Kompas.com - 08/06/2016, 19:29 WIB
|
EditorIndra Akuntono

JAKARTA, KOMPAS.com — Jaksa penuntut umum (JPU) membeberkan kekerasan fisik yang dilakukan mantan anggota DPR RI, Fanny Safriyansah alias Ivan Haz, terhadap pembantunya, T. Kekerasan fisik itu terjadi lebih dari lima kali. 

Memurut JPU, Ivan mulai melakukan kekerasan fisik terhadap T sekitar Juni 2015. Saat itu T meminta izin kepada Ivan untuk pulang kampung karena sebelumnya tidak mendapat libur. 

"Kemudian tiba-tiba terdakwa memukul bagian belakang kepala saksi T dengan tangan kosong sebanyak satu kali dan bantal sebanyak tiga kali," kata JPU, Wahyu Oktavianto, di PN Jakarta Pusat, Rabu (8/6/2016). 

Akibat pemukulan itu, T terjatuh dan kepalanya terbentur tembok. Akibatnya, kepala bagian belakang dan punggung T mengalami memar. 

Ivan juga pernah memaki T dengan kata-kata kasar. Pada Agustus 2015, kekerasan fisik oleh Ivan terhadap T terulang. 

Saat itu T tengah mengasuh anak Ivan yang menangis. Ivan memarahi T lantaran tidak bisa menghentikan tangisan anaknya. Ivan menghampiri T dan langsung memukul bagian mata serta telinga T dengan tangan kosong.

TRIBUN NEWS / HERUDIN Mantan anggota DPR Fanny Safriansyah alias Ivan Haz menjalani sidang dakwaan atas dirinya di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (8/6/2016). Ivan Haz diduga melakukan pengangiayaan terhadap pembantunya dan dijerat dengan pasal 44 dan pasal 45 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Pemberantasan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan diancam lebih dari penjara lima tahun.
 
Ivan juga sempat memanggil keluar T ketika tengah mengasuh anaknya. Saat T keluar, Ivan langsung memukul T dengan tangan kosong. Keesokan harinya mata T mengalami bengkak dan merah. 

Pada September 2015, di unit apartemen milik Ivan, T kembali mengalami kekerasaan. Menurut JPU, punggung T dipukul dengan tangan kosong. Masih pada bulan yang sama, Ivan juga pernah memukul T hingga terjatuh. 

Terakhir, kepala T pernah dipukul Ivan menggunakan botol semprotan anti-nyamuk. Hingga akhirnya pada 30 September 2015, T tak tahan dengan siksaan Ivan dan melarikan diri. 

Koordinator Jaringan Nasional Advokasi Pembantu Rumah Tangga (Jala PRT) Lita Anggraini mengungkapkan, deretan kekerasan yang dilakukan oleh Ivan Haz terhadap T belum sepenuhnya tertuang dalam dakwaan JPU. 

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.