Ahok Resmikan Gedung Teknologi Pengolahan Lumpur Aetra - Kompas.com
BrandzView

Ahok Resmikan Gedung Teknologi Pengolahan Lumpur Aetra

Kompas.com - 12/05/2015, 11:43 WIB
Kompas.com/Kurnia Sari Aziza ?(Dari kiri ke kanan) Direktur Utama PDAM Jaya Sri Widayanto Kaderi (pakai baju batik biru tua), Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Presiden Direktur PT Aetra Air Jakarta Mohamad Selim, dan Wali Kota Jakarta Timur Bambang Musyawardhana, saat meresmikan gedung teknologi pengolahan lumpur, di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pulogadung, Jakarta, Selasa (12/5/2015).
JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meresmikan teknologi pengolahan lumpur terbesar di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jaya seluruh Indonesia atau Decanter oleh PT Aetra Air Jakarta, Selasa (12/5/2015) pagi.

Dalam sambutannya, Presiden Direktur Aetra Mohamad Selim mengatakan pihaknya melakukan investasi tahun 2015 seperti yang tertuang dalam master agreement sebesar Rp 196 miliar. 

"Investasi itu merupakan komposisi yang mayoritas investasinya untuk perpipaan dan menurunkan tingkat kebocoran air. Sementara Rp 28 miliar diantaranya dikhususkan untuk mengembangkan teknologi pengolahan lumpur Aetra di Pulogadung dan Buaran," kata Selim, di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pulogadung, Jalan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. 

Setelah dilakukan lelang, pihaknya dapat menghemat Rp 5,5 miliar. Penghematan itu, kata dia, digunakan untuk pengembangan daerah perpipaan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, awalnya Decanter ini dipergunakan untuk pengolahan perminyakan sawit. Setelah dilakukan inovasi, Decanter dapat memisahkan air lumpur dengan air bersih.

Dalam waktu satu jam, alat ini mampu menghasilkan 1,6 ton lumpur. Lumpur tersebut dapat diolah menjadi batu bata. "Pertama kami ujicoba di Buaran dan setelah berhasil, kami pasang juga di Pulogadung. Camat dan wali kota bisa memanfaatkan barang itu, limbah ini banyak skali, kalau 10 jam mesinnya dipakai bisa dapat lumpur 16 ton, bisa dimanfaatkan," kata Selim.

Sebuah mesin decanter telah beroperasi di IPA Buaran dan akhir tahun 2015 akan ditambah satu mesin lagi. Sementara mesin decanter di IPA Pulogadung mulai beroperasi awal tahun 2015 dan mesin kedua beroperasi di penghujung tahun 2016. 

Dalam sambutannya, Basuki menegaskan warga DKI harus mendapat pasokan air bersih. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, lanjut dia, terjadi perjanjian kerja sama (PKS) antara PDAM Jaya dengan dua operator air (Palyja dan Aetra).

Di dalam PKS itu terdapat aturan mengenai besaran imbalan yang harus dibayarkan PDAM Jaya kepada operator. PDAM Jaya sebagai BUMD DKI wajib membayar Palyja sebesar Rp 7.000 per meter kubik, sementara tarif air yang dibayarkan warga kepada PDAM Jaya hanya Rp 1.000. Maka, kekurangan sebesar Rp 6.000 menjadi tanggungan PDAM Jaya.

Kontrak perjanjian kedua operator air tersebut tidak menguntungkan Pemprov DKI. Pasalnya, dalam kontrak tersebut, operator pengelola air hanya perlu membayar denda Rp 80 juta per 1 persen dari selisih target yang ditetapkan.

"Kenyataannya sekarang perjanjian itu enggak bisa dipenuhi, kebocoran air sampai 40 persen, mereka enggak bisa memenuhi target MDGs," kata Basuki.

"Sekarang kami sedikit melanggar perjanjian, kalau operator masih belum bisa menanggulangi kebocoran, kami bikin (IPA) sendiri saja. Sekali lagi, terimakasih dengan mengucap syukur pada Tuhan Yang Maha Esa, maka gedung Decanter di Pulogadung, secara resmi saya resmikan," kata Basuki.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorKistyarini

Terkini Lainnya

Meningkatkan Daya Saing Global lewat Budaya Penelitian di SMA

Meningkatkan Daya Saing Global lewat Budaya Penelitian di SMA

Edukasi
Kanada Bakal Ampuni Terpidana Kasus Kepemilikan Ganja

Kanada Bakal Ampuni Terpidana Kasus Kepemilikan Ganja

Internasional
Kebakaran Gunung Merbabu Mengarah ke Pemukiman Penduduk

Kebakaran Gunung Merbabu Mengarah ke Pemukiman Penduduk

Regional
Presiden Bagikan 10.000 Sertifikat Tanah untuk Warga Jakarta

Presiden Bagikan 10.000 Sertifikat Tanah untuk Warga Jakarta

Megapolitan
Langgar Perjanjian, 16 Truk Sampah DKI Dihentikan Dishub Kota Bekasi

Langgar Perjanjian, 16 Truk Sampah DKI Dihentikan Dishub Kota Bekasi

Megapolitan
BERITA FOTO: Melihat Lubang Bekas Peluru di Ruang Kerja Anggota DPR

BERITA FOTO: Melihat Lubang Bekas Peluru di Ruang Kerja Anggota DPR

Nasional
3 Fakta Kunjungan Ketua KPK di Magetan, Makna Indonesia Raya 3 Stanza hingga Hadiah bagi Pelapor

3 Fakta Kunjungan Ketua KPK di Magetan, Makna Indonesia Raya 3 Stanza hingga Hadiah bagi Pelapor

Regional
Pemprov DKI Tambah 50 Unit Sepeda 'Bike Sharing' di Monas

Pemprov DKI Tambah 50 Unit Sepeda "Bike Sharing" di Monas

Megapolitan
Anak Yatim Piatu Korban Gempa Palu Menuai Simpati, WNI di Singapura Ingin Mengadosi

Anak Yatim Piatu Korban Gempa Palu Menuai Simpati, WNI di Singapura Ingin Mengadosi

Regional
Gandakan Uang seperti Dimas Kanjeng, Pemuda di Surabaya Ditangkap

Gandakan Uang seperti Dimas Kanjeng, Pemuda di Surabaya Ditangkap

Regional
Rusun KS Tubun untuk Warga Berpenghasilan Rendah, Tarifnya Rp 1,5 Juta

Rusun KS Tubun untuk Warga Berpenghasilan Rendah, Tarifnya Rp 1,5 Juta

Megapolitan
Di Jalur Sarangan, 4 Kecelakaan Berujung Maut Terjadi dalam Sebulan

Di Jalur Sarangan, 4 Kecelakaan Berujung Maut Terjadi dalam Sebulan

Regional
Ruangannya Kena Peluru Nyasar, Politisi PAN Minta Polisi Usut Tuntas

Ruangannya Kena Peluru Nyasar, Politisi PAN Minta Polisi Usut Tuntas

Nasional
Penataan Jalan Pangeran Antasari, 'U-turn' Ditutup dan Jalan Dilebarkan

Penataan Jalan Pangeran Antasari, "U-turn" Ditutup dan Jalan Dilebarkan

Megapolitan
Musim Kering, Waduk dan Situ di Jawa Barat Hentikan Pengairan Sawah

Musim Kering, Waduk dan Situ di Jawa Barat Hentikan Pengairan Sawah

Regional