Potret Harapan di Rumah Susun Jakarta

Kompas.com - 02/09/2016, 17:18 WIB
Anak-anak warga Kalijodo saat menikmati fasilitas permainan anak yang ada di ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) yang ada di Rusunawa Pulogebang, Jakarta Timur, Senin (22/2/2016). Kompas.com/Alsadad RudiAnak-anak warga Kalijodo saat menikmati fasilitas permainan anak yang ada di ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) yang ada di Rusunawa Pulogebang, Jakarta Timur, Senin (22/2/2016).
EditorWisnubrata

“Sudah lama saya ingin tinggal di rumah susun.” Ibu Wiwid, penghuni rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Pulogebang, Jakarta Timur, itu memulai kisahnya.

Ia menerima kunci rumah di hari ketika ia mendaftar masuk rumah susun. Ketika ia melihat wujud rumah yang akan ditempatinya, ia terperangah “benarkah ini rumah saya?”

Ia bahkan mengatakan “mendapat rumah begini, saya seperti mendapat emas segede gunung. Terima kasih, ya Allah.”

Beberapa waktu yang lalu, saya mendatangi salah satu rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) di Jakarta. Saya mengunjungi yang terbesar.

Rumah susun Pulo Gebang, Jakarta Timur, dibangun sejak masa pemerintahan Fauzi Bowo, yakni blok A dan B. Sementara blok C sampai H dibangun pada masa gubernur Basuki Cahaya Purnama. Di rumah susun ini, bermukim warga dari pelbagai wilayah relokasi di Jakarta.

Sebelum pindah ke rumah susun, Ibu Wiwid tinggal di pasar. Ibu Wiwid mengenang penderitaannya. Di depan tempat tinggalnya adalah penjual ikan. Di samping kiri dan kanannya adalah penjual jagung dan sayuran lain.

“Dulu sering digigit tikus,” kenangnya.

Tempat yang ia sebut tempat tinggal itu adalah sebuah petak segi empat. Di situ ia berjualan. Di situ ia mencari nafkah. Dan di situ pula ia tinggal. Tentu saja illegal. Dan Ibu Wiwid menyadarinya.

Suatu ketika, Ibu Wiwid mengunjungi salah satu temannya, seseorang yang tinggal di rumah susun. Ia begitu kagum dengan rumah itu. Sejak saat itu, dia selalu berangan-angan untuk tinggal di rumah susun.

Mendapat jatah rumah susun dari pemerintah provinsi DKI Jakarta adalah berkah terbesar yang ia peroleh. Sejak pindah ke rumah susun, dia mengaku hampir tidak pernah melihat tikus.

Pengalaman serupa juga dirasakan Ibu Sri, warga Rusunawa pindahan dari Pluit. Anugerah terbesar yang ia syukuri adalah bahwa ia sekarang bisa hidup bersama dengan semua anaknya.

Di tempat lama, keluarga ini terpencar untuk menyiasati ruang yang sempit. Sebagian anaknya dititipkan pada familinya. Rumah susun mempersatukan keluarga ini.

Pada mulanya, warga masuk ke Rusun melalui mekanisme pendaftaran sukarela. Mereka berasal dari pemukiman-pemukiman sangat kumuh dan rawan banjir. Banyak warga yang tidak percaya bahwa mereka bisa mendapatkan rumah susun dengan begitu mudah.

Visi Perumahan

Dalam visi menghadirkan Jakarta yang baru, Gubernur Basuki Cahaya Purnama memang memberi perhatian ekstra pada sektor pemukiman warga.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dinas LH DKI: Uji Emisi Sepeda Motor Secara Masif Dalam Tahap Persiapan

Dinas LH DKI: Uji Emisi Sepeda Motor Secara Masif Dalam Tahap Persiapan

Megapolitan
Harga Cabai Rawit Merah Naik, Pedagang Kurangi Stok Jualan

Harga Cabai Rawit Merah Naik, Pedagang Kurangi Stok Jualan

Megapolitan
Polisi Kesulitan Ungkap Kelompok Pembacok 2 Remaja di Rengas Tangsel

Polisi Kesulitan Ungkap Kelompok Pembacok 2 Remaja di Rengas Tangsel

Megapolitan
2 Aktivis Papua Ditangkap dengan Tuduhan Pengeroyokan dan Pencurian

2 Aktivis Papua Ditangkap dengan Tuduhan Pengeroyokan dan Pencurian

Megapolitan
Mayat di Jalan Swadharma Pesanggrahan Negatif Covid-19 dan Tak Ada Bekas Kekerasan

Mayat di Jalan Swadharma Pesanggrahan Negatif Covid-19 dan Tak Ada Bekas Kekerasan

Megapolitan
Ditertibkan Saat Main Skateboard di Trotoar Bundaran HI, Pria Ini Mengaku Ditendang Satpol PP

Ditertibkan Saat Main Skateboard di Trotoar Bundaran HI, Pria Ini Mengaku Ditendang Satpol PP

Megapolitan
Pria yang Lakukan Parkour di Flyover Kemayoran Diamankan Polisi, lalu Dipulangkan Usai Diberi Peringatan

Pria yang Lakukan Parkour di Flyover Kemayoran Diamankan Polisi, lalu Dipulangkan Usai Diberi Peringatan

Megapolitan
Cerita Aziz, Juru Parkir yang Berjalan Merangkak Saat Mencari Rezeki demi Orang Tua Pergi Umrah

Cerita Aziz, Juru Parkir yang Berjalan Merangkak Saat Mencari Rezeki demi Orang Tua Pergi Umrah

Megapolitan
Jenazah Pria Ditemukan Tergeletak di Trotoar di Pesanggrahan

Jenazah Pria Ditemukan Tergeletak di Trotoar di Pesanggrahan

Megapolitan
Dishub: Belum Ada Layanan dan Izin Operasi Taksi Udara di Tangsel

Dishub: Belum Ada Layanan dan Izin Operasi Taksi Udara di Tangsel

Megapolitan
Virus Corona Baru yang Masuk Lewat Soetta Lebih Menular dan Mematikan

Virus Corona Baru yang Masuk Lewat Soetta Lebih Menular dan Mematikan

Megapolitan
1.000 Pengemudi Transportasi Umum di Kota Tangerang Disuntik Vaksin Covid-19 Hari Ini

1.000 Pengemudi Transportasi Umum di Kota Tangerang Disuntik Vaksin Covid-19 Hari Ini

Megapolitan
Rencana KBM Tatap Muka di Tangsel, PAUD dan TK Dibuka Paling Akhir

Rencana KBM Tatap Muka di Tangsel, PAUD dan TK Dibuka Paling Akhir

Megapolitan
Untuk Pertama Kalinya, Jakarta Keluar dari Zona Merah Covid-19, Benarkah Corona Sudah Terkendali?

Untuk Pertama Kalinya, Jakarta Keluar dari Zona Merah Covid-19, Benarkah Corona Sudah Terkendali?

Megapolitan
Dishub Tegaskan Belum Ada Izin Taksi Udara di Depok

Dishub Tegaskan Belum Ada Izin Taksi Udara di Depok

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X