Seperti KMP terhadap Jokowi, Partai Penolak Ahok Tak Akan Lama Jadi Oposisi

Kompas.com - 08/03/2016, 09:04 WIB
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama saat memberi sambutan dalam sebuah acara yang diselenggarakan di Rusun Pesakih, Daan Mogot, Jakarta Barat, Sabtu (5/3/2016). Kompas.com/Kurnia Sari AzizaGubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama saat memberi sambutan dalam sebuah acara yang diselenggarakan di Rusun Pesakih, Daan Mogot, Jakarta Barat, Sabtu (5/3/2016).
Penulis Jessi Carina
|
EditorAna Shofiana Syatiri
JAKARTA, KOMPAS.com - Risiko yang diambil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama untuk maju lewat jalur independen adalah semakin lebarnya jurang antara dia dengan partai politik.

Ahok (sapaan Basuki) seolah membuat pernyataan perang terbuka melawan semua parpol. Meski demikian, Pengamat politik dan Cyrus Network, Hasan Nasbi, berpendapat partai politik tetap akan kesulitan bersatu melawan Ahok.

"Akan menjadi kesulitan sendiri kalau parpol bersatu untuk melawan Ahok. Karena apa? karena tidak ada figur pemersatu seluruh parpol itu," ujar Hasan ketika dihubungi, Senin (7/3/2016).

Saat Koalisi Merah Putih dibentuk untuk menjadi oposisi pemerintahan Jokowi-JK, figur pemersatu semua parpol muncul dari Partai Gerindra yaitu Prabowo Soebianto. Untuk Ahok, Hasan tidak melihat ada tokoh yang bisa menjadi sosok pemersatu itu.

Bahkan, dia sanksi kalau partai akan bersatu dan memunculkan satu pasangan calon saja agar bisa head to head dengan Ahok. Sebab, semua partai pasti ada ego untuk mengusung calonnya sendiri.

Dia memprediksi pasangan yang akan muncul akan berjumlah sekita 2 atau 3 pasangan. Hal itu karena memang tidak ada "lem perekat" yang bisa mempersatukan semua parpol dalam melawan Ahok.

"Walau mereka sama-sama tidak suka sama Ahok, ketika bicara figur ya mereka akan debat panjang sekali saling memperjuangkan figur partai masing-masing. Realisasinya saya rasa masih sangat sulit," ujar Hasan.

Begitupun jika Ahok berhasil menang dan duduk kembali di bangku pemerintahan. Hasan mengatakan, beberapa bulan pertama suasana permusuhan memang akan kental antara Ahok dengan partai politik.

Namun, suasana akan berubah ketika sudah mulai membicarakan program pembangunan dan kegiatan Pemerintah Provinsi DKI. Semua itu bisa saja menjadi pemersatu antara Ahok dengan partai di legislatif.

Seperti partai-partai yang tergabung dalam KMP, bukan tidak mungkin partai itu nantinya akan berbalik mendekat pada pemerintahan Ahok.

"Jokowi kan enggak didukung KMP pas dia maju, tapi sekarang mana ada lagi KMP jadi oposisi, semua mau merapat ke pemerintah.Hal yang sama mungkin saja terjadi dengan Ahok," ujar Hasan.

Pada akhirnya, Hasan pun menegaskan bahwa ini semua adalah politik. Di mana, tidak ada lawan dan kawan yang abadi.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dishub DKI: Boleh Berboncengan asal Tujuannya Sama dengan Si Pengendara Motor

Dishub DKI: Boleh Berboncengan asal Tujuannya Sama dengan Si Pengendara Motor

Megapolitan
Polisi Janji Kedepankan Cara Persuasif untuk Bubarkan Kerumunan

Polisi Janji Kedepankan Cara Persuasif untuk Bubarkan Kerumunan

Megapolitan
GBK Tutup Selama PSBB, Kendaraan Dilarang Masuk

GBK Tutup Selama PSBB, Kendaraan Dilarang Masuk

Megapolitan
Jualan Online Berjalan seperti Biasa Saat PSBB, Pelaku Bisnis Masih Khawatir Kena Sanksi

Jualan Online Berjalan seperti Biasa Saat PSBB, Pelaku Bisnis Masih Khawatir Kena Sanksi

Megapolitan
DKI Jakarta Efektif PSBB, Ini Langkah Grab agar Mitra Terus Beroperasional

DKI Jakarta Efektif PSBB, Ini Langkah Grab agar Mitra Terus Beroperasional

Megapolitan
PSBB DKI Jakarta, Pengendara Sepeda Motor Pribadi Boleh Berboncengan

PSBB DKI Jakarta, Pengendara Sepeda Motor Pribadi Boleh Berboncengan

Megapolitan
Kaum Miskin Kota Sekarat, Mati karena Corona atau Mati Kelaparan

Kaum Miskin Kota Sekarat, Mati karena Corona atau Mati Kelaparan

Megapolitan
Sektor Usaha yang Dikecualikan Selama PSBB Wajib Batasi Aktivitas Kerja Pegawainya

Sektor Usaha yang Dikecualikan Selama PSBB Wajib Batasi Aktivitas Kerja Pegawainya

Megapolitan
[UPDATE] 10 April, Pasien Positif Covid-19 di Jakarta Tembus 1.719 Orang

[UPDATE] 10 April, Pasien Positif Covid-19 di Jakarta Tembus 1.719 Orang

Megapolitan
PSBB Jakarta, Barang Nonkebutuhan Pokok Tetap Dapat Diakses di Marketplace

PSBB Jakarta, Barang Nonkebutuhan Pokok Tetap Dapat Diakses di Marketplace

Megapolitan
Anies Terbitkan Pergub soal PSBB, Dua Kegiatan Ini Masih Diperbolehkan

Anies Terbitkan Pergub soal PSBB, Dua Kegiatan Ini Masih Diperbolehkan

Megapolitan
Ingat, Perusahaan yang Masih Diizinkan Beroperasi Harus Selalu Bersih hingga Dekat dengan Fasilitas Kesehatan

Ingat, Perusahaan yang Masih Diizinkan Beroperasi Harus Selalu Bersih hingga Dekat dengan Fasilitas Kesehatan

Megapolitan
Diizinkan Tetap Buka, Beberapa Poin Harus Diperhatikan Pengelola Penyedia Makan di Masa PSBB

Diizinkan Tetap Buka, Beberapa Poin Harus Diperhatikan Pengelola Penyedia Makan di Masa PSBB

Megapolitan
Jumlah Tempat Tidur Pasien Covid-19 dan PDP di Depok Tak Memadai

Jumlah Tempat Tidur Pasien Covid-19 dan PDP di Depok Tak Memadai

Megapolitan
Denda Rp 100 Juta atau 1 Tahun Penjara bagi Pelanggar PSBB DKI Jakarta

Denda Rp 100 Juta atau 1 Tahun Penjara bagi Pelanggar PSBB DKI Jakarta

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X