Wakil Ketua DPRD DKI: Jangan Jadikan Pecat-memecat Tradisi yang Mudah

Kompas.com - 20/04/2015, 16:40 WIB
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dengan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Triwisaksana saat menghadiri musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang), di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2015). Kompas.com/Kurnia Sari AzizaGubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dengan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Triwisaksana saat menghadiri musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang), di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2015).
Penulis Jessi Carina
|
EditorKistyarini
JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua DPRD DKI Triwisaksana angkat bicara soal Kepala SMAN 3 Setiabudi, Retno Listyarti, yang akan dicopot dari jabatannya oleh Kepala Dinas Pendidikan DKI Arie Budhiman.

"Kalau menurut saya tidak perlu dipecat, tapi berikanlah teguran. Karena pecat-memecat ini tidak boleh dijadikan tradisi yang mudah. Pasti ada alasan kenapa kepsek meninggalkan sekolah saat ujian," ujarnya di gedung DPRD DKI, Senin (20/4/2015).

Pria yang akrab disapa Sani menekankan pemecatan seseorang tidak boleh dilakukan secara emosional. Dinas Pendidikan DKI harus mendengarkan terlebih dahulu alasan Retno meninggalkan sekolah ketika ujian.

Retno sendiri merupakan Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Sani mengatakan bisa saja alasan Retno meninggalkan sekolah berkaitan dengan tanggung jawabnya yang lain itu.


"Bisa saja posisinya mengharuskan dia ada di tempat lain juga pada saat bersamaan. Kalau memecat orang dalam satu jabatan tertentu itu tidak boleh secara emosional. Apalagi tidak ada peraturan perundang undangan yang dilanggar," ujar Sani.

Sani menambahkan Dinas Pendidikan DKI juga harus mengkaji apakah kepergian Retno ketika ujian membawa persoalan besar bagi sekolahnya. Jika tidak, menurut Sani, Retno cukup diberi teguran saja.

Sebelumnya, Retno dituding keluyuran saat SMAN 3 menggelar ujian nasional (UN), Selasa (14/4/2015) lalu. Saat itu, Retno justru menyambangi SMAN 2, Olimo, Jakarta Barat, yang sedang ditinjau oleh Presiden Joko Widodo, Basuki, dan Mendikbud Anies Baswedan.

Retno menyatakan siap diberi sanksi jika salah. Namun, ia tidak merasa melakukan kesalahan karena diwawancarai sebuah stasiun televisi. "Selain kepala sekolah, saya juga petinggi organisasi guru. Saya diwawancarai tentang kebocoran soal UN (ujian nasional). Itu peran saya sebagai petinggi organisasi guru," ujar Retno

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X