Organda: Banyak Perusahaan Taksi Kolaps karena Angkutan Berbasis Aplikasi

Kompas.com - 14/03/2016, 11:59 WIB
Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Demo ratusan sopir taksi di depan Balai Kota, Senin (14/3/2016). Mereka menuntut penutupan aplikasi transportasi, seperti Uber Taksi dan Grab Car.
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua DPD Organda DKI Jakarta Shafruhan Sinungan mengungkapkan, banyak perusahaan taksi kolaps karena keberadaan angkutan berbasis aplikasi.

"Ada beberapa operator taksi yang sudah kolaps. Itu beberapa operator yang punya taksi 50 kendaraan sampai 100 kendaraan," kata Shafruhan kepada Kompas.com, Jakarta, Senin (14/3/2016).

Beberapa perusahaan taksi yang kolaps antara lain Transkoveri, Ratax, Kosti, dan lainnya. Shafruhan menilai, fakta ini menunjukkan pemerintah abai untuk mengatasi persoalan angkutan berbasis aplikasi.

Selain itu, menurut Shafruhan, keberadaan taksi berbasis online seperti membiarkan perusahaan kecil "terbunuh".

"Sama saja pemerintah membiarkan terbunuhnya usaha-usaha kecil," kata Shafruhan.

Selain perusahaan, dampak lainnya ialah sekitar 10.000 taksi tak beroperasi. Dengan kata lain, lanjut Shafruhan, hal itu berdampak pada bertambahnya jumlah pengangguran di Indonesia.

"Dampaknya? Pengangguran. Itu terjadi dari dua tahun lalu sejak Uber masuk," kata Shafruhan.

Hari ini, Senin (14/3/2016), ribuan sopir angkutan umum berunjuk rasa di Balai Kota Pemprov DKI Jakarta, Istana Merdeka, dan Kemenkominfo.

Mereka berunjuk rasa terkait keberadaan angkutan berbasis aplikasi yang mulai menjamur dan tak ada tindakan tegas dari pemerintah.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorAna Shofiana Syatiri
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya


Close Ads X