Kompas.com - 12/10/2016, 16:46 WIB
Sebanyak empat tiang listrik berdiri di tengah Jalan Raya Ciater, Tangerang Selatan, Selasa (31/5/2016). Keberadaan tiang listrik di tengah jalan ini kerap membuat pengendara terlibat kecelakaan di daerah tersebut. KOMPAS.com/ANDRI DONNAL PUTERASebanyak empat tiang listrik berdiri di tengah Jalan Raya Ciater, Tangerang Selatan, Selasa (31/5/2016). Keberadaan tiang listrik di tengah jalan ini kerap membuat pengendara terlibat kecelakaan di daerah tersebut.
EditorEgidius Patnistik

TANGERANG SELATAN, KOMPAS — Berbagai proyek pembangunan jalan di Tangerang Selatan mengalami hambatan, terutama terkait dengan pembebasan lahan. Padahal, pembangunan jalan mendesak untuk mengatasi kemacetan yang kerap terjadi di banyak titik karena ruas jalan yang sempit.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Tangsel Retno Prawati, Selasa (11/10), mencontohkan pembangunan Jalan Siliwangi sepanjang 10,1 kilometer yang masih belum selesai di beberapa titik. Jalan itu merupakan jalan provinsi yang dikerjakan Pemerintah Provinsi Banten.

Tampak ada beberapa titik yang belum dapat digarap karena lahannya belum dibebaskan, misalnya di dekat Situ Tujuh Muara (Situ Ciledug). Peralihan jalan beton ke jalan yang rusak sangat mengganggu para pengguna jalan dan membahayakan. Hal ini menimbulkan kemacetan terutama di pagi hari.

Namun, pihak pemkot tidak dapat mempercepat pembangunan tersebut.

"Yang dapat kami lakukan sebatas mendorong pemerintah provinsi. Sebab, kalau kami yang tangani bisa melanggar aturan," ujarnya.

Selain proyek tersebut, rencana pembangunan jalan layang Gaplek juga masih belum terealisasi karena masih ada tujuh warga yang belum melepas tanahnya.

"Sekarang statusnya menunggu putusan Mahkamah Agung," ujar Retno.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia menuturkan, sulitnya persoalan pembebasan lahan terjadi di setiap proyek. Harga tanah di Tangsel sudah melambung tinggi. Karena itu, warga sulit melepas lahannya. Pembangunan Jalan Ciater Raya saja membutuhkan waktu hingga empat tahun.

Selain itu, banyak jalan lingkungan yang rusak, tetapi statusnya bukan merupakan jalan lingkungan yang berada di bawah wewenang Pemkot Tangsel, tetapi masih dikelola pengembang.

"Kalau kasusnya seperti ini, misalnya perumahan sudah ditinggal oleh pengembangnya dan tidak ada yang bertanggung jawab, warga dapat mengajukan pengalihan status jalan," kata Retno.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemkot Jakpus Temukan Sumur Resapan Perkantoran Tak Berfungsi

Pemkot Jakpus Temukan Sumur Resapan Perkantoran Tak Berfungsi

Megapolitan
Pemprov DKI Raih Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik 4 Kali Berturut-Turut

Pemprov DKI Raih Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik 4 Kali Berturut-Turut

Megapolitan
Pengunjung Pasar Anyar dan Pasar Poris Diimbau Pakai PeduliLindungi

Pengunjung Pasar Anyar dan Pasar Poris Diimbau Pakai PeduliLindungi

Megapolitan
Hasil Olah TKP, Kecepatan Bus Transjakarta Saat Tabrakan di Cawang 55,4 Km Per Jam

Hasil Olah TKP, Kecepatan Bus Transjakarta Saat Tabrakan di Cawang 55,4 Km Per Jam

Megapolitan
Ini Nomor Kontak Darurat bagi Warga yang Terkena Bencana di Kota Tangerang

Ini Nomor Kontak Darurat bagi Warga yang Terkena Bencana di Kota Tangerang

Megapolitan
Pemkot Bekasi Klaim Capaian Vaksin Covid-19 Dosis Pertama Capai 71,85 Persen

Pemkot Bekasi Klaim Capaian Vaksin Covid-19 Dosis Pertama Capai 71,85 Persen

Megapolitan
Dimulai di Era Ahok, Kini Anies Lanjutkan Kerja Sama dengan NTT untuk Pengadaan Daging Sapi

Dimulai di Era Ahok, Kini Anies Lanjutkan Kerja Sama dengan NTT untuk Pengadaan Daging Sapi

Megapolitan
Jasad Seorang Pria Ditemukan di Bak Mobil Pikap, Awalnya Dikira Sedang Tiduran

Jasad Seorang Pria Ditemukan di Bak Mobil Pikap, Awalnya Dikira Sedang Tiduran

Megapolitan
1,8 Juta Warga Belum Divaksin, Pemprov DKI Jakarta Gencarkan Vaksinasi Malam Hari

1,8 Juta Warga Belum Divaksin, Pemprov DKI Jakarta Gencarkan Vaksinasi Malam Hari

Megapolitan
Update 6 Korban Kecelakaan Transjakarta yang Dirawat di RSUD Budhi Asih, 2 Orang Boleh Pulang

Update 6 Korban Kecelakaan Transjakarta yang Dirawat di RSUD Budhi Asih, 2 Orang Boleh Pulang

Megapolitan
Pelaku Masturbasi di Jok Motor Milik Perempuan Diperiksa Kejiwaannya

Pelaku Masturbasi di Jok Motor Milik Perempuan Diperiksa Kejiwaannya

Megapolitan
Update Covid-19 di Jakarta, Tak Ada Lagi RT Zona Merah dan DKI Catat Nol Kematian

Update Covid-19 di Jakarta, Tak Ada Lagi RT Zona Merah dan DKI Catat Nol Kematian

Megapolitan
Pencemaran Parasetamol di Teluk Jakarta, Dinkes DKI Sebut Belum Tentu dari Konsumsi Obat

Pencemaran Parasetamol di Teluk Jakarta, Dinkes DKI Sebut Belum Tentu dari Konsumsi Obat

Megapolitan
Cerita Korban Kecelakaan Transjakarta: Duduk di Belakang Terpental ke Tengah hingga Bunyi Dentuman

Cerita Korban Kecelakaan Transjakarta: Duduk di Belakang Terpental ke Tengah hingga Bunyi Dentuman

Megapolitan
Berubah Pakai Data Dukcapil, Depok Akan Kurangi Target Vaksinasi Covid-19

Berubah Pakai Data Dukcapil, Depok Akan Kurangi Target Vaksinasi Covid-19

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.