Ahok Tawari Rp 5 Juta buat Warga Kampung Pulo, Ini Kata Warga

Kompas.com - 21/08/2015, 12:45 WIB
Warga Kampung Pulo, Jakarta Timur, memblokade jalan masuk ke rumah mereka usai terlibat kerusuhan dengan Satpol PP dan polisi di Jalan Jatinegara Barat, Kamis (20/8/2015). Kerusuhan terjadi karena warga menolak digusur dan dipindahkan untuk normalisasi Kali Ciliwung. TRIBUN / HERUDINWarga Kampung Pulo, Jakarta Timur, memblokade jalan masuk ke rumah mereka usai terlibat kerusuhan dengan Satpol PP dan polisi di Jalan Jatinegara Barat, Kamis (20/8/2015). Kerusuhan terjadi karena warga menolak digusur dan dipindahkan untuk normalisasi Kali Ciliwung.
|
EditorHindra Liauw
JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama menawarkan uang Rp 5 juta dari kantong pribadi kepada warga Kampung Pulo yang mau pulang ke kampung halamannya, dan tidak kembali ke Jakarta. Basuki hendak meniru cara mantan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo.

Apa tanggapan warga Kampung Pulo terkait tawaran Ahok?

Rohmah (51), warga RT 09 RW 02 Kampung Pulo, tampaknya tidak tertarik dengan tawaran Ahok. Rohmah mengatakan, dirinya sudah terbiasa mencari nafkah dengan berjualan daging keliling di Kampung Pulo.

"Kalau pulang kampung, mau kerja apa juga bingung. Kami sudah terbiasa di sini. Saya jualan daging keliling di Kampung Pulo, dan sudah punya langganan," kata Rohmah saat ditemui di rumahnya, Jumat (21/8/2015). 

Oleh karena itu, ia tak tahu akan bekerja apa jika harus kembali ke kampung halamannya di, Bogor, Jawa Barat. Selain itu, tawaran Rp 5 juta dari Ahok juga dinilai kecil.

"Lima (Rp 5 juta) juga cukup apa ya? Saya saja bangun rumah ini Rp 20 juta. Kalau ke kampung buat (sewa) bawa barang-barang juga enggak cukup," ujar Rohmah.

Wanita yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung itu mengatakan, dirinya pasrah dengan kebijakan pemerintah. Rohmah yang tinggal bersama suami dan dua anaknya itu sedang berberes-beres memindahkan barang. Ia hendak pindah ke Rusun Jatinegara Barat.

"Saya dapat di lantai 11A," ujar Rohmah.

Senada dengan Rohmah, Imas (24), warga RT 09 RW 02. Ia mengatakan tak mungkin pulang ke kampung halamannya di Brebes, Jawa Tengah. Terlebih lagi, suaminya adalah warga asli Kampung Pulo. Namun, dirinya menilai, tawaran Ahok itu tidak memberikan solusi bagi warga. Sebab, warga setempat menurutnya banyak yang mencari nafkah dengan berdagang.

"Ya kan usahanya di sini. Soalnya kalau di kampung, kami enggak biasa usaha. Penginnya di sini," ujar Imas.

Sebelumnya, Ahok mengungkapkan, Joko Widodo atau Jokowi saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI pernah memberi sejumlah uang kepada warga korban penggusuran Waduk Ria Rio. Menurut Basuki, uang itu bukanlah kompensasi ataupun ganti rugi (kerahiman) bagi warga Ria Rio, melainkan uang untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. 

"Ini semacam karena mereka minta mau pulang kampung, ya sudah dikasih deh (uang sama Jokowi)," kata Basuki di Balai Kota, Kamis (20/8/2015).  



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PHRI DKI Jakarta: 30 Hotel Siap Tampung Isolasi Pasien OTG Covid-19

PHRI DKI Jakarta: 30 Hotel Siap Tampung Isolasi Pasien OTG Covid-19

Megapolitan
9 PPSU Bukit Duri Positif Covid-19, Rekan Kerja dan Warga Patungan Beri Bantuan

9 PPSU Bukit Duri Positif Covid-19, Rekan Kerja dan Warga Patungan Beri Bantuan

Megapolitan
Muhamad Siap Dukung Keputusan Pemerintah jika Pilkada Tangsel Harus Ditunda

Muhamad Siap Dukung Keputusan Pemerintah jika Pilkada Tangsel Harus Ditunda

Megapolitan
Gugus Tugas: Klaster Covid-19 di Pabrik Epson Cikarang Berawal Kunjungan Kerja dari Luar

Gugus Tugas: Klaster Covid-19 di Pabrik Epson Cikarang Berawal Kunjungan Kerja dari Luar

Megapolitan
Sepekan Operasi Yustisi, Pelanggar Protokol Kesehatan Terbanyak Ada di Jakarta Pusat

Sepekan Operasi Yustisi, Pelanggar Protokol Kesehatan Terbanyak Ada di Jakarta Pusat

Megapolitan
Imam Budi Minta Kepastian Nasib Pilkada Depok di Tengah Pandemi Covid-19

Imam Budi Minta Kepastian Nasib Pilkada Depok di Tengah Pandemi Covid-19

Megapolitan
Angkot Hanya Bisa Angkut 5 Penumpang Saat PSBB Jakarta, Melanggar Kena Sanksi hingga Rp 150 Juta

Angkot Hanya Bisa Angkut 5 Penumpang Saat PSBB Jakarta, Melanggar Kena Sanksi hingga Rp 150 Juta

Megapolitan
Polisi Periksa Rekaman CCTV Bandara Soetta Berkait Pelecehan Seksual Saat Rapid Test

Polisi Periksa Rekaman CCTV Bandara Soetta Berkait Pelecehan Seksual Saat Rapid Test

Megapolitan
Polda Metro Bentuk Tim Khusus Buru Bandar Narkoba yang Kabur dari Lapas Tangerang

Polda Metro Bentuk Tim Khusus Buru Bandar Narkoba yang Kabur dari Lapas Tangerang

Megapolitan
Pemprov DKI Kian Masif Gerebek Lumpur Jelang Musim Hujan

Pemprov DKI Kian Masif Gerebek Lumpur Jelang Musim Hujan

Megapolitan
Pasien Covid-19 yang Isolasi Mandiri di Tempat Tak Memadai Akan Dijemput ke Stadion Patriot Chandrabaga

Pasien Covid-19 yang Isolasi Mandiri di Tempat Tak Memadai Akan Dijemput ke Stadion Patriot Chandrabaga

Megapolitan
Polisi Tangkap Pelaku Penusukan yang Viral di Media Sosial

Polisi Tangkap Pelaku Penusukan yang Viral di Media Sosial

Megapolitan
Siap Terapkan Protokol Kesehatan, Benyamin Davnie Tak Setuju Pilkada Tangsel Ditunda

Siap Terapkan Protokol Kesehatan, Benyamin Davnie Tak Setuju Pilkada Tangsel Ditunda

Megapolitan
Belum Bayar Uang Kos, Motif Pasangan Kekasih Fajri dan Laeli Mutilasi Rinaldi

Belum Bayar Uang Kos, Motif Pasangan Kekasih Fajri dan Laeli Mutilasi Rinaldi

Megapolitan
369 Karyawan Pabrik Epson Cikarang Terpapar Covid-19

369 Karyawan Pabrik Epson Cikarang Terpapar Covid-19

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X