Kue Keranjang Ny Lauw yang Selalu Dicari

Kompas.com - 09/02/2016, 15:06 WIB
KOMPAS/RADITYA HELABUMI Pekerja menyiapkan kemasan kue di industri kue keranjang dan dodol Ny Lauw di kawasan Neglasari, Kota Tangerang, Banten, Rabu (27/1).
TANGERANG, KOMPAS - Kue berwarna coklat hingga coklat tua ini sangat lengket. Berbentuk bulat, rasanya manis, legit, dan tahan lama.

Meski terlihat sederhana, kue keranjang mengandung makna mendalam, yakni simbol harmonisasi keluarga.

Kue bundar itu melambangkan lingkaran keluarga yang selalu lengket, awet, dan menjalin hubungan mesra nan manis.

Situs Kuekeranjang.org menyebutkan, kue keranjang memiliki nama asli nian gao atau ni-kwe.

Kue ini disebut juga kue tahunan karena hanya dibuat setahun sekali menjelang tahun baru Imlek.

Disebut kue keranjang karena dicetak dalam sebuah keranjang.

"Dulunya kami menggunakan keranjang dari anyaman bambu. Namun, karena (keranjang bambu) sulit dicari dan harganya mahal, kami menggantinya dengan keranjang dari plastik," papar Ny Siti Lauw atau Lauw Nyim Keng (91) di rumahnya di Jalan Lio Baru, Neglasari, Kota Tangerang, Rabu (3/2).

Lauw adalah salah satu pembuat kue keranjang tertua di Tangerang.

Kue keranjang selalu dicari orang setiap menjelang perayaan Imlek. Kue ini terbuat dari beras ketan putih dan gula pasir.

Tepung beras yang diaduk dengan gula pasir itu diletakkan dalam wadah keranjang kecil bundar beralaskan daun pisang dan selanjutnya dikukus.

Selain suguhan untuk keluarga dan tamu, kue ini juga digunakan dalam ritual persembahyangan. Untuk persembahyangan, kue ini disusun berbentuk seperti menara.

"Kue keranjang yang terdiri dari tiga susun ini khusus untuk persembahan kepada dewa atau Tuhan. Sementara kue dengan susun tujuh dan sembilan untuk persembahan kepada leluhur," tutur Lauw, yang masih bisa berkomunikasi di usianya itu.

Sebulan sebelumnya

Setiap sebulan menjelang Imlek, gudang dan dapur Ny Lauw Tua, sebutan bagi Siti Lauw, selalu berdenyut dari subuh hingga sore hari.

Puluhan pekerja, yang sebagian besar perempuan, memenuhi gudang depan rumah, tempat pengolahan beras ketan.

Di tempat ini, mereka menyangrai beras ketan, menumbuk, dan mengayak hingga beras itu menjadi tepung.

"Kami mulai bekerja menyangrai beras sejak pukul 03.00. Istirahat siang dan sambung lagi sore pukul 15.00. Malam pulang ke rumah," kata Umi (55), warga Kampung Melayu, Kabupaten Tangerang. Ia sudah bekerja di tempat itu sejak 20 tahun lalu.

Di gudang di belakang rumah terdapat empat ruangan luas yang dipakai untuk memasak dodol, mengukus kue keranjang, dan mengemas dua jenis kue itu.

Lauw mengatakan, ia menekuni usaha kue keranjang sejak 1962 ketika sudah berkeluarga dan memiliki anak.

Saat itu, suaminya, Ouw Thio Hio, bekerja sebagai pengawas di sebuah gudang dengan gaji pas-pasan. Mereka pun harus menghidupi delapan anak.

Dengan berbekal resep dari sang mertua, Lauw merintis usaha tersebut.

"Awalnya, saya hanya ikut membantu mertua membuat kue keranjang. Namun, karena tuntutan ekonomi, saya harus membantu suami mencari pendapatan lain. Makanya, saya mencoba membuat kue keranjang sendiri," tuturnya.

Kue buatan Ny Lauw ini lalu terkenal dan selalu dicari orang, bahkan dari luar kawasan Jabodetabek.

Hingga kini, usaha kue keranjang itu dilanjutkan empat dari 10 anaknya dengan merek dagang berbeda-beda.

Saat ini, kue keranjang dan dodol Ny Lauw Tua masih dicari orang menjelang Imlek dan menjadi salah satu buah tangan khas Kota Tangerang. (PINGKAN ELITA DUNDU)

---------

Artikel ini sebelumnya ditayangkan di harian Kompas edisi Selasa, 9 Februari 2016, dengan judul "Kue Keranjang Ny Lauw yang Selalu Dicari".

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorKistyarini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Selain yang Dinyanyikan Wali Kota Depok, Dishub Siapkan Lagu Lain untuk di Lampu Merah

Selain yang Dinyanyikan Wali Kota Depok, Dishub Siapkan Lagu Lain untuk di Lampu Merah

Megapolitan
'Seabrek' Tugas Pemadam Kebakaran: Padamkan Api, Tangkap Biawak hingga Melepas Cincin

"Seabrek" Tugas Pemadam Kebakaran: Padamkan Api, Tangkap Biawak hingga Melepas Cincin

Megapolitan
Lagu yang Disetel di Lampu Merah, Bukan untuk Atasi Macet atau Hibur Warga...

Lagu yang Disetel di Lampu Merah, Bukan untuk Atasi Macet atau Hibur Warga...

Megapolitan
Penjelasan Dishub Soal Lagu Wali Kota Depok yang Akan Disetel di Lampu Merah

Penjelasan Dishub Soal Lagu Wali Kota Depok yang Akan Disetel di Lampu Merah

Megapolitan
Pimpinan Pansus Wagub DKI Dukung Fraksi Demokrat yang Mau Laporkan Politisi PSI

Pimpinan Pansus Wagub DKI Dukung Fraksi Demokrat yang Mau Laporkan Politisi PSI

Megapolitan
Bicara Politik Uang dalam Pemilihan Wagub DKI, PSI Bingung Fraksi Demokrat yang Tersinggung

Bicara Politik Uang dalam Pemilihan Wagub DKI, PSI Bingung Fraksi Demokrat yang Tersinggung

Megapolitan
Sampaikan Duplik, Jokdri Berkukuh Tak Bersalah dalam Kasus Perusakan Barang Bukti

Sampaikan Duplik, Jokdri Berkukuh Tak Bersalah dalam Kasus Perusakan Barang Bukti

Megapolitan
Depok Uji Coba Pemutaran Lagu di Lampu Merah, Agustus Mendatang

Depok Uji Coba Pemutaran Lagu di Lampu Merah, Agustus Mendatang

Megapolitan
Kasus Usulan Tak Pasang Foto Presiden, Keluarga Tersangka Ajukan Penangguhan Penahanan

Kasus Usulan Tak Pasang Foto Presiden, Keluarga Tersangka Ajukan Penangguhan Penahanan

Megapolitan
SMP Negeri Dadakan Disebut Anak Haram, Disdik Bekasi Sebut Sudah Sesuai Kajian

SMP Negeri Dadakan Disebut Anak Haram, Disdik Bekasi Sebut Sudah Sesuai Kajian

Megapolitan
Ramai Surat Tilang ETLE, Berikut Tarif Resmi Denda Pelanggaran Lalu Lintas

Ramai Surat Tilang ETLE, Berikut Tarif Resmi Denda Pelanggaran Lalu Lintas

Megapolitan
Warga Diimbau Tak Buang Sampah Lagi ke Kali Tegal Amba

Warga Diimbau Tak Buang Sampah Lagi ke Kali Tegal Amba

Megapolitan
Pro Kontra Warga Depok Tanggapi Wacana Pemilik Mobil Harus Punya Garasi

Pro Kontra Warga Depok Tanggapi Wacana Pemilik Mobil Harus Punya Garasi

Megapolitan
Sebuah Mobil Tabrak Separator Busway lalu Terguling di Jalan Jenderal Sudirman

Sebuah Mobil Tabrak Separator Busway lalu Terguling di Jalan Jenderal Sudirman

Megapolitan
10 Anggota PPK Koja dan Cilincing Didakwa 2 Pasal Pelanggaran Pemilu

10 Anggota PPK Koja dan Cilincing Didakwa 2 Pasal Pelanggaran Pemilu

Megapolitan
Close Ads X