Kompas.com - 15/11/2016, 06:53 WIB
Kunjungan kampanye calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut dua, Djarot Saiful Hidayat di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Senin (14/11/2016). Djarot Saiful Hidayat tetap melakukan kunjungan ke masyarakat untuk mendengar keluhan warga meski sempat ada penolakan dari sejumlah warga. KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGKunjungan kampanye calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut dua, Djarot Saiful Hidayat di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Senin (14/11/2016). Djarot Saiful Hidayat tetap melakukan kunjungan ke masyarakat untuk mendengar keluhan warga meski sempat ada penolakan dari sejumlah warga.
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorFidel Ali

JAKARTA, KOMPAS.com - Calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut dua, Djarot Saiful Hidayat menuturkan cukup banyak orang-orang di kubunya yang geram dengan serangkaian aksi penghadangan saat dirinya dan calon gubernur Basuki Tjahaja Purnama berkampanye.

Saking geramnya, Djarot menyebut orang-orang itu sebenarnya ingin turun langsung ke lapangan untuk menghadapi orang-orang yang menghadang. Djarot menyebut orang-orang yang ia maksudkan itu sebagai orang-orang "bersumbu pendek".

"Saya dari PDI Perjuangan, banyak teman saya yang agak 'selon-selon'. Kalau tidak didinginkan mereka sumbunya pendek juga lho ini," ujar dia di Kantor Panwaslu Jakarta Barat, Senin (14/11/2016).

Aksi penghadangan oleh sekelompok orang terhadap kampanye Ahok dan Djarot sudah kerap terjadi selama masa kampanye Pilkada 2017. Kejadian yang terakhir adalah saat Djarot dihadang dalam kunjungan kampanye ke permukiman warga di kawasan Karanganyar, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Senin kemarin.

Menurut Djarot, kubunya sebenarnya bisa saja membiarkan orang-orang "bersumbu pendek" yang ia maksudkan itu untuk menghadapi massa penghadang. Namun, jika itu dilakukan, ia menilai sama saja dengan kemunduran berdemokrasi.

Karena itu, Djarot sudah sering mengingatkan orang-orang "bersumbu pendek" yang ada di kubunya itu untuk menahan diri.

"Saya bilang 'jangan-jangan'. Karena saya harus mendinginkan mereka. Memberikan pendewasaan berdemokrasi," ucap Djarot. (Baca: Djarot Nilai Panwaslu Lamban Tangani Penolakan Kampanye)

Djarot berharap baik Panitia Pengawas Pemilu maupun Badan Pengawas Pemilu cepat tanggap merespons kasus penghadangan kampanye. Selain itu, ia menilai kepolisian maupun kejaksaan seharusnya juga bisa ikut terlibat karena penghadangan kampanye bisa dikategorikan tindak pidana.

"Bukan berarti kami harus selalu gagah-gagahan, tidak. Tapi betul-betul ini pendewasaan berdemokrasi. Betul-betul kita dalam pilkada ini bersaing secara fair, secara baik. Jangan menghalalkan segala macam cara. Bukan masalah berani-beranian," tegas Djarot. (Baca: Bawaslu: Penghadangan Kampanye adalah Tindak Pidana)

Djarot meyakini aksi penghadangaan bukan dilakukan oleh warga setempat. Melainkan oleh massa yang sengaja diturunkan oleh pihak tertentu. Ia menegaskan pihaknya akan berupaya mencari tahu pihak tertentu itu.

"Seperti spanduk-spanduk provokatif itu bisa enggak sih nyantol sendiri? Tentu ada yang bikin, ada yang masang. Siapa aktor di balik itu, itu yang kami pertanyakan. Kami akan mencari tahu siapa aktor di balik gerakan-gerakan itu. Karena ini sangat mengganggu kedewasaan kita dalam berdemokrasi," ucap Djarot.

Kompas TV Sejumlah Penolakan Warga pada Kunjungan Ahok-Djarot
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Korsleting Sebabkan Kepulan Asap di Mal Alam Sutera Tangerang

Korsleting Sebabkan Kepulan Asap di Mal Alam Sutera Tangerang

Megapolitan
Damkar Evakuasi Buaya Peliharaan Warga Depok

Damkar Evakuasi Buaya Peliharaan Warga Depok

Megapolitan
Polisi Gagalkan Penyelundupan 4 Liter Sabu Cair dari Meksiko

Polisi Gagalkan Penyelundupan 4 Liter Sabu Cair dari Meksiko

Megapolitan
Kuasa Hukum Korban Minta Polres Depok Segera Tangani Kasus Dugaan KDRT

Kuasa Hukum Korban Minta Polres Depok Segera Tangani Kasus Dugaan KDRT

Megapolitan
Terima Paket 4 Liter Sabu Cair dari Luar Negeri, Seorang Kurir Ditangkap di Cengkareng

Terima Paket 4 Liter Sabu Cair dari Luar Negeri, Seorang Kurir Ditangkap di Cengkareng

Megapolitan
Polisi Kabulkan Penangguhan Penahanan Perempuan yang Diduga Korban KDRT

Polisi Kabulkan Penangguhan Penahanan Perempuan yang Diduga Korban KDRT

Megapolitan
Kasus Anak Jual Kulkas Ibunya Berlanjut ke Meja Hijau, Kuasa Hukum Terdakwa: Sebaiknya Dihentikan

Kasus Anak Jual Kulkas Ibunya Berlanjut ke Meja Hijau, Kuasa Hukum Terdakwa: Sebaiknya Dihentikan

Megapolitan
Pedagang di Pasar Serpong Belum Tahu soal Kebijakan Harga Minyak Goreng Rp 14.000 Per Liter

Pedagang di Pasar Serpong Belum Tahu soal Kebijakan Harga Minyak Goreng Rp 14.000 Per Liter

Megapolitan
Bertambah 95, Kini Total Pasien Covid-19 di Wisma Atlet Capai 2.957

Bertambah 95, Kini Total Pasien Covid-19 di Wisma Atlet Capai 2.957

Megapolitan
PTM di 18 Sekolah di Jakpus Dihentikan karena Temuan Kasus Covid-19, Total 37 Siswa Terpapar

PTM di 18 Sekolah di Jakpus Dihentikan karena Temuan Kasus Covid-19, Total 37 Siswa Terpapar

Megapolitan
Polisi Dalami Tujuan Kakek 89 Tahun Kendarai Mobil Sebelum Tewas Dikeroyok

Polisi Dalami Tujuan Kakek 89 Tahun Kendarai Mobil Sebelum Tewas Dikeroyok

Megapolitan
Usut Pembongkaran Trotoar di Cilandak, Wali Kota Akan Panggil Sudin Bina Marga

Usut Pembongkaran Trotoar di Cilandak, Wali Kota Akan Panggil Sudin Bina Marga

Megapolitan
Pertunjukan Barongsai Saat Perayaan Imlek di Vihara Amurva Bhumi Ditiadakan

Pertunjukan Barongsai Saat Perayaan Imlek di Vihara Amurva Bhumi Ditiadakan

Megapolitan
Kasus Omicron Terdeteksi di Jakarta Selatan, Wali Kota Minta Warga Patuhi Protokol Kesehatan

Kasus Omicron Terdeteksi di Jakarta Selatan, Wali Kota Minta Warga Patuhi Protokol Kesehatan

Megapolitan
Bertambah, Temuan Kasus Covid-19 Kini Ada di 90 Sekolah Jakarta

Bertambah, Temuan Kasus Covid-19 Kini Ada di 90 Sekolah Jakarta

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.