Pihak Qlue Akui, Aduan Berulang Bisa Saja Terjadi

Kompas.com - 03/06/2016, 21:09 WIB
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (ketiga dari kiri) saat berfoto bersama komunitas pelari Indorunners dan CEO Qlue, Rama Aditya dalam acara Lari5Jakarta, di Balai Kota, Sabtu (13/2/2016).  Kompas.com/Kurnia Sari AzizaGubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (ketiga dari kiri) saat berfoto bersama komunitas pelari Indorunners dan CEO Qlue, Rama Aditya dalam acara Lari5Jakarta, di Balai Kota, Sabtu (13/2/2016).
|
EditorEgidius Patnistik

JAKARTA, KOMPAS.com - Head of Communication Qlue, Elita Yunanda, mengatakan ada kemungkinan aduan yang berulang masuk ke aplikasi Qlue. Menurut dia, salah satu alasan itu bisa terjadi adalah ketika pengunduhan gagal saat user atau warga melaporkan aduan ke Qlue.

Menurut Elita, aduan berulang itu bisa terjadi lebih dari dua kali.

"Sangat mungkin (aduan berulang), bisa jadi pas upload, error dan koneksi tidak bagus bahkan bisa berkali-kali, bahkan bisa lebih dari dua dan tiga kali," ujar Elita saat dihubungi Kompas.com, Jumat (3/6/2016).

Namun, aduan yang berulang sudah diantisipasi pihak Qlue. Elita mengatakan untuk aduan yang sama, akan ada sistem yang menghapus aduan tersebut. Sistem secara otomatis akan membaca aduan yang sama, apakah dari kesamaan foto yang di-upload atau lokasi aduan yang sama.

Selain sistem, setiap hari ada admin dari Qlue dan Jakarta Smart City (JSC) yang akan mengawasi setiap aduan yang masuk.

"Jangan lupa ada admin dan JSC yang siap melihat laporannya, semua laporan dilihat dan difilter," ujar Elita.

Namun, Elita menyarankan, kelurahan yang merasa adanya kendala terhadap aduan, bisa langsung menghubungi JSC agar menghapus laporan tersebut karena JSC memiliki kewenangan.

Terkait identitas user yang anonymous, Elita mengatakan hal tersebut dilakukan untuk melindungi keamanan pelapor. Soalnya, verifikasi bisa dilakukan hanya dengan foto, ketarangan foto, dan lokasi, bukan dari siapa yang melapor.

"Selain itu setiap orang bebas melapor di manapun meski bukan warga di daerah itu. Karena validasi berdasarkan foto dan lokasi, bukan nama. Jadi anonymous ya gak apa-apa karena validasi foto, lokasi, dan deskripsi sudah cukup," ujar Elita.

Sebelumnya, Kelurahan Pejagalan di Jakarta Utara mempermasalahkan aduan yang berulang yang masuk ke aplikasi Qlue. Selain itu, pihak kelurahan juga mempertanyakan identitas pelapor yang diduga bukan berasal dari warga Kelurahan Pejagalan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Resmi Berlaku, Syarat Naik Kereta dengan Tes GeNose Maksimal 3x24 Jam

Resmi Berlaku, Syarat Naik Kereta dengan Tes GeNose Maksimal 3x24 Jam

Megapolitan
Jam Operasional Diperpanjang, Pengusaha Mal Tetap Minta Dikecualikan dari Pembatasan

Jam Operasional Diperpanjang, Pengusaha Mal Tetap Minta Dikecualikan dari Pembatasan

Megapolitan
Mulai 5 Februari, Pengecekan Covid-19 dengan GeNose Tersedia di Stasiun Gambir dan Yogyakarta

Mulai 5 Februari, Pengecekan Covid-19 dengan GeNose Tersedia di Stasiun Gambir dan Yogyakarta

Megapolitan
Olah TKP Kasus Begal Pesepeda di Jalan Latumenten, Polisi Sisir Kamera CCTV

Olah TKP Kasus Begal Pesepeda di Jalan Latumenten, Polisi Sisir Kamera CCTV

Megapolitan
Dishub DKI Keluarkan SK Juknis Transportasi Selama PSBB Ketat, Pengemudi Ojek Dilarang Berkerumun

Dishub DKI Keluarkan SK Juknis Transportasi Selama PSBB Ketat, Pengemudi Ojek Dilarang Berkerumun

Megapolitan
Jam Operasional Mal Diperpanjang, Pengusaha Harap Bisa Kembalikan Peak Hour

Jam Operasional Mal Diperpanjang, Pengusaha Harap Bisa Kembalikan Peak Hour

Megapolitan
Pesepeda Dibegal di Jalan Latumenten Jakbar, 1 Unit Ponsel Raib

Pesepeda Dibegal di Jalan Latumenten Jakbar, 1 Unit Ponsel Raib

Megapolitan
Dua Pekan Pelaksanaan PSBB Ketat, 237 Tempat Usaha Dijatuhi Sanksi

Dua Pekan Pelaksanaan PSBB Ketat, 237 Tempat Usaha Dijatuhi Sanksi

Megapolitan
33.340 WNA Masuk Indonesia Lewat Bandara Soekarno-Hatta di Masa Pembatasan Kedatangan Warga Asing

33.340 WNA Masuk Indonesia Lewat Bandara Soekarno-Hatta di Masa Pembatasan Kedatangan Warga Asing

Megapolitan
Wagub DKI: Tanpa Warga Luar Jakarta, Okupansi RS di Jakarta Hanya 60 Persen

Wagub DKI: Tanpa Warga Luar Jakarta, Okupansi RS di Jakarta Hanya 60 Persen

Megapolitan
Pemprov DKI Diminta Libatkan Tokoh Agama Cegah Penyebaran Covid-19

Pemprov DKI Diminta Libatkan Tokoh Agama Cegah Penyebaran Covid-19

Megapolitan
Kasus Covid-19 di Jakarta Bertambah 2.314, Angka Kematian Kembali Tertinggi

Kasus Covid-19 di Jakarta Bertambah 2.314, Angka Kematian Kembali Tertinggi

Megapolitan
UPDATE 26 Januari: Ada 46 Kasus Baru Covid-19 di Kota Tangerang, 69 Orang Sembuh

UPDATE 26 Januari: Ada 46 Kasus Baru Covid-19 di Kota Tangerang, 69 Orang Sembuh

Megapolitan
UPDATE 26 Januari: Bertambah 39 Kasus Covid-19 di Tangsel, 3 Pasien Meninggal

UPDATE 26 Januari: Bertambah 39 Kasus Covid-19 di Tangsel, 3 Pasien Meninggal

Megapolitan
Polisi Masih Lengkapi Berkas Perkara Kasus Video Syur Gisel dan Michael Yukinobu

Polisi Masih Lengkapi Berkas Perkara Kasus Video Syur Gisel dan Michael Yukinobu

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X