Kompas.com - 25/06/2016, 13:58 WIB
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama hadir dalam perayaan 1 juta KTP di Markas Teman Ahok, Graha Pejaten, Minggu (19/6/2016). Jessi Carina Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama hadir dalam perayaan 1 juta KTP di Markas Teman Ahok, Graha Pejaten, Minggu (19/6/2016).
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Andreas Pareira mengatakan, pihaknya sedang mengamati perkembangan saat ini terkait Pilkada DKI 2017.

Salah satunya yakni sosok petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang sekarang didukung relawan dan juga partai politik.

Andreas mengatakan, keputusan PDI Perjuangan memang sedang ditunggu-tunggu, apakah akan mendukung Ahok atau maju dengan calon sendiri.

Kalau PDI-P mendukung Ahok, kata Andreas, maka hasil pilkada ini sudah bisa ditebak. Namun, Andreas mengungkit soal relawan Ahok, Teman Ahok, yang awalnya menolak partai politik.

"Dari awal ketika start awal dengan teman-temannya Pak Ahok ini justru melarang kalau partai politik mendukung, jadi harus minta izin dulu dari Teman Ahok," kata Andreas, dalam talkshow radio dengan topik "Ahok Galau, Teman Risau" di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (25/6/2016).

Namun, belakangan PDI-P mengamati masuknya sejumlah partai politik menjadi pendukung, tanpa perlu melalui proses izin Teman Ahok.

Andreas mempertanyakan hal itu. Sebab, ketika Ahok didukung banyak relawan, ada dua ikon yang terbentuk. Pertama kelompok yang berpusat pada tujuan agar Ahok jadi gubernur. Kedua yakni kelompok yang jadi ikon perlawanan terhadap partai politik.

"Yang jadi ikon perlawanan partai politik itu kemudian gugur dengan sendirinya ketika partai politik ini lolos-lolos begitu saja (mendukung) tanpa harus minta izin (Teman Ahok)," ujar Andreas.

Andreas mengatakan, PDI-P akan melihat dan mengamati aslinya relawan ini. "Kita lihat nanti mereka akan membuka dirinya sendiri. Artinya mereka dari kelompok ini yang akan membuka sebenarnya kami ini apa," ujar Andreas.

Karena, dengan adanya dukungan parpol, Andreas melihat bahwa pendukung yang memberikan KTP untuk Ahok pasti akan bereaksi.

"Kan Kelihatan juga, satu juta orang yang sudah menberikan tanda tangan apakah mereka akan diam saja. Itu suatu hal," ujar Andreas.

Sehingga, menurut dia, menarik bagi PDI-P untuk menyimak perkembangan saat ini.

"Kalau melihat perkembangan sekarang justru lebih menarik jadi pengamat. Mengamati gerak yang terjadi, ada yang galau, ada yang risau," ujar Andreas.

Kompas TV Untung Rugi Dua Pilihan Jalan Ahok
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Konvoi Mobil Mewah yang Berhenti di Tol untuk Berfoto Tidak Ditilang, Hanya Ditegur Polisi

Konvoi Mobil Mewah yang Berhenti di Tol untuk Berfoto Tidak Ditilang, Hanya Ditegur Polisi

Megapolitan
2 Pasien Omicron Meninggal Dunia, Dinkes DKI: Kita Tidak Boleh Anggap Enteng

2 Pasien Omicron Meninggal Dunia, Dinkes DKI: Kita Tidak Boleh Anggap Enteng

Megapolitan
Wagub DKI Sebut Penularan Covid-19 di Sekolah Sedikit, Ahli: Pelacakannya Harus Cermat

Wagub DKI Sebut Penularan Covid-19 di Sekolah Sedikit, Ahli: Pelacakannya Harus Cermat

Megapolitan
Resmi, Street Race Kabupaten Bekasi di Meikarta Akan Digelar Februari

Resmi, Street Race Kabupaten Bekasi di Meikarta Akan Digelar Februari

Megapolitan
Konvoi Mobil Mewah Berhenti di Tol untuk Sesi Dokumentasi, Langsung Ditegur Polisi

Konvoi Mobil Mewah Berhenti di Tol untuk Sesi Dokumentasi, Langsung Ditegur Polisi

Megapolitan
Kronologi Kecelakaan 2 Truk di Depan Balai Kartini yang Tewaskan 1 Sopir...

Kronologi Kecelakaan 2 Truk di Depan Balai Kartini yang Tewaskan 1 Sopir...

Megapolitan
Dua Orang Awak Angkut Bandara Asal China Diperiksa Usai Bawa Kargo Tanpa Pemberitahuan

Dua Orang Awak Angkut Bandara Asal China Diperiksa Usai Bawa Kargo Tanpa Pemberitahuan

Megapolitan
Daftar Lokasi Vaksinasi Covid-19 Dosis Booster di DKI Jakarta

Daftar Lokasi Vaksinasi Covid-19 Dosis Booster di DKI Jakarta

Megapolitan
Kecelakaan antara Dua Truk di Jalan Gatot Soebroto, Satu Sopir Tewas

Kecelakaan antara Dua Truk di Jalan Gatot Soebroto, Satu Sopir Tewas

Megapolitan
Pencopetan di Terminal Pulogadung Terekam Kamera Warga, Polisi Ringkus Pelaku

Pencopetan di Terminal Pulogadung Terekam Kamera Warga, Polisi Ringkus Pelaku

Megapolitan
Rute Transjakarta Ciputat-Tosari Akan Beroperasi Senin-Jumat pada Jam Sibuk

Rute Transjakarta Ciputat-Tosari Akan Beroperasi Senin-Jumat pada Jam Sibuk

Megapolitan
Mulai Senin, Rute Transjakarta Ciputat-Tosari Kembali Beroperasi

Mulai Senin, Rute Transjakarta Ciputat-Tosari Kembali Beroperasi

Megapolitan
Pasien yang Diduga Meninggal akibat Varian Omicron Sempat Dirawat Intensif Dua Hari

Pasien yang Diduga Meninggal akibat Varian Omicron Sempat Dirawat Intensif Dua Hari

Megapolitan
Menyoal Kenaikan 5,1 Persen UMP DKI Jakarta 2022

Menyoal Kenaikan 5,1 Persen UMP DKI Jakarta 2022

Megapolitan
Minta Masyarakat Waspada Penularan Omicron, Wagub DKI: Tidak Boleh Anggap Enteng

Minta Masyarakat Waspada Penularan Omicron, Wagub DKI: Tidak Boleh Anggap Enteng

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.