Hindari Konflik, Ahok Ajak Tukang Ojek Bergabung di Go-Jek

Kompas.com - 11/06/2015, 14:45 WIB
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (kanan) bersama CEO PT Go-Jek Indonesia Nadiem Makarim, di Balai Kota, Selasa (17/2/2015). Kompas.com/Kurnia Sari AzizaGubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (kanan) bersama CEO PT Go-Jek Indonesia Nadiem Makarim, di Balai Kota, Selasa (17/2/2015).
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com
- Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku bingung dengan tindakan para tukang ojek yang mengancam sesamanya yang tergabung di Go-Jek.

Ancaman itu tidak seharusnya terjadi. Sebab, program Go-Jek diciptakan untuk merapikan sistem tukang ojek yang ada selama ini. 

"Justru Go-Jek itu menolong tukang ojek lebih efisien lagi. Kamu bayangin saja kalau kamu harus mangkal, nunggu di mana-mana dan kalau siang, sepi kamu masih tungguin penumpang. Kalau kamu gabung Go-Jek, kamu bisa menunggu di rumah sambil urusi anak dan ngurus yang lainnya," kata Basuki, di Balai Kota, Kamis (11/6/2015). 

Tak hanya itu, lanjut dia, tukang ojek yang bergabung dengan Go-Jek bisa mendapat pekerjaan lainnya seperti layanan delivery makanan atau kurir barang. Menurut Basuki, ide Go-Jek ini merupakan ide yang baik untuk mengkoordinir tukang ojek yang tersebar di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Tak hanya itu, apabila tukang ojek bergabung dengan Go-Jek juga diberikan asuransi, helm, jaket, serta diberi pelatihan bagaimana mengemudikan motor dan parkir dengan baik. Sehingga, ia mengajak para tukang ojek untuk bergabung dengan Go-Jek.

"Kalau memang menurut kamu ada sistem lain yang lebih baik dari Go-Jek, silakan bikin saja. Kalau misalnya kamu nih laki-laki dipecat dari pekerjaan kamu, mau jadi apa? Kalau punya motor, ngojek deh, bisa lebih untung buat kamu," kata Basuki.

Sebuah postingan beredar melalui Path dan Facebook dari pengguna bernama Boris Anggoro. Ia menceritakan ihwal kejadian tidak mengenakkan saat ia memesan layanan Go-Jek.

Menurut kesaksian Boris, Go-jek yang ia pesan membatalkan pesanannya setelah dikejar-kejar oleh tukang ojek yang mangkal di daerah Kuningan.

Pada mulanya, Boris menyangka bahwa pengendara Go-jek yang ia pesan hanya bercanda. Namun, setelah Boris melakukan pemesanan lagi melalui aplikasi Go-jek, pengendara kedua juga mengalami hal serupa, yaitu diancam oleh tukang ojek yang mangkal.

"Abangnya dateng dan kita siap2 mau berangkat. Ga lama ada abang ojek yang mangkal di kantor nyamperin dan dorong abang ojek yg mangkal maki-maki gw (saya) 'Lu nyari duit di sini, berak di sini, ga bagi-bagi rejeki sama orang sini,'" demikian tulis Boris. 

Go-jek adalah layanan jasa angkutan sepeda motor yang pengendaranya dibekali dengan smartphone untuk menerima pesanan melalui sebuah aplikasi. Metode pemesanan ojek melalui smartphone ini baru naik daun di Jakarta.

Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sopir Taksi Online Ditemukan Tergeletak di Jalanan dengan Luka di Leher

Sopir Taksi Online Ditemukan Tergeletak di Jalanan dengan Luka di Leher

Megapolitan
Sejak Juni, AirNav Catat Peningkatan Pergerakan Pesawat 2 Kali Lipat

Sejak Juni, AirNav Catat Peningkatan Pergerakan Pesawat 2 Kali Lipat

Megapolitan
Razia Indekost dan Kontrakan, Satpol PP Tangsel Jaring 5 Pasangan Bukan Suami Istri

Razia Indekost dan Kontrakan, Satpol PP Tangsel Jaring 5 Pasangan Bukan Suami Istri

Megapolitan
Tolak Reklamasi Ancol, Forum Nelayan: Kami Akan Melawan!

Tolak Reklamasi Ancol, Forum Nelayan: Kami Akan Melawan!

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Survei Sebut 77 Persen Warga Jakarta Yakin Tak Kena Covid-19 | Ledakan di Menteng

[POPULER JABODETABEK] Survei Sebut 77 Persen Warga Jakarta Yakin Tak Kena Covid-19 | Ledakan di Menteng

Megapolitan
Diterima PPDB Jakarta, Segera Lapor Diri hingga Pukul 16.00 WIB

Diterima PPDB Jakarta, Segera Lapor Diri hingga Pukul 16.00 WIB

Megapolitan
Diterima PPDB Kota Bekasi, Begini Cara Daftar Ulang ke Sekolah Tujuan secara Online

Diterima PPDB Kota Bekasi, Begini Cara Daftar Ulang ke Sekolah Tujuan secara Online

Megapolitan
UPDATE 5 Juli: Total 285 Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Bekasi

UPDATE 5 Juli: Total 285 Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Bekasi

Megapolitan
Senin Pagi, Antrean Penumpang KRL Kembali Mengular di Stasiun Bogor

Senin Pagi, Antrean Penumpang KRL Kembali Mengular di Stasiun Bogor

Megapolitan
Senin, Transjakarta Uji Coba Bus Listrik Balai Kota-Blok M

Senin, Transjakarta Uji Coba Bus Listrik Balai Kota-Blok M

Megapolitan
Fakta Kebijakan ASN DKI Awasi Pasar, Tak Dapat Insentif hingga Dikritik Anggota DPRD

Fakta Kebijakan ASN DKI Awasi Pasar, Tak Dapat Insentif hingga Dikritik Anggota DPRD

Megapolitan
Data Ikappi, 217 Pedagang di 37 Pasar Jakarta Positif Covid-19

Data Ikappi, 217 Pedagang di 37 Pasar Jakarta Positif Covid-19

Megapolitan
Senin, Polisi Kembali Gelar Rekontruksi Kasus John Kei

Senin, Polisi Kembali Gelar Rekontruksi Kasus John Kei

Megapolitan
250 ASN DKI Awasi 23 Pasar di Jakut Mulai Senin Ini, Berikut Daftarnya

250 ASN DKI Awasi 23 Pasar di Jakut Mulai Senin Ini, Berikut Daftarnya

Megapolitan
UPDATE 5 Juli: Zona Merah Covid-19 di Depok Tersebar di 14 Kelurahan

UPDATE 5 Juli: Zona Merah Covid-19 di Depok Tersebar di 14 Kelurahan

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X