Jaksa: Apakah Motif Perlu Dibuktikan dalam Pembunuhan Berencana?

Kompas.com - 26/09/2016, 17:40 WIB
Calon jaksa dari seluruh Indonesia yang tengah mengikuti pendidikan dan pelatihan pembentukan jaksa (PPPJ) mengikuti sidang lanjutan terdakwa Jessica Kumala Wongso di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (14/9/2016). Dr rer nat (Doktor Ilmu Sains) Budiawan, ahli toksikologi kimia dihadirkan pihak Jessica Kumala Wongso sebagai saksi meringankan. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOCalon jaksa dari seluruh Indonesia yang tengah mengikuti pendidikan dan pelatihan pembentukan jaksa (PPPJ) mengikuti sidang lanjutan terdakwa Jessica Kumala Wongso di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (14/9/2016). Dr rer nat (Doktor Ilmu Sains) Budiawan, ahli toksikologi kimia dihadirkan pihak Jessica Kumala Wongso sebagai saksi meringankan.
Penulis Nursita Sari
|
EditorFidel Ali

JAKARTA, KOMPAS.com — Jaksa penuntut umum dalam kasus kematian Wayan Mirna Salihin, Shandy Handika, bertanya kepada ahli hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia, Mudzakkir, mengenai pembuktian motif dalam kasus Pasal 340 KUHP atau pembunuhan berencana.

"Saya setuju motif itu ada, tetapi apakah harus dibuktikan dalam konteks Pasal 340?" tanya Shandy dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (26/9/2016).

Mudzakkir menuturkan, motif dalam pembunuhan berencana harus dibuktikan untuk mengetahui hal yang melatarbelakangi ataupun tujuan lebih lanjut setelah pelaku melakukan pembunuhan.

Dengan demikian, penegakan hukum dilakukan dengan adil. Shandy kemudian menanyakan apa yang harus dilakukan apabila pelaku tidak mau menjelaskan motif dirinya melakukan pembunuhan tersebut.

Mudzakkir menjawab bahwa hal tersebut merupakan urusan pembuktian, yakni bagaimana teknik penyidik menggali pembuktikan kasus tersebut.

"Membuktikan motif tidak harus dengan dirinya (pelaku), orang lain juga bisa. Itulah konteks investigasi supaya penegakan hukumnya clear dan jelas," kata Mudzakkir.

Dia menjelaskan, motif selalu dijelaskan dalam tindak pidana. Dia sering membaca di media massa mengenai motif-motif yang mendasari suatu kejahatan.

"Sebenarnya tergantung pada teknik pembuktian. Kalau misalnya motif dalam kasus tertentu ternyata enggak bisa (digali), pertanyaannya profesionalisme proses penyidikannya di mana?" kata Mudzakir. (Baca: Hakim Sidang Jessica: Masa Ahli Ditanya di Mana Racunnya, Sih?)

Dalam kasus ini, Mirna meninggal setelah meminum es kopi vietnam yang dipesan oleh Jessica Kumala Wongso di Kafe Olivier, Grand Indonesia, Rabu (6/1/2016). Jessica menjadi terdakwa kasus tersebut. JPU mendakwa Jessica dengan dakwaan tunggal, yakni Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Harga Sapi Kurban di Jaksel Berkisar antara Rp 16 Juta hingga Rp 90 Juta

Harga Sapi Kurban di Jaksel Berkisar antara Rp 16 Juta hingga Rp 90 Juta

Megapolitan
UI Kerja Sama dengan Kementerian Desa Riset Program Ketahanan Ekonomi

UI Kerja Sama dengan Kementerian Desa Riset Program Ketahanan Ekonomi

Megapolitan
Persebaran Kasus Covid-19 di Kawasan Industri, dari Toyota hingga Unilever

Persebaran Kasus Covid-19 di Kawasan Industri, dari Toyota hingga Unilever

Megapolitan
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di Tangsel Dilakukan Secara Daring

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di Tangsel Dilakukan Secara Daring

Megapolitan
Kepatuhan Warga Rendah, Wagub DKI Minta Dewan Kota/Kabupaten Sosialisasi Protokol Pencegahan Covid-19

Kepatuhan Warga Rendah, Wagub DKI Minta Dewan Kota/Kabupaten Sosialisasi Protokol Pencegahan Covid-19

Megapolitan
UPDATE 9 Juli: 13 Kelurahan di Depok Masih di Zona Merah Covid-19

UPDATE 9 Juli: 13 Kelurahan di Depok Masih di Zona Merah Covid-19

Megapolitan
Virus Corona Menyebar di Udara, Ini Saran Epidemiolog Terkait Aktivitas Bioskop

Virus Corona Menyebar di Udara, Ini Saran Epidemiolog Terkait Aktivitas Bioskop

Megapolitan
Mobil Tercebur di Kalimalang, Anak Tiga Tahun Masih Dicari

Mobil Tercebur di Kalimalang, Anak Tiga Tahun Masih Dicari

Megapolitan
Pemprov DKI Masih Larang Resepsi Pernikahan karena Rentan Penularan Covid-19

Pemprov DKI Masih Larang Resepsi Pernikahan karena Rentan Penularan Covid-19

Megapolitan
Daftar 52 Kelurahan di Kota Tangerang yang Masih Ada Kasus Covid-19

Daftar 52 Kelurahan di Kota Tangerang yang Masih Ada Kasus Covid-19

Megapolitan
5 Fakta Aksi WN Perancis Predator Paedofil, Modus Jadi Fotografer hingga 305 Anak Jadi Korban

5 Fakta Aksi WN Perancis Predator Paedofil, Modus Jadi Fotografer hingga 305 Anak Jadi Korban

Megapolitan
Kisah Arista Peraih Ratusan Penghargaan yang Pilih Putus Sekolah Setelah Gagal PPDB Jakarta

Kisah Arista Peraih Ratusan Penghargaan yang Pilih Putus Sekolah Setelah Gagal PPDB Jakarta

Megapolitan
Sedang Dorong Sepeda karena Ban Bocor, Lansia di Depok Meninggal

Sedang Dorong Sepeda karena Ban Bocor, Lansia di Depok Meninggal

Megapolitan
Mobil Tercebur ke Kalimalang, Ibu Ditemukan Meninggal, Anak Hanyut

Mobil Tercebur ke Kalimalang, Ibu Ditemukan Meninggal, Anak Hanyut

Megapolitan
Kisah Petugas Kebersihan KRL Temukan Uang Rp 500 Juta, Mengira Sampah hingga Kembalikan ke Pemilik

Kisah Petugas Kebersihan KRL Temukan Uang Rp 500 Juta, Mengira Sampah hingga Kembalikan ke Pemilik

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X