Pilkada DKI Jakarta dan Kaum Penebar Kebencian

Kompas.com - 16/03/2016, 06:00 WIB
LUCKY PRANSISKA Foto 2104. Warga membubuhkan tanta tangan sebagai partisipasi dalam kampanye Jaga Jakarta di Bundaran Hotel Indonesia, Minggu (23/11/2014). Kampanye yang melibatkan tokoh agama, pemuda, dan seniman tersebut mengajak masyarakat Jakarta untuk mengedepankan pluralisme.

KOMPAS.com — Rasanya, belum lama kita melewati waktu-waktu yang keras penuh pertikaian dalam Pilpres 2014 yang amat melelahkan. Sebuah masa ketika orang tua dan anak bermusuhan, kawan menjadi lawan, ikatan persaudaraan sebuah keluarga terbelah karena berbeda pilihan. 

Perbedaan pilihan adalah sesuatu yang lumrah. Perbedaan adalah bagian yang tak terpisahkan dari realitas kehidupan kita. Dalam politik, kita memang tidak harus satu suara.

Masalahnya adalah betapa laranya hidup kita jika perbedaan itu diaktualisasikan melalui cara-cara yang menggerogoti jati diri ke-Indonesia-an dan kemanusiaan kita.

Jokowi dulu difitnah sebagai orang Tionghoa dan Kristen, padahal ia orang Jawa dan seorang Muslim. So what gitu lho dengan Tionghoa dan Kristen?


"Stempel" kesukuan dan agama sengaja disematkan untuk memancing sentimen kebencian. Jahat. Dia yang melakukan itu sungguh jahat, jahat sekali. Ia merusak akal sehat kebangsaan kita.

Agama menjadi komoditas, alat mencapai kekuasaan, sekadar barang dagangan, dan kehilangan maknanya sebagai perjalanan spiritual yang amat personal.

Masa-masa yang keras seperti pilpres kemarin sepertinya akan kita lalui lagi dalam Pilkada DKI Jakarta. Lini masa media sosial kita sudah mulai ditaburi oleh beragam sikap politik yang saling menyudutkan. Cilaka-nya, sungguh cilaka, agama dan suku kembali dijadikan peluru.

Ahok memiliki semua "dosa asal" agama dan kesukuan itu. Ia Tionghoa dan Kristen. Komplet "dosa"-nya. 

Membela akal sehat

Tulisan ini sama sekali tidak ingin membela Ahok. Masyarakat Jakarta memiliki wisdom-nya sendiri tentang siapa yang akan dipilih sebagai pemimpin mereka. (Baca: Anomali itu Bernama Ahok)

Tulisan ini ingin mengingatkan soal martabat kemanusiaan kita yang berpotensi digerus oleh kaum penebar kebencian yang memerkosa akal sehat kita dengan memproduksi kabar bohong.

Sekali lagi, memproduksi kabar bohong, meme-meme hitam berisi fitnah keji. Tulisan ini ingin membela akal sehat kita sebagai Indonesia, juga sebagai manusia.

Pemilu belum lagi mulai. Calon belum jelas, belum ditetapkan, tetapi kegaduhan para suporter sungguh sudah riuh. Tidak suporter di sebelah sana, tidak suporter di sebelah sini. Tidak kabar bohong di sana. Tidak kabar bohong di sini. Ada juga yang belum punya calon yang mau didukung, tetapi sudah ribut minta ampun. 

Halaman Berikutnya
Halaman:


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorHeru Margianto

Terkini Lainnya

Anies Minta Kantor dan Toko yang Tututp karena Aksi 22 Mei Buka Lagi

Anies Minta Kantor dan Toko yang Tututp karena Aksi 22 Mei Buka Lagi

Megapolitan
Ambulans Berlogo Partai Gerindra Milik PT Arsari Pratama

Ambulans Berlogo Partai Gerindra Milik PT Arsari Pratama

Megapolitan
Sisa Gas Air Mata Kerusuhan 22 Mei Bikin Perih Mata Pengendara

Sisa Gas Air Mata Kerusuhan 22 Mei Bikin Perih Mata Pengendara

Megapolitan
Polisi: Ambulans Gerindra Dikirim ke Jakarta atas Perintah Ketua DPC Tasikmalaya

Polisi: Ambulans Gerindra Dikirim ke Jakarta atas Perintah Ketua DPC Tasikmalaya

Megapolitan
Anggota Brimob yang Viral Saat 'Video Call' Ditawari Liburan Gratis ke Bali

Anggota Brimob yang Viral Saat "Video Call" Ditawari Liburan Gratis ke Bali

Megapolitan
Siapa Perempuan Bercadar yang Diamankan di Depan Bawaslu Saat 22 Mei?

Siapa Perempuan Bercadar yang Diamankan di Depan Bawaslu Saat 22 Mei?

Megapolitan
Dalam Ambulans Berlogo Gerindra, Tak Ditemukan Perlengkapan Medis

Dalam Ambulans Berlogo Gerindra, Tak Ditemukan Perlengkapan Medis

Megapolitan
Anies Bersihkan Jalan MH Thamrin Pascakerusuhan 22 Mei

Anies Bersihkan Jalan MH Thamrin Pascakerusuhan 22 Mei

Megapolitan
Pasukan Oranye Angkut Sampah 72 Karung Seberat 3,6 Ton di KS Tubun

Pasukan Oranye Angkut Sampah 72 Karung Seberat 3,6 Ton di KS Tubun

Megapolitan
Anggota TGUPP, Bambang Widjojanto dan Rikrik Jadi Pengacara Prabowo

Anggota TGUPP, Bambang Widjojanto dan Rikrik Jadi Pengacara Prabowo

Megapolitan
Foto 'Video Call' Anggota Brimob dengan Anaknya Menginspirasi Ilustrasi Ini

Foto "Video Call" Anggota Brimob dengan Anaknya Menginspirasi Ilustrasi Ini

Megapolitan
Senyum Anggota Brimob di Bawaslu Saat Diberikan Bunga oleh Warga

Senyum Anggota Brimob di Bawaslu Saat Diberikan Bunga oleh Warga

Megapolitan
Cerita Usma soal Rokok Habis Dijarah Perusuh 22 Mei hingga Rugi Rp 20 Juta

Cerita Usma soal Rokok Habis Dijarah Perusuh 22 Mei hingga Rugi Rp 20 Juta

Megapolitan
Perempuan Bercadar dan Tas Hitam Diamankan di Depan Gedung Bawaslu

Perempuan Bercadar dan Tas Hitam Diamankan di Depan Gedung Bawaslu

Megapolitan
Pascakerusuhan 22 Mei, Pedagang di KS Tubun Kembali Buka Kiosnya

Pascakerusuhan 22 Mei, Pedagang di KS Tubun Kembali Buka Kiosnya

Megapolitan

Close Ads X