Kompas.com - 15/10/2015, 08:28 WIB
Anggota DPR RI periode 2009-2014 dari Fraksi PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari. TRIBUNNEWS/JEPRIMAAnggota DPR RI periode 2009-2014 dari Fraksi PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari.
Penulis Jessi Carina
|
EditorKistyarini
JAKARTA, KOMPAS.com — Politisi PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari, memiliki penilaian khusus terhadap Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama. Eva menilai, Ahok (sapaan Basuki) tidak memiliki sikap dan kebijakan yang ramah terhadap masyarakat menengah ke bawah.

"Relawan sudah mulai menyoal ini, Ahok cenderung ramah ke kaum kapitalis, tetapi tidak ramah ke wong cilik," ujar Eva dalam diskusi sekaligus rilis survei bertajuk Ahok dan Para Penantangnya yang diadakan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta Pusat, Rabu (14/10/2015).

Menurut Eva, beberapa contoh sikap tidak ramah Ahok terhadap warga miskin adalah penertiban PKL dan penggusuran.

Dalam dua hal itu, Ahok seperti tidak mengakomodasi keinginan warga. Meski mendapat banyak kritik dan protes dari warga miskin, Ahok bergeming dengan keputusannya.

Sementara itu, menurut Eva, Ahok terlihat kooperatif dan bisa mengakomodasi keinginan pengusaha. Hubungan Ahok dengan pengusaha dinilai baik. Terbukti dari banyaknya CSR yang diterima Pemerintah Provinsi DKI.

Eva mengatakan, semua hal tersebut juga diperparah oleh profil warga Jakarta yang menjadi pendukung Ahok.

Menurut Eva, para pemilih sekalipun tidak memiliki solidaritas tinggi terhadap rakyat kecil sehingga apa yang dilakukan Ahok seolah mendapat pembenaran dan Ahok tetap didukung.

"Menurut saya, ini terkait juga dengan perilaku pemilih, solidaritas kepada wong cilik menipis. Itu kenapa Ahok berani mempertahankan sikapnya itu. Ternyata teman dari kelas menengah itu happy kok dengan adanya penggusuran. Saya pikir ini bahaya kalau ada pemimpin enggak sensitif dengan isu orang miskin," ujar Eva.

Eva menilai hal yang berbeda justru ditunjukkan oleh mantan rekan Ahok dalam memimpin Jakarta, yaitu Presiden RI Joko Widodo. Menurut Eva, Jokowi justru memperlihatkan bahwa dia mempertahankan dukungan dari masyarakat miskin.

Berbeda dengan Ahok, Jokowi justru dinilai sering mendengar keluhan rakyat miskin. Hal itu ditunjukkan dengan blusukan-blusukan yang sering dilakukan Jokowi. Namun, hal itu sudah ditinggalkan oleh Ahok.

"Mudah-mudahan, dia mulai mendengar kritik bahwa harus fair dengan orang miskin. Pemimpin itu kan tegas boleh, tetapi harus manusiawi. Tegas boleh, tetapi harus ada nurani," ujar Eva.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ketua Dewan Penasehat Sirkuit Mandalika Pesimis Lintasan Formula E Bisa Selesai

Ketua Dewan Penasehat Sirkuit Mandalika Pesimis Lintasan Formula E Bisa Selesai

Megapolitan
Kasus Covid-19 Meningkat, Ada Kemungkinan PPKM di Depok Jadi Level 3

Kasus Covid-19 Meningkat, Ada Kemungkinan PPKM di Depok Jadi Level 3

Megapolitan
Polisi Pastikan 5 Tersangka Pengeroyok Kakek di Cakung Tak Punya Hubungan dengan Korban

Polisi Pastikan 5 Tersangka Pengeroyok Kakek di Cakung Tak Punya Hubungan dengan Korban

Megapolitan
Polisi Masih Cari Beberapa Pelaku Pengeroyokan Kakek 89 Tahun di Cakung

Polisi Masih Cari Beberapa Pelaku Pengeroyokan Kakek 89 Tahun di Cakung

Megapolitan
Pemkot Bekasi Bangun Kandang Kambing di 11 Kecamatan, Habiskan Dana Rp 1,9 Miliar

Pemkot Bekasi Bangun Kandang Kambing di 11 Kecamatan, Habiskan Dana Rp 1,9 Miliar

Megapolitan
Batal Dipanggil BK Hari Ini, Ketua DPRD DKI Jakarta Merasa Tersandera

Batal Dipanggil BK Hari Ini, Ketua DPRD DKI Jakarta Merasa Tersandera

Megapolitan
Cegah Penularan Covid-19, Warga Diimbau Rayakan Imlek secara Virtual

Cegah Penularan Covid-19, Warga Diimbau Rayakan Imlek secara Virtual

Megapolitan
Bertemu Relawan di Makassar, Anies Baswedan Disebut Sudah Terbuka Ingin Maju Pilpres 2024

Bertemu Relawan di Makassar, Anies Baswedan Disebut Sudah Terbuka Ingin Maju Pilpres 2024

Megapolitan
Kuasa Hukum Nicholas Sean Minta Tersangka Kasus Pencemaran Nama Baik Kliennya Kooperatif

Kuasa Hukum Nicholas Sean Minta Tersangka Kasus Pencemaran Nama Baik Kliennya Kooperatif

Megapolitan
Identitas Pembegal Tukang Roti di Kota Bekasi Terungkap, Polisi Lakukan Pengejaran

Identitas Pembegal Tukang Roti di Kota Bekasi Terungkap, Polisi Lakukan Pengejaran

Megapolitan
Optimistis Sirkuit Formula E Selesai Tepat Waktu, Wagub: Semua Sudah Dihitung

Optimistis Sirkuit Formula E Selesai Tepat Waktu, Wagub: Semua Sudah Dihitung

Megapolitan
Kurir Ganja yang Diamankan Polisi Mengaku Dibayar 1 Juta Per Kilogram

Kurir Ganja yang Diamankan Polisi Mengaku Dibayar 1 Juta Per Kilogram

Megapolitan
Polisi Periksa Pengemudi Mercy yang Tabrak 4 Motor dan 2 Mobil di Prapanca Jaksel

Polisi Periksa Pengemudi Mercy yang Tabrak 4 Motor dan 2 Mobil di Prapanca Jaksel

Megapolitan
Sekolah di Tangerang Masih Gelar Belajar Tatap Muka, Wali Kota: Kami Peringatkan

Sekolah di Tangerang Masih Gelar Belajar Tatap Muka, Wali Kota: Kami Peringatkan

Megapolitan
Kasus Dugaan Korupsi Satelit Kemenhan, Prabowo: Ah Itu Ada yang Urus

Kasus Dugaan Korupsi Satelit Kemenhan, Prabowo: Ah Itu Ada yang Urus

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.