 milibar. Menurut Fachri, angin dari belahan bumi selatan kemungkinan tidak dominan lagi mulai Sabtu sehingga potensi hujan lebih besar.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mini Bus Menyerempet Truk di Kemayoran, Satu Orang Tewas

Mini Bus Menyerempet Truk di Kemayoran, Satu Orang Tewas

Megapolitan
Suara Letusan Terdengar 5 Kali Usai Laga Persija Vs PSIS di Bekasi

Suara Letusan Terdengar 5 Kali Usai Laga Persija Vs PSIS di Bekasi

Megapolitan
Pemprov DKI Akan Gelar Lenong Betawi Secara Rutin di Balai Kota

Pemprov DKI Akan Gelar Lenong Betawi Secara Rutin di Balai Kota

Megapolitan
3 Rumah Sakit Tangani Korban Kecelakaan Maut Tol Jagorawi

3 Rumah Sakit Tangani Korban Kecelakaan Maut Tol Jagorawi

Megapolitan
Anies: Masyarakat Betawi di Luar Harus Jadi Tamu Memesona...

Anies: Masyarakat Betawi di Luar Harus Jadi Tamu Memesona...

Megapolitan
Pengamat: Jalan Berbayar Lebih Efektif Kurangi Macet Ketimbang Ganjil Genap

Pengamat: Jalan Berbayar Lebih Efektif Kurangi Macet Ketimbang Ganjil Genap

Megapolitan
Kata Pengamat soal 'Keanehan' Trotoar Kalimalang yang Berada di Tengah Jalan

Kata Pengamat soal "Keanehan" Trotoar Kalimalang yang Berada di Tengah Jalan

Megapolitan
Terpapar Asap Karhutla, Kondisi Udara di Palembang Masuk ke Level Berbahaya

Terpapar Asap Karhutla, Kondisi Udara di Palembang Masuk ke Level Berbahaya

Megapolitan
Rumah Tinggal Terbakar akibat Regulator Tabung Gas Bocor

Rumah Tinggal Terbakar akibat Regulator Tabung Gas Bocor

Megapolitan
Ban Pecah Diduga Penyebab Kecelakaan Maut di Tol Jagorawi

Ban Pecah Diduga Penyebab Kecelakaan Maut di Tol Jagorawi

Megapolitan
Anies Perintahkan Wali Kota Jaktim Perbaiki Trotoar Kalimalang yang Berada di Tengah Jalan

Anies Perintahkan Wali Kota Jaktim Perbaiki Trotoar Kalimalang yang Berada di Tengah Jalan

Megapolitan
Pengendara Keluhkan Trotoar Kalimalang yang Berada di Tengah Jalan

Pengendara Keluhkan Trotoar Kalimalang yang Berada di Tengah Jalan

Megapolitan
Pakai Masker, Warga Bentangkan Spanduk 'Riau Dibakar Bukan Terbakar' di CFD

Pakai Masker, Warga Bentangkan Spanduk "Riau Dibakar Bukan Terbakar" di CFD

Megapolitan
Bunga Langka Rafflesia Patma Koleksi Kebun Raya Bogor Kembali Mekar

Bunga Langka Rafflesia Patma Koleksi Kebun Raya Bogor Kembali Mekar

Megapolitan
DKI Siapkan Jalur Sepeda, Anies Targetkan Rampung Akhir 2019

DKI Siapkan Jalur Sepeda, Anies Targetkan Rampung Akhir 2019

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X