Kompas.com - 05/08/2015, 23:31 WIB
EditorHindra Liauw

Ketimpangan pembangunan ini adalah hal yang berlangsung terus-menerus. Apabila tidak ada tindakan, jurang pemisah antara wilayah yang satu dan yang lain semakin lebar. Tidak hanya itu, permasalahan sosial juga pasti akan terus tumbuh.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, Selasa lalu, menyampaikan, perkembangan wilayah di Jakarta Utara sangat tidak seimbang. Satu kawasan tidak tertangani, sementara kawasan lain sangat berkembang.

Oleh karena itu, dia berharap pemerintah fokus dalam menjalankan setiap programnya. Pemerintah perlu menetapkan sejumlah wilayah yang akan menjadi lokasi penataan. Sejumlah instansi yang terkait secara bersama-sama menerapkan program yang dibutuhkan masyarakat.

"Hal itu harus dilakukan hingga permasalahan di wilayah atau kelurahan tersebut benar-benar selesai. Baru kemudian program yang sama dipindahkan ke wilayah lain. Jadi, ada penyelesaian dari permasalahan tersebut," ujarnya.

Dosen psikologi sosial Universitas Tarumanagara, Bonar Hutapea, menyampaikan, program tidak hanya perlu fokus dan merata, tetapi juga berkelanjutan dan sesuai kebutuhan. Sebab, pemerintah yang selalu hadir dalam suatu lingkungan menjadikan masyarakat tersebut merasa diperhatikan dan mendapat perlindungan.

Selama ini, ujar Bonar, pemerintah seperti hanya sekadar hadir untuk menunaikan tugas, tetapi tidak benar-benar menyelesaikan permasalahan di masyarakat. "Padahal, meski tidak menjadi faktor utama, ketimpangan pembangunan menjadi stimulus meningkatnya angka kriminalitas. Orang-orang dalam satu wilayah yang tidak tertangani umumnya berada dalam kungkungan ekonomi yang sulit. Akhirnya mereka seperti berada dalam lingkungan yang mendukung untuk kriminalitas," ujarnya.

Karena itu, Bonar berpendapat bahwa penataan lingkungan merupakan hal yang wajib dilakukan. Penataan bukan berarti sekadar melakukan sejumlah program lalu selesai. Akan tetapi, program yang berkesinambungan, fokus, dan merata. (SAIFUL RIJAL YUNUS)

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

___________________

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Agustus 2015, di halaman 25 dengan judul "Meniadakan Sekat Pemisah, Mengikis Ketimpangan".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hindari Masa Kedaluwarsa, Pemkot Bekasi Segera Gunakan 433.000 Dosis Vaksin Covid-19 yang Tersisa

Hindari Masa Kedaluwarsa, Pemkot Bekasi Segera Gunakan 433.000 Dosis Vaksin Covid-19 yang Tersisa

Megapolitan
Ini Penjelasan Anies Soal Penyebab Molornya Proyek ITF

Ini Penjelasan Anies Soal Penyebab Molornya Proyek ITF

Megapolitan
Kantor Pinjol Ilegal di Cengkareng Sudah Jaring 5.700 Nasabah dari 17 Aplikasi

Kantor Pinjol Ilegal di Cengkareng Sudah Jaring 5.700 Nasabah dari 17 Aplikasi

Megapolitan
Bongkar Jaringan Peredaran Ganja Jakarta-Jawa Barat, Polisi Ungkap Modus Klasik

Bongkar Jaringan Peredaran Ganja Jakarta-Jawa Barat, Polisi Ungkap Modus Klasik

Megapolitan
DKI Jakarta PPKM Level 2, Anak di Bawah Usia 12 Tahun Belum Boleh Masuk Ancol

DKI Jakarta PPKM Level 2, Anak di Bawah Usia 12 Tahun Belum Boleh Masuk Ancol

Megapolitan
PPKM Jakarta Turun Level 2, Ini Aturan Masuk Tempat Wisata

PPKM Jakarta Turun Level 2, Ini Aturan Masuk Tempat Wisata

Megapolitan
Kasus Penipuan Rekrutmen PNS oleh Anak Penyanyi ND Naik ke Tingkat Penyidikan

Kasus Penipuan Rekrutmen PNS oleh Anak Penyanyi ND Naik ke Tingkat Penyidikan

Megapolitan
Tangsel PPKM Level 2, Sejumlah Aturan Pembatasan Kegiatan Disesuaikan

Tangsel PPKM Level 2, Sejumlah Aturan Pembatasan Kegiatan Disesuaikan

Megapolitan
Jakarta PPKM Level 2, Anies: Kita Ingin Kondisi Ini Bisa Terjaga Terus

Jakarta PPKM Level 2, Anies: Kita Ingin Kondisi Ini Bisa Terjaga Terus

Megapolitan
Polisi Tangkap Tiga Pengedar, Barang Bukti 15 Kilogram Ganja Diamankan

Polisi Tangkap Tiga Pengedar, Barang Bukti 15 Kilogram Ganja Diamankan

Megapolitan
Pemkot Bekasi Telah Salurkan 173.340 Dosis Vaksin Covid-19 ke 5 Kabupaten di Jabar

Pemkot Bekasi Telah Salurkan 173.340 Dosis Vaksin Covid-19 ke 5 Kabupaten di Jabar

Megapolitan
Jakarta PPKM Level 2, Tempat Permainan Anak di Blok M Plaza Mulai Beroperasi

Jakarta PPKM Level 2, Tempat Permainan Anak di Blok M Plaza Mulai Beroperasi

Megapolitan
Paksa Periksa Handphone Orang Saat Bertugas, Aipda Ambarita Diperiksa Propam

Paksa Periksa Handphone Orang Saat Bertugas, Aipda Ambarita Diperiksa Propam

Megapolitan
Hendak Berbelanja, Remaja 14 Tahun Malah Disekap dan Dilecehkan Penjaga Warung di Pamulang

Hendak Berbelanja, Remaja 14 Tahun Malah Disekap dan Dilecehkan Penjaga Warung di Pamulang

Megapolitan
Namanya Viral karena Periksa Paksa Ponsel Warga, Aipda Ambarita Dimutasi

Namanya Viral karena Periksa Paksa Ponsel Warga, Aipda Ambarita Dimutasi

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.