Perangi "Bullying" di Luar Sekolah

Kompas.com - 27/07/2015, 13:05 WIB
Spanduk stop tawuran terpampang di SMA 70 Jakarta, Jakarta Selatan, Senin (1/10/2012). Para siswa SMAN 70 Jakarta melakukan aksi tabur bunga dan meletakan karangan bunga di Bundaran Bulungan. Acara ini juga bertujuan untuk perdamaian konflik antara SMA 6 dengan SMA 70 yang sudah berlangsung lama. KOMPAS IMAGES/ANDREAN KRISTIANTO ANDREAN KRISTIANTOSpanduk stop tawuran terpampang di SMA 70 Jakarta, Jakarta Selatan, Senin (1/10/2012). Para siswa SMAN 70 Jakarta melakukan aksi tabur bunga dan meletakan karangan bunga di Bundaran Bulungan. Acara ini juga bertujuan untuk perdamaian konflik antara SMA 6 dengan SMA 70 yang sudah berlangsung lama. KOMPAS IMAGES/ANDREAN KRISTIANTO
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com - Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB) di SMA Negeri 70 dan SMA Negeri 6, Jakarta Selatan tidak lagi dipanitiai oleh siswa, tetapi sudah diambil alih guru. Alasannya yakni untuk mencegah perundungan (bullying) kakak kelas kepada para siswa baru.

Namun, karena aturan tersebut, perundungan justru berpotensi timbul di luar lingkungan sekolah. Oleh karena itu, para guru tidak menutup mata dengan kenyataan itu. Mereka pun melakukan berbagai upaya untuk mencegah perundungan itu kembali terjadi.

Langkah yang dilakukan SMAN 70 misalnya, dengan meniadakan tugas kelompok bagi para siswa baru selama masa orientasi berlangsung. Sebab, pelajaran dari tahun sebelumnya, hal itu meningkatkan potensi terjadinya perundungan.

"Tahun ini kami hilangkan tugas kelompok karena itu membuat siswa kumpul-kumpul habis MOPDB, kemudian berpotensi terjadi hal-hal semacam itu (perundungan)," kata Zaitun Airani, guru SMAN 70, Senin (27/7/2015).

Diketahui, tahun lalu, seusai kegiatan MOPB, sejumlah siswa baru SMAN 70 menjadi korban perundungan kakak kelasnya di luar lingkungan sekolah. Insiden itu mengakibatkan 13 siswa kelas XII dikeluarkan dari sekolah.

Selain itu, untuk memastikan para siswa langsung pulang setelah MOPDB, guru juga mewajibkan kepada orangtua untuk mengantar dan menjemput siswanya. Kewajiban itu berlaku tiga hari dari Senin hingga Rabu (29/7/2015) mendatang.

"Orangtua perlu berkorban lah selama tiga hari ini, mengantar jemput anaknya. Kalau memang tidak bisa, diwakili saudara atau tetangganya juga bisa, yang pasti harus diantar jemput, supaya langsung pulang," kata Zaitun.

Tak hanya itu, sekolah juga membedakan jadwal istirahat para siswa baru dengan seniornya untuk memperkecil kemungkinan pertemuan keduanya. Tujuannya supaya tidak terjadi sesuatu yang memancing perundungan.

Sekolah juga mengimbau para siswa baru untuk menitipkan ponselnya selama mengikuti MOPDB dan mengambilnya saat akan pulang. Sebab, ancaman dan ajakan berkumpul seusai sekolah juga kerap disampaikan melalui ponsel.

Sementara itu, langkah SMAN 6 untuk memerangi perundungan di luar sekolah yakni menjalin kerja sama dengan aparat yang berwajib, yakni kepolisian. Sebab, kewajiban guru mengawasi selama di sekolah. Jika sudah di luar sekolah maka pihak sekolah membutuhkan bantuan pihak berwajib.

"Sudah dari dulu kami koordinasi dengan kepolisian, baik itu Polsek, Polres, Polda, semuanya demi mencegah ada tawuran atau kekerasan apapun di luar sekolah," kata Wakepsek Bagian Kesiswaan SMAN 6 Jakarta, Suwartono.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polisi dan TNI Akan Tempatkan Aparat di Pasar Swalayan Selama PSBB Jakarta

Polisi dan TNI Akan Tempatkan Aparat di Pasar Swalayan Selama PSBB Jakarta

Megapolitan
Dishub DKI: Boleh Berboncengan asal Tujuannya Sama dengan Si Pengendara Motor

Dishub DKI: Boleh Berboncengan asal Tujuannya Sama dengan Si Pengendara Motor

Megapolitan
Polisi Janji Kedepankan Cara Persuasif untuk Bubarkan Kerumunan

Polisi Janji Kedepankan Cara Persuasif untuk Bubarkan Kerumunan

Megapolitan
GBK Tutup Selama PSBB, Kendaraan Dilarang Masuk

GBK Tutup Selama PSBB, Kendaraan Dilarang Masuk

Megapolitan
Jualan Online Berjalan seperti Biasa Saat PSBB, Pelaku Bisnis Masih Khawatir Kena Sanksi

Jualan Online Berjalan seperti Biasa Saat PSBB, Pelaku Bisnis Masih Khawatir Kena Sanksi

Megapolitan
DKI Jakarta Efektif PSBB, Ini Langkah Grab agar Mitra Terus Beroperasional

DKI Jakarta Efektif PSBB, Ini Langkah Grab agar Mitra Terus Beroperasional

Megapolitan
PSBB DKI Jakarta, Pengendara Sepeda Motor Pribadi Boleh Berboncengan

PSBB DKI Jakarta, Pengendara Sepeda Motor Pribadi Boleh Berboncengan

Megapolitan
Kaum Miskin Kota Sekarat, Mati karena Corona atau Mati Kelaparan

Kaum Miskin Kota Sekarat, Mati karena Corona atau Mati Kelaparan

Megapolitan
Sektor Usaha yang Dikecualikan Selama PSBB Wajib Batasi Aktivitas Kerja Pegawainya

Sektor Usaha yang Dikecualikan Selama PSBB Wajib Batasi Aktivitas Kerja Pegawainya

Megapolitan
[UPDATE] 10 April, Pasien Positif Covid-19 di Jakarta Tembus 1.719 Orang

[UPDATE] 10 April, Pasien Positif Covid-19 di Jakarta Tembus 1.719 Orang

Megapolitan
PSBB Jakarta, Barang Nonkebutuhan Pokok Tetap Dapat Diakses di Marketplace

PSBB Jakarta, Barang Nonkebutuhan Pokok Tetap Dapat Diakses di Marketplace

Megapolitan
Anies Terbitkan Pergub soal PSBB, Dua Kegiatan Ini Masih Diperbolehkan

Anies Terbitkan Pergub soal PSBB, Dua Kegiatan Ini Masih Diperbolehkan

Megapolitan
Ingat, Perusahaan yang Masih Diizinkan Beroperasi Harus Selalu Bersih hingga Dekat dengan Fasilitas Kesehatan

Ingat, Perusahaan yang Masih Diizinkan Beroperasi Harus Selalu Bersih hingga Dekat dengan Fasilitas Kesehatan

Megapolitan
Diizinkan Tetap Buka, Beberapa Poin Harus Diperhatikan Pengelola Penyedia Makan di Masa PSBB

Diizinkan Tetap Buka, Beberapa Poin Harus Diperhatikan Pengelola Penyedia Makan di Masa PSBB

Megapolitan
Jumlah Tempat Tidur Pasien Covid-19 dan PDP di Depok Tak Memadai

Jumlah Tempat Tidur Pasien Covid-19 dan PDP di Depok Tak Memadai

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X