Biaya Proyek MRT Membengkak karena Penggunaan Baja Anti Gempa

Kompas.com - 04/06/2015, 18:58 WIB
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan panjang di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (13/8/2014). Kemacetan terjadi karena imbas dari pengerjaan proyek mass rapid transit (MRT) sepanjang 4,5 kilometer yang diperkirakan akan terjadi hingga lima tahun ke depan. WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA ANGGA BHAGYA NUGRAHASejumlah kendaraan terjebak kemacetan panjang di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (13/8/2014). Kemacetan terjadi karena imbas dari pengerjaan proyek mass rapid transit (MRT) sepanjang 4,5 kilometer yang diperkirakan akan terjadi hingga lima tahun ke depan. WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorHindra Liauw
JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Muhammad Nasyir mengatakan, ada beberapa hal yang menyebabkan pembengkakan biaya pembangunan mass rapid transit (MRT) di Jakarta. Salah satunya yang terkait dengan izin mendirikan bangunan.

Menurut Nasyir, ada peraturan baru terkait pendirian bangunan yang menggunakan besi baja. Nasir menjelaskan, peraturan baru ini meminta agar konstruksi besi baja yang digunakan aman terhadap gempa, yakni BJTS 40.

"Kita baru tahu ada perubahan peraturan menggunakan baja. BJTS 50 tidak boleh lagi digunakan karena terlalu keras. Kalau ada gempa, bahaya. Peraturan mengenai muatan gempa, desain sismik ini kalau tidak kita ikuti, kita tidak dapat IMB," kata Nasyir seusai menghadiri seminar tentang pembangunan MRT Jakarta, di Jakarta, Kamis (4/6/2015).

Menurut Nasir, perubahan terhadap penggunaan baja ini yang kemudian membuat PT MRT harus mengganti baja yang sebelumnya telah dibeli dan hampir digunakan. Akibatnya, biaya pun membengkak. Namun, ia menolak mengomentari mengenai pihak yang nantinya akan menanggung penambahan biaya itu.

"Kita harus lihat dampak itu. Ada tambahan biaya. Tapi ini masih dibahas PT MRT, Pemerintah DKI dan Kementerian Perhubungan," ujar dia.

Biaya pembangunan MRT sendiri terancam membengkak sebesar Rp 1,3 triliun. Besaran tersebut didapat dari hasil penghitungan konsultan Jepang yang membawahi proyek pembangunan MRT tahap pertama.

Selain perubahan terhadap standar penggunaan besi baja, penyebab lainnya adalah terkait tak kunjung tuntasnya pembebasan lahan di sejumlah tempat. Hal ini menyebabkan kontraktor proyek harus mengalami kerugian karena tidak bisa mengakses lokasi pekerjaannya. Dengan demikian, mau tidak mau harus dilakukan perpanjangan kontrak.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Penyelam Berburu Petunjuk Korban Sriwijaya Air: Dari Rosario, Cincin, Dompet, hingga Ponsel

Penyelam Berburu Petunjuk Korban Sriwijaya Air: Dari Rosario, Cincin, Dompet, hingga Ponsel

Megapolitan
Seluruh Kelurahan di Jakarta Miliki Kasus Aktif Covid-19, Tertinggi di Tugu Utara

Seluruh Kelurahan di Jakarta Miliki Kasus Aktif Covid-19, Tertinggi di Tugu Utara

Megapolitan
Satpol PP DKI Catat 1.056 Pelanggaran PSBB Saat Akhir Pekan

Satpol PP DKI Catat 1.056 Pelanggaran PSBB Saat Akhir Pekan

Megapolitan
UPDATE 17 Januari: Bertambah 3.395 Kasus, Covid-19 di Jakarta Kini 227.365

UPDATE 17 Januari: Bertambah 3.395 Kasus, Covid-19 di Jakarta Kini 227.365

Megapolitan
Kisah Penggali Kubur Jenazah Covid-19, Antara Rasa Khawatir dan Dedikasi Kerja

Kisah Penggali Kubur Jenazah Covid-19, Antara Rasa Khawatir dan Dedikasi Kerja

Megapolitan
Kematian Akibat Covid-19 di Jakarta Meningkat, Diduga Akibat Nakes yang Mulai Kelelahan

Kematian Akibat Covid-19 di Jakarta Meningkat, Diduga Akibat Nakes yang Mulai Kelelahan

Megapolitan
Lokasi Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19 di TPU Srengseng Sawah Segera Penuh

Lokasi Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19 di TPU Srengseng Sawah Segera Penuh

Megapolitan
Kekurangan Personil, Jadi Alasan Pelaku Usaha Masih Melanggar PPKM di Kecamatan Cipondoh

Kekurangan Personil, Jadi Alasan Pelaku Usaha Masih Melanggar PPKM di Kecamatan Cipondoh

Megapolitan
Kisah Para Pahlawan Dibalik Evakuasi Sriwijaya Air SJ 182. . .

Kisah Para Pahlawan Dibalik Evakuasi Sriwijaya Air SJ 182. . .

Megapolitan
Jakarta Krisis Covid-19, Pimpinan Komisi E Minta Anies Blusukan Cegah Penularan

Jakarta Krisis Covid-19, Pimpinan Komisi E Minta Anies Blusukan Cegah Penularan

Megapolitan
Wali Kota Tangerang Tak Merasa Efek Samping Setelah Divaksin Covid-19

Wali Kota Tangerang Tak Merasa Efek Samping Setelah Divaksin Covid-19

Megapolitan
Sopir Ojol Dikeroyok Pengendara Mobil di Kebayoran Lama

Sopir Ojol Dikeroyok Pengendara Mobil di Kebayoran Lama

Megapolitan
Melanggar PPKM, Kafe dan Tempat Fitness di Cipondoh Ditutup

Melanggar PPKM, Kafe dan Tempat Fitness di Cipondoh Ditutup

Megapolitan
Pengendara Motor Kebutan-kebutan di Sekitar Istana, Diberhentikan, Kena Sanksi Push Up

Pengendara Motor Kebutan-kebutan di Sekitar Istana, Diberhentikan, Kena Sanksi Push Up

Megapolitan
Terapkan PSBB, Jakarta Keluar dari 10 Besar Kota Termacet Dunia

Terapkan PSBB, Jakarta Keluar dari 10 Besar Kota Termacet Dunia

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X