Cerita Penumpang KRL yang Perjalanannya Terganggu karena Tawuran

Kompas.com - 26/04/2016, 15:23 WIB
Kereta Komuter - Rangkaian  KRL commuter line melintas di jalur di kawasan Kalibata, Jakarta, Minggu (23/3). PT Kereta Api Indonesia mengalokasikan dana hingga Rp 3 triliun untuk memperbaiki dan meremajakan persinyalan tua dan pendingin udara KRL Commuter Jabodetabek dalam waktu tiga tahun ke depan. Perbaikan tersebut sebagai upaya meningkatkan pelayanan bagi pengguna KRL commuter line yang per bulannya mencapai 15 juta orang. IWAN SETIYAWAN (SET)Kereta Komuter - Rangkaian KRL commuter line melintas di jalur di kawasan Kalibata, Jakarta, Minggu (23/3). PT Kereta Api Indonesia mengalokasikan dana hingga Rp 3 triliun untuk memperbaiki dan meremajakan persinyalan tua dan pendingin udara KRL Commuter Jabodetabek dalam waktu tiga tahun ke depan. Perbaikan tersebut sebagai upaya meningkatkan pelayanan bagi pengguna KRL commuter line yang per bulannya mencapai 15 juta orang.
|
EditorIndra Akuntono

JAKARTA, KOMPAS.com — Pada Senin (25/4/2016) pukul 17.50 WIB, terjadi tawuran yang mengganggu perjalanan KRL commuter line lintas Manggarai-Bekasi. Tawuran tersebut semakin parah karena menutupi rel antara Stasiun Cipinang dan Stasiun Klender, Jakarta Timur.

Salah satu penumpang yang terdampak gangguan perjalanan KRL, Yolanda, menceritakan apa yang dia alami selama lebih dari satu jam berdiri menunggu KRL yang berhenti tanpa bisa ke mana-mana akibat tawuran di depannya.

Yolanda naik KRL dari Stasiun Gondangdia ke arah Bekasi. Ketika baru saja melewati Stasiun Jatinegara, KRL tersebut berhenti.

"Awalnya, tak ada pengumuman alasan pemberhentian. Setelah lebih kurang 10 menit kemudian, masinis mengumumkan ada tawuran di antara Stasiun Jatinegara dan Stasiun Klender. Kereta tak dapat lewat karena banyak orang memenuhi jalur rel," kata Yolanda melalui akun Facebook miliknya, Senin malam.

Kondisi di dalam KRL yang Yolanda naiki sedang padat-padatnya karena masih jam pulang kerja. Selepas 30 menit bertahan di kereta yang berhenti, Yolanda melihat beberapa penumpang mulai tidak nyaman.

Mereka kepanasan dan saling dorong. Akhirnya, kaca KRL dibuka supaya udara segar bisa masuk.

"Saya pun tak dapat bergerak sama sekali. Bahkan, memberi kabar mama saya pun tak bisa," tutur Yolanda.

Setelah waktu berlalu 45 menit sejak KRL berhenti, mulai ada penumpang yang mengatakan akan pingsan.

Bahkan, ada yang sampai betul-betul pingsan hingga harus dijemput oleh petugas untuk diberikan pertolongan pertama. Situasi semakin tidak mengenakkan.

Yolanda melihat, antar-penumpang mulai berteriak, meminta agar pintu KRL dibuka karena hawa di dalam KRL masih panas akibat penuh sesak penumpang.

Petugas sempat terlihat ragu apakah akan membuka pintunya atau tidak. Namun, akhirnya, beberapa pintu KRL diizinkan untuk dibuka sembari menunggu KRL bisa berjalan lagi.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

CPNS Pemprov DKI, Dua Formasi Ini Masih Belum Ada Pelamar

CPNS Pemprov DKI, Dua Formasi Ini Masih Belum Ada Pelamar

Megapolitan
Hingga 20 November 2019, 18.876 Orang Daftar CPNS Pemprov DKI

Hingga 20 November 2019, 18.876 Orang Daftar CPNS Pemprov DKI

Megapolitan
Polisi Tetapkan Seorang Tersangka Bentrok FBR dan PP

Polisi Tetapkan Seorang Tersangka Bentrok FBR dan PP

Megapolitan
Jelang Kampanye Pilkades, Kapolresta Tangerang Ancam Bakal Proses Hukum Pelaku Kampanye Hitam

Jelang Kampanye Pilkades, Kapolresta Tangerang Ancam Bakal Proses Hukum Pelaku Kampanye Hitam

Megapolitan
Nunung kepada Majelis Hakim: Saya Sangat Salah dan Menyesali Perbuatan

Nunung kepada Majelis Hakim: Saya Sangat Salah dan Menyesali Perbuatan

Megapolitan
Mikrotrans Jak Lingko 80 Layani Rute Rawa Buaya sampai Rawa Kompeni

Mikrotrans Jak Lingko 80 Layani Rute Rawa Buaya sampai Rawa Kompeni

Megapolitan
Bobol Showroom Motor, Dua Pencuri Ditangkap Polisi

Bobol Showroom Motor, Dua Pencuri Ditangkap Polisi

Megapolitan
Tahun 2019 Sisa 40 Hari, PAD Kota Bekasi Masih Minus Rp 1 Triliun

Tahun 2019 Sisa 40 Hari, PAD Kota Bekasi Masih Minus Rp 1 Triliun

Megapolitan
Setu Sawangan akan Dinormalisasi, Pedagang Pasrah Warungnya Digusur

Setu Sawangan akan Dinormalisasi, Pedagang Pasrah Warungnya Digusur

Megapolitan
Agar Tak Dilintasi Motor, Pejalan Kaki Saran Pasang Penghalang di JPO Dekat Sudinhub Jakut

Agar Tak Dilintasi Motor, Pejalan Kaki Saran Pasang Penghalang di JPO Dekat Sudinhub Jakut

Megapolitan
Wali Kota Bekasi Lebih Dulu Berhitung Sebelum Siapkan APAR di Sekolah-sekolah

Wali Kota Bekasi Lebih Dulu Berhitung Sebelum Siapkan APAR di Sekolah-sekolah

Megapolitan
Kata Walkot Jaktim, Tebing Jalan DI Panjaitan yang Rawan Longsor Kewenangan Pemerintah Pusat

Kata Walkot Jaktim, Tebing Jalan DI Panjaitan yang Rawan Longsor Kewenangan Pemerintah Pusat

Megapolitan
Badan Pembentukan Perda: 52 Raperda yang Diusulkan Terlalu Banyak

Badan Pembentukan Perda: 52 Raperda yang Diusulkan Terlalu Banyak

Megapolitan
Pemkot Tangerang Luncurkan Aplikasi Gampang Ngurus Berkas

Pemkot Tangerang Luncurkan Aplikasi Gampang Ngurus Berkas

Megapolitan
Tebing Jalan DI Panjaitan yang Rawan Longsor Akan Dipasang Bronjong

Tebing Jalan DI Panjaitan yang Rawan Longsor Akan Dipasang Bronjong

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X