Kompas.com - 24/06/2016, 20:34 WIB
Kamis (23/6/2016), Abdul Azis atau Daeng Azis mengajukan pledoi atau pembelaan atas tuntutan jaksa penuntut umum yang meminta majelis hakim menjatuhinya dengan hukuman penjara selama satu tahun Kompas.com/David Oliver PurbaKamis (23/6/2016), Abdul Azis atau Daeng Azis mengajukan pledoi atau pembelaan atas tuntutan jaksa penuntut umum yang meminta majelis hakim menjatuhinya dengan hukuman penjara selama satu tahun
|
EditorFidel Ali

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan penguasa Kalijodo, Abdul Azis atau Daeng Azis menilai ada fakta yang disembunyikan oleh pihak kepolisian yang tidak disampaikan saat persidangan.

Pentolan Kalijodo itu mengatakan, ada sejumlah bukti acara pemeriksaan (BAP) yang tidak disampaikan oleh kepolisian saat dirinya diperiksa di Polres Jakarta Utara.

Sejumlah keterangan itu kata Azis seperti denda Rp 69 juta yang dia berikan kepada oknum yang diduga mitra PLN, serta nama-nama orang yang dianggap Azis merupakan pelaku utama dalam kasus pencurian listrik, namun tidak pernah dipanggil saat persidangan. Azis bahkan berani menyebut bahwa kasus yang menimpanya seperti direkayasa.

"Ini sudah direkayasa, Willi (oknum PLN) dan Sanai (karyawan Azis) saya sudah sebutkan saat di-BAP tapi mereka tidak pernah dibawa ke persidangan ini," ujar Azis di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jumat (24/6/2016).

Keluarga Azis, Lusi juga mengatakan bahwa sejumlah keterangan tambahan yang disampaikan Azis tidak pernah ada di BAP. Lusi menjelaskan, dirinya mendampingi Azis saat memberikan BAP tambahan tersebut setelah Azis diamankan pihak kepolisian.

"Kami baru tahunya kemarin-kemarin ini kalau semua keterangan yang Pak Azis tahu tidak disebutkan di BAP," ujar Lusi.

Menurut Lusi, keterangan itu sebenarnya bisa meringankan Azis dalam menghadapi kasus pencurian listrik tersebut. Jaksa Penuntut Umum di persidangan Azis, Melda Siagian mengaku pernyataan denda yang diberikan Azis sebesar Rp 69 juta kepada PLN dan nama-nama yang diduga sebagai pelaku utama pemasang listrik ilegal oleh Azis, menurutnya tidak pernah ada dalam BAP.

Melda mengatakan, seluruh pernyataan itu baru dia dengar dari fakta-fakta di persidangan.

"Kami mendapatkan BAP dari penyidik, dan semua keterangan yang disampaikan Pak Azis barusan kami baru dengar dari fakta-fakta di persidangan," ujar Melda.

Pentolan kawasan prostitusi Kalijodo, Daeng Azis, ditangkap aparat Polres Metro Jakarta Utara pada 26 Februari 2016 di sebuah tempat di Jakarta Pusat. Azis dituntut hukuman penjara satu tahun karena dinilai menggunakan listrik yang bukan haknya.

Azis telah mengajukan pledoi atau pembelaan di mana dia menyangkal bahwa dirinya merupakan pelaku utama dari kasus pemasangan listrik ilegal itu. Putusan oleh majelis hakim untuk tuntutan Azis akan digelar pada Rabu pekan depan. (Baca: Pengakuan Daeng Azis, dari Pemasok Bir hingga Pencurian Listrik)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kantor Pinjol di Kawasan PIK Digerebek Polisi

Kantor Pinjol di Kawasan PIK Digerebek Polisi

Megapolitan
Pemuda Disekap hingga Tewas, Polisi Sebut Pelaku Sakit Hati Tak Diajak Korban Cari Kerja

Pemuda Disekap hingga Tewas, Polisi Sebut Pelaku Sakit Hati Tak Diajak Korban Cari Kerja

Megapolitan
Keluarga Kakek 89 Tahun Korban Pengeroyokan di Cakung Datangi Mapolres Jakarta Timur

Keluarga Kakek 89 Tahun Korban Pengeroyokan di Cakung Datangi Mapolres Jakarta Timur

Megapolitan
Harga dari Distributor Masih Tinggi, Pedagang di Pasar Serpong Belum Jual Minyak Goreng Rp 14.000 Per Liter

Harga dari Distributor Masih Tinggi, Pedagang di Pasar Serpong Belum Jual Minyak Goreng Rp 14.000 Per Liter

Megapolitan
90 Sekolah di Ibu Kota Ditutup Sementara karena Covid-19, PTM di Jakarta Utara Tetap Berlangsung

90 Sekolah di Ibu Kota Ditutup Sementara karena Covid-19, PTM di Jakarta Utara Tetap Berlangsung

Megapolitan
Ciri Pelaku Pencurian Dua Sepeda Motor di Sawah Besar Sudah Diketahui Polisi

Ciri Pelaku Pencurian Dua Sepeda Motor di Sawah Besar Sudah Diketahui Polisi

Megapolitan
PN Jakarta Barat Ditutup Sementara, 13 Orang Positif Covid-19

PN Jakarta Barat Ditutup Sementara, 13 Orang Positif Covid-19

Megapolitan
BK DPRD DKI Jadwalkan Pemeriksaan Ulang Prasetyo Edi Pekan Depan

BK DPRD DKI Jadwalkan Pemeriksaan Ulang Prasetyo Edi Pekan Depan

Megapolitan
Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Melonjak, Wali Kota Arief Duga Banyak Pasien Suspek Omicron

Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Melonjak, Wali Kota Arief Duga Banyak Pasien Suspek Omicron

Megapolitan
Kasus Covid-19 Melonjak, BOR RS Rujukan di Kota Tangerang Naik Jadi 13 Persen

Kasus Covid-19 Melonjak, BOR RS Rujukan di Kota Tangerang Naik Jadi 13 Persen

Megapolitan
Saksi Ungkap Alasan Munarman Jadi Pemateri di Acara Baiat ISIS, Terkenal dan Sering Tampil di Media

Saksi Ungkap Alasan Munarman Jadi Pemateri di Acara Baiat ISIS, Terkenal dan Sering Tampil di Media

Megapolitan
Polisi Tangkap Pemuda yang Sekap Temannya hingga Tewas di Kamar Mandi Sebuah Rumah di Jatiwaringin

Polisi Tangkap Pemuda yang Sekap Temannya hingga Tewas di Kamar Mandi Sebuah Rumah di Jatiwaringin

Megapolitan
Revitalisasi TMII, Snowbay hingga Museum yang Terbengkalai Akan Dibongkar

Revitalisasi TMII, Snowbay hingga Museum yang Terbengkalai Akan Dibongkar

Megapolitan
Ketua Dewan Penasehat Sirkuit Mandalika Pesimis Lintasan Formula E Bisa Selesai

Ketua Dewan Penasehat Sirkuit Mandalika Pesimis Lintasan Formula E Bisa Selesai

Megapolitan
Kasus Covid-19 Meningkat, Ada Kemungkinan PPKM di Depok Jadi Level 3

Kasus Covid-19 Meningkat, Ada Kemungkinan PPKM di Depok Jadi Level 3

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.