Kompas.com - 10/05/2016, 11:37 WIB
|
EditorEgidius Patnistik

JAKARTA, KOMPAS.com — Ratusan pilot maskapai penerbangan Lion Air memutuskan untuk mogok terbang pada Selasa (10/5/2016) pagi. Mereka mogok karena uang transpor untuk pilot yang seharusnya sudah diberikan sejak Kamis lalu belum diberikan hingga pagi ini.

"Pilot yang mogok sekitar 300-an. Mereka menuntut hak atas uang transpor yang telat ditransfer," kata salah satu pilot Lion Air yang tak mau namanya disebutkan melalui pesan singkat.

Pilot itu menjelaskan, sistem uang transpor menurut para pilot tidak berpihak kepada mereka. Hal itu karena manajemen Lion Air memberlakukan sistem reimburse untuk uang transpor.

Padahal, berdasarkan perjanjian kontrak antara manajemen dan para pilot, uang transpor seharusnya dibayar di muka oleh pihak manajemen.

"Pilot-pilot ini sampai menuntut sistem pemberian uang transpor diganti. Setelah diganti, uang transpor-nya malah sering telat ditransfer," kata pilot itu.

Dari informasi yang dihimpun Kompas.com, sekitar pukul 11.00 WIB, para pilot yang mogok telah menerima uang transpor mereka yang ditransfer oleh manajemen. Pilot-pilot Lion Air pun memutuskan untuk kembali bekerja seperti biasa.

Direktur Umum Lion Air Edward Sirait melalui keterangan tertulisnya mengungkapkan, sejumlah awaknya memang ada yang mengalami masalah administrasi. Masalah itu dinilai berdampak pada jadwal penerbangan pesawat Lion Air di tempat-tempat tertentu.

"Saat ini, masalah administrasi sudah dapat diselesaikan dan operasional penerbangan sudah kembali normal. Ke depannya, masih ada beberapa penerbangan yang akan mengalami keterlambatan dan kami akan berusaha untuk mengurangi keterlambatan tersebut. Kami atas nama manajemen Lion Air mohon maaf atas ketidaknyamanan ini," ujar Edward.

Menurut petugas Office in Charge (OIC) Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, hingga pukul 11.20 WIB, belum ada keterlambatan jadwal penerbangan pesawat Lion Air di sana. Di area bandara, tidak ada penumpukan penumpang akibat keterlambatan jadwal penerbangan yang diprediksi Edward sebelumnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mundur dari Kursi Dewan DKI, Riano P Ahmad: Fokus Kembalikan Kejayaan PPP

Mundur dari Kursi Dewan DKI, Riano P Ahmad: Fokus Kembalikan Kejayaan PPP

Megapolitan
Polisi Sebut Dua dari Empat Begal di Sawah Besar Positif Narkoba

Polisi Sebut Dua dari Empat Begal di Sawah Besar Positif Narkoba

Megapolitan
Rapat Monitoring dan Evaluasi Pembangunan JIS Diskors, Komisi B DPRD DKI Ungkap Alasannya

Rapat Monitoring dan Evaluasi Pembangunan JIS Diskors, Komisi B DPRD DKI Ungkap Alasannya

Megapolitan
PPKM Level 1 Jakarta Diperpanjang, Kapasitas WFO 100 Persen

PPKM Level 1 Jakarta Diperpanjang, Kapasitas WFO 100 Persen

Megapolitan
Satu Keluarga Terlibat Kecelakaan di Cipondoh Tangerang, Ibu Tewas Terlindas Truk

Satu Keluarga Terlibat Kecelakaan di Cipondoh Tangerang, Ibu Tewas Terlindas Truk

Megapolitan
Kapal Ikan Terbakar di Dermaga Timur Penjaringan, Api Muncul dari Ruang Mesin

Kapal Ikan Terbakar di Dermaga Timur Penjaringan, Api Muncul dari Ruang Mesin

Megapolitan
Jakpro Tak Bisa Tinggikan Dinding Tribune di JIS, Ini Alasannya...

Jakpro Tak Bisa Tinggikan Dinding Tribune di JIS, Ini Alasannya...

Megapolitan
Menkumham Yasonna Laoly Digugat ke PTUN DKI karena Turunkan Jabatan Salah Satu Pegawainya

Menkumham Yasonna Laoly Digugat ke PTUN DKI karena Turunkan Jabatan Salah Satu Pegawainya

Megapolitan
Masih Kesulitan Ungkap Pelaku Hipnotis Nenek 78 Tahun di Koja, Polisi: Gambar CCTV Pecah

Masih Kesulitan Ungkap Pelaku Hipnotis Nenek 78 Tahun di Koja, Polisi: Gambar CCTV Pecah

Megapolitan
PPKM Level 1 Jakarta Diperpanjang, Kapasitas Restoran dan Warteg Tetap 100 Persen

PPKM Level 1 Jakarta Diperpanjang, Kapasitas Restoran dan Warteg Tetap 100 Persen

Megapolitan
Cerita Pemuda Rela Antre sejak Pagi di Pameran Bursa Kerja, Demi Melamar Jadi 'Cleaning Service'

Cerita Pemuda Rela Antre sejak Pagi di Pameran Bursa Kerja, Demi Melamar Jadi "Cleaning Service"

Megapolitan
Kawanan Ojol Ringkus Begal di Sawah Besar, Keberadaan Pelaku Terlacak dari Sinyal Ponsel Rampasan

Kawanan Ojol Ringkus Begal di Sawah Besar, Keberadaan Pelaku Terlacak dari Sinyal Ponsel Rampasan

Megapolitan
JNE Kubur Bansos Presiden di Depok, Kemensos: Kami Tidak Kerjasama dengan Ekspedisi Itu...

JNE Kubur Bansos Presiden di Depok, Kemensos: Kami Tidak Kerjasama dengan Ekspedisi Itu...

Megapolitan
Dinas Lingkungan Hidup: Udara di Jakarta Tidak Bagus, tapi Tidak Begitu Banget

Dinas Lingkungan Hidup: Udara di Jakarta Tidak Bagus, tapi Tidak Begitu Banget

Megapolitan
PPKM Level 1 Jakarta Diperpanjang, Kapasitas Mal Tetap 100 Persen

PPKM Level 1 Jakarta Diperpanjang, Kapasitas Mal Tetap 100 Persen

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.