Di Eropa, Zat Kimia yang Ditemukan dalam Beras Sudah Dilarang

Kompas.com - 21/05/2015, 14:30 WIB
BEKASI, KOMPAS.com — Zat polyvinyl chloride yang terkandung dalam beras plastik di Bekasi sudah dilarang penggunaannya di negara lain. Bahkan, untuk mainan anak-anak pun sudah tidak diperbolehkan.

"Di beberapa negara, kayak di Eropa, senyawa ini enggak boleh digunakan sama sekali. Misalnya pada mainan anak-anak yang ada plastiknya," ujar Kepala Bagian Pengujian Laboratorium PT Sucofindo, Adisam, di Kantor Wali Kota Bekasi, Kamis (21/5/2015).

Adisam mengatakan, hal itu menunjukkan bahwa penggunaannya saja sudah tidak layak untuk kegiatan sehari-hari sehingga mengonsumsi zat kimia tersebut akan sangat berbahaya bagi tubuh. Adisam berharap pemerintah bisa segera mengatur penggunaan zat polyvinyl chloride di Indonesia.

"Semoga regulasi kita cepat mengatur itu," ujar Adisam.

Beras plastik di Bekasi disebut positif mengandung polyvinyl chloride yang merupakan bahan baku pipa, kabel, dan lantai. Beras itu juga mengandung plastiser plastik seperti benzyl butyl phthalate (BBT), Bis 2-ethylhexyl phthalate (DEHP), dan diisononyl phthalate (DNIP). Ketiga bahan tersebut merupakan pelembut yang biasa digunakan bersamaan dengan polyvynil chloride. Tujuannya ialah agar pipa atau kabel mudah dibentuk.

Informasi mengenai beras plastik mencuat setelah salah seorang penjual bubur di Bekasi, Dewi Septiani, mengaku membeli beras bersintetis. Dewi mengaku membeli enam liter beras yang diduga bercampur dengan beras plastik. Beras tersebut dia beli di salah satu toko langganannya. Dewi memang biasa membeli beras dengan jenis yang sama di toko tersebut seharga Rp 8.000 per liter. Keanehan dari beras tersebut dia rasakan setelah mengolahnya menjadi bubur.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorAna Shofiana Syatiri
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X