Pusat Keramaian Belum Terkoneksi Angkutan Massal

Kompas.com - 25/06/2015, 19:34 WIB
Kondisi Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, terpantau normal, Rabu (22/4/2015) sore.

KOMPAS.COM/ANDRI DONNAL PUTERAKondisi Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, terpantau normal, Rabu (22/4/2015) sore.
EditorHindra Liauw

KOMPAS - Sebagai pusat ekonomi, Jakarta memiliki banyak pusat bisnis dan perdagangan. Sebut saja Tanah Abang, Mangga Dua, Jatinegara, dan Pasar Senen. Pusat-pusat kegiatan tersebut tak hanya populer di Jakarta, tetapi sudah dikenal se-Indonesia, bahkan menjadi rujukan wisatawan mancanegara.

Sayang, titik-titik tersebut belum diintegrasikan dengan layanan angkutan massal. Akibatnya, pusat keramaian bisnis seolah identik dengan kemacetan.

Pusat perdagangan pakaian jadi Tanah Abang, misalnya, menjadi tempat rujukan banyak pedagang. Kawasan ini selalu ramai dikunjungi pedagang dari sejumlah kota dan negara untuk mencari stok barang. Kemacetan pun tak terelakkan.

Angkutan umum yang melintasi Tanah Abang juga padat. Peron Stasiun Tanah Abang kerap kali tak cukup menampung luberan penumpang yang turun atau naik KRL. Sementara jalur pejalan kaki masih buruk dan membuat orang sering harus berjalan di aspal jalan di tengah sesaknya berbagai jenis kendaraan yang terjebak kemacetan.

Pengguna angkutan massal yang juga Koordinator Suara Transjakarta, David Tjahjana, mengakui, integrasi antara pusat-pusat aktivitas warga dan angkutan massal masih buruk. Kasus Tanah Abang merupakan contoh keburukan kepaduan kawasan dan angkutan massal itu.

"Akses bagi pejalan kaki di banyak tempat masih sangat buruk. Padahal, jalur pejalan kaki ini penting untuk menghubungkan stasiun, halte, dan terminal dengan pusat kegiatan. Tujuannya agar orang mau pakai angkutan massal ke tempat tujuan," ucapnya.

Kepaduan kawasan dan akses angkutan massal ini merupakan bagian dari konsep transit oriented development (TOD). Dalam rencana tata ruang wilayah DKI Jakarta 2030, sejumlah kawasan dijadikan TOD, termasuk Tanah Abang dan Pasar Senen di Jakarta Pusat. Namun, di lapangan, kepaduan wilayah dan akses angkutan massal ini belum pas.

David mengatakan, kawasan Senen seharusnya bisa menjadi contoh kawasan yang memiliki keterpaduan antarmoda dan antarkawasan yang baik. Sebab, selain memiliki pasar yang luas dan mal, di Senen juga terdapat stasiun, terminal, dan halte transjakarta untuk dua koridor.

"Sayang, titik-titik kegiatan dan akses angkutan umum itu belum terhubung dengan baik. Pengguna angkutan umum harus mencari jalan sendiri jika ingin berpindah moda angkutan atau saat hendak menuju pusat kegiatan. Idealnya, harus ada akses yang nyaman dan aman bagi pejalan kaki. Luas tempat bagi pejalan kaki pun harus disesuaikan dengan keramaian kawasan itu," ucapnya.

Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek MN Fadhila berpendapat, integrasi fisik antara halte dan stasiun bisa berupa petunjuk bagi pejalan kaki. Selain itu, area pejalan kaki juga mesti nyaman dan aman.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Perpanjang PSBB, Keluar Masuk Tangsel Sekarang Wajib Punya SIKM

Perpanjang PSBB, Keluar Masuk Tangsel Sekarang Wajib Punya SIKM

Megapolitan
Sejumlah Aturan Taman Margasatwa Ragunan jika Buka Saat New Normal

Sejumlah Aturan Taman Margasatwa Ragunan jika Buka Saat New Normal

Megapolitan
Petugas Damkar Evakuasi Ular Kobra di Gedung Sekolah di Petamburan

Petugas Damkar Evakuasi Ular Kobra di Gedung Sekolah di Petamburan

Megapolitan
2.746 Calon Jemaah Haji Batal Berangkat, Pejabat Kemenag Bekasi: Ada yang Sedih Luar Biasa

2.746 Calon Jemaah Haji Batal Berangkat, Pejabat Kemenag Bekasi: Ada yang Sedih Luar Biasa

Megapolitan
Pemudik Lolos Check Point dan Masuk ke Jakarta, Hanya Tunjukkan Surat Sehat

Pemudik Lolos Check Point dan Masuk ke Jakarta, Hanya Tunjukkan Surat Sehat

Megapolitan
Wali Kota: Sepanjang Bekasi Belum Bersih, Kita Rapid Test, Swab, Tracking, Bawa ke RS

Wali Kota: Sepanjang Bekasi Belum Bersih, Kita Rapid Test, Swab, Tracking, Bawa ke RS

Megapolitan
Anggota Komunitas yang Kumpul Bareng Wakil Wali Kota Tangsel Jalani Rapid Test, Hasilnya negatif

Anggota Komunitas yang Kumpul Bareng Wakil Wali Kota Tangsel Jalani Rapid Test, Hasilnya negatif

Megapolitan
[HOAKS] 30 Pembantu Baru Datang dari Kampung di Penjaringan Positif Covid-19

[HOAKS] 30 Pembantu Baru Datang dari Kampung di Penjaringan Positif Covid-19

Megapolitan
Dinas Pendidikan: Tiap Sekolah di Bekasi Harus Punya Satuan Gugus Tugas Covid-19

Dinas Pendidikan: Tiap Sekolah di Bekasi Harus Punya Satuan Gugus Tugas Covid-19

Megapolitan
Satpol PP Tutup Sejumlah Toko yang Nekat Beroperasi di Pasar Gembrong

Satpol PP Tutup Sejumlah Toko yang Nekat Beroperasi di Pasar Gembrong

Megapolitan
Lurah Pejagalan Temukan 71 Warga yang Kembali dari Kampung Halaman Secara Ilegal

Lurah Pejagalan Temukan 71 Warga yang Kembali dari Kampung Halaman Secara Ilegal

Megapolitan
Jika Terapkan New Normal, Pemkot Depok Diminta Tata Ulang Pasar Tradisional

Jika Terapkan New Normal, Pemkot Depok Diminta Tata Ulang Pasar Tradisional

Megapolitan
Balik Mudik Lebaran, 28 Warga Duren Tiga Jalani Karantina di Rumah

Balik Mudik Lebaran, 28 Warga Duren Tiga Jalani Karantina di Rumah

Megapolitan
Viral Foto Langgar Protokol Kesehatan, Komunitas di Tangsel Jalani Rapid Test

Viral Foto Langgar Protokol Kesehatan, Komunitas di Tangsel Jalani Rapid Test

Megapolitan
Datang Tanpa SIKM, 20 Tukang Bangunan Dikarantina, Wajib Tes Swab Bayar Pribadi

Datang Tanpa SIKM, 20 Tukang Bangunan Dikarantina, Wajib Tes Swab Bayar Pribadi

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X