Kawan, Janganlah Pilkada DKI Menghilangkan Kewarasan dan Kegembiraanmu

Kompas.com - 13/10/2016, 11:00 WIB
Pasangan bakal calon gubernur dan calon wakil gubernur  Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, usai menjalani cek kesehatan di Rumah Sakit Angkatan Laut Mintoharjo, Jakarta, Sabtu (24/9/2016). Hari ini ketiga pasangan bakal calon gubernur dan calon wakil gubernur menjalani pemeriksaan kesehatan, sebagai salah satu syarat mengikuti Pilkada DKI Jakarta 2017. KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZESPasangan bakal calon gubernur dan calon wakil gubernur Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, usai menjalani cek kesehatan di Rumah Sakit Angkatan Laut Mintoharjo, Jakarta, Sabtu (24/9/2016). Hari ini ketiga pasangan bakal calon gubernur dan calon wakil gubernur menjalani pemeriksaan kesehatan, sebagai salah satu syarat mengikuti Pilkada DKI Jakarta 2017.
EditorWisnubrata

Anies maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Sandiaga Uno. Partai pengusungnya adalah Gerindra dan PKS.

Saat diundang dalam acara Mata Najwa dan ditanya soal pilihan politiknya yang berubah haluan, ia mengatakan bahwa pilpres sudah selesai.  Sudah tidak relevan lagi bicara soal pilpres.

Dengan langkah tegap Anies masuk dalam lingkaran yang dulu disebutnya sebagai  bagian dari masa lalu dan penuh mafia.

Mayor Agus Yudhoyono putra SBY

Agus Yudhoyono adalah calon yang mengejutkan yang diajukan koalisi Cikeas yang terdiri dari Partai Demokrat dan PKB. Agus maju bersama Sylviana Murni, birokrat senior di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Yang ini juga tak kalah “lucu”nya.

Lazimnya, tentara yang memilih jalur politik untuk menjadi kepala daerah adalah mereka yang sudah memiliki bintang di pundaknya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo juga memutuskan pensiun saat berpangkat mayor, tapi, tidak untuk maju dalam pilkada. Ia pensiun tahun 2006 untuk membesarkan usaha garmen miliknya dan menjadi bupati enam tahun kemudian. 

Dalam konteks ini, yang paling menarik bukan sosok Agusnya, tapi sikap ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Tahun 2009, saat memberikan pengarahan kepada para perwira lulusan akademi TNI dan Polri yang bakal dilantik, SBY, mantan tentara Angkatan Darat yang berhasil memuncaki kursi kepresidenan, mengingatkan agar para prajurit TNI sebaiknya tidak bercita-cita menjadi kepala daerah mulai dari tingkat bupati, walikota, atau gubernur.

Seyogianya, kata SBY, cita-cita yang tertanam dalam sanubari para prajurit adalah menjadi jenderal, laksamana, atau marsekal.

"Yang tidak benar kalau kalian memasuki akademi TNI Polisi lantas cita-citanya ingin menjadi bupati, waikota, gubernur, pengusaha, dan lain-lain. Tidak tepat," kata SBY seperti dikutip Antaranews.com 22 Desember 2009.

Seperti Ahok, Anies, dan juga banyak politisi lainnya, SBY juga berubah haluan.

Politik memang menuntut kelenturan untuk tidak menyebutnya ketidakkonsistenan.

Lalu, kita bertikai

Pertanyaannya, sementara mereka sedemikian lenturnya dengan pilihan-pilihan politik yang kerap berubah dengan segala bungkus narasi justifikasinya, haruskah kita bertikai dan kehilangan kewarasan kita sebagai Indonesia yang bhineka dengan saling membenci dan memaki?

Perdebatan kita di ruang publik sudah bergeser dari substansi perhelatan pilkada. Bukannya berdebat tentang calon mana yang akan paling menyejahterakan masyarakat Jakarta, kita malah sibuk dengan urusan mata belo bahkan muncul kata-kata keras tentang membunuh. 

Diskusi publik yang sungguh tidak damai.

Kita selalu sibuk pada orangnya dan lupa tentang programnya. Kita selalu terjebak pada sentimen hati dan lupa akan kewarasan nurani. 

Kegembiraan hilang, berubah menjadi pertengkaran.

Padahal, hidup kita sudah susah dengan kemacetan yang tak kunjung terselesaikan, banjir dan genangan yang selalu mengancam saat hujan lebat datang, trotoar sempit jorok yang menghilangkan hak para pejalan kaki, dan aneka persoalan kota lainnya yang mengurangi kualitas hidup kita sebagai warga Jakarta.

Kenapa kita tidak pernah memperdebatkan itu?

Kita punya hak untuk sejahtera. Itulah yang harus kita tuntut dari mereka yang maju dalam pilkada nanti.

Mari menjadi kembali waras dan merayakan pesta demokrasi ini dengan gembira tanpa harus saling memaki dan membenci, apalagi mengorbankan pertemanan, persaudaraan, dan Indonesia kita yang bhineka.

Halaman:


Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE: 711 Kasus Baru Covid-19 di Depok, 12 Pasien Wafat

UPDATE: 711 Kasus Baru Covid-19 di Depok, 12 Pasien Wafat

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG Hari Ini: Sebagian Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok Hujan

Prakiraan Cuaca BMKG Hari Ini: Sebagian Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok Hujan

Megapolitan
Wagub DKI: Sekalipun Sudah Vaksin, Bukan Berarti Bebas Tak Jalankan Prokes

Wagub DKI: Sekalipun Sudah Vaksin, Bukan Berarti Bebas Tak Jalankan Prokes

Megapolitan
Bagaimana Harimau Tino dan Hari di Ragunan Tertular Covid-19? Ini Kata Dokter Hewan

Bagaimana Harimau Tino dan Hari di Ragunan Tertular Covid-19? Ini Kata Dokter Hewan

Megapolitan
Hasil Penjualan Sapi 23 Pedagang di Depok Dibawa Kabur, Kerugian Ditaksir Rp 1,4 Miliar

Hasil Penjualan Sapi 23 Pedagang di Depok Dibawa Kabur, Kerugian Ditaksir Rp 1,4 Miliar

Megapolitan
Dua Harimau Sumatera di Ragunan Terpapar Covid-19, Anies: Sudah Ada Tanda-tanda Kesembuhan

Dua Harimau Sumatera di Ragunan Terpapar Covid-19, Anies: Sudah Ada Tanda-tanda Kesembuhan

Megapolitan
Video Tawuran Pemuda di Bintaro Viral, Saksi Sebut Ada yang Bawa Sajam

Video Tawuran Pemuda di Bintaro Viral, Saksi Sebut Ada yang Bawa Sajam

Megapolitan
UPDATE 1 Agustus: Tambah 2.701 Kasus Covid-19 di Jakarta, 15.884 Orang Kini Berjuang Sembuh

UPDATE 1 Agustus: Tambah 2.701 Kasus Covid-19 di Jakarta, 15.884 Orang Kini Berjuang Sembuh

Megapolitan
Makan Harus Tunjukkan Surat Vaksin, Pengusaha Warteg: Kebijakan yang Mengada-ada

Makan Harus Tunjukkan Surat Vaksin, Pengusaha Warteg: Kebijakan yang Mengada-ada

Megapolitan
Ketua Pengusaha Warteg: Kebijakan Makan 20 Menit Tak Tepat, Menu Kami Kan Bervariasi...

Ketua Pengusaha Warteg: Kebijakan Makan 20 Menit Tak Tepat, Menu Kami Kan Bervariasi...

Megapolitan
Ada Aduan Pungli Bansos Kemensos, Ombudsman Minta Pemkot Tangerang Ikut Pantau Penyalurannya

Ada Aduan Pungli Bansos Kemensos, Ombudsman Minta Pemkot Tangerang Ikut Pantau Penyalurannya

Megapolitan
Efek Pandemi Covid-19, Banyak Pengusaha Warteg Pulang Kampung ke Tegal dan Brebes

Efek Pandemi Covid-19, Banyak Pengusaha Warteg Pulang Kampung ke Tegal dan Brebes

Megapolitan
Sejak Awal Pandemi, Ada 13.912 Anak Terpapar Covid-19 di Kota Bekasi

Sejak Awal Pandemi, Ada 13.912 Anak Terpapar Covid-19 di Kota Bekasi

Megapolitan
Anies Paparkan Bukti PPKM Darurat di Jakarta Berhasil Turunkan Kasus Covid-19

Anies Paparkan Bukti PPKM Darurat di Jakarta Berhasil Turunkan Kasus Covid-19

Megapolitan
Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas Mengambang di Sungai Cisadane

Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas Mengambang di Sungai Cisadane

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X