Kompas.com - 22/12/2016, 15:55 WIB
Calon gubernur DKI Jakarta nomor dua, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat meninjau kali yang sering menyebabkan kebanjiran blusukan kampanye ke permukiman warga di RT 13/RW 7 Kelurahan Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan (21/12/2016). Alsadad RudiCalon gubernur DKI Jakarta nomor dua, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat meninjau kali yang sering menyebabkan kebanjiran blusukan kampanye ke permukiman warga di RT 13/RW 7 Kelurahan Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan (21/12/2016).
|
EditorIndra Akuntono

JAKARTA, KOMPAS.com — Calon gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, menyampaikan dugaannya mengenai penyebab banjir di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

"Itu daerah (Jakarta) selatan atau timur yang banyak klaster-klaster perumahan. Jadi misalnya ada saluran dia tutup, saya udah cek di Cipete, kemarin di Cilandak kasusnya juga sama," ujar Ahok, di Rumah Lembang, Jakarta Pusat, Kamis (22/12/2016).

(Baca: "Blusukan" di Pasar Minggu, Ahok Lihat Danau yang Ditembok Kontraktor Apartemen)

Menurut Ahok, sepertiga masalah banjir di Jakarta yang belum rampung ditangani adalah menertibkan pembangunan supaya tidak menghambat saluran air.

Ahok menyebut wilayah utara yang seharusnya banjir, sekarang hanya tergenang ketika rob. Tanggul setinggi 3,8 meter yang dibangun diyakini dapat menyelesaikan banjir di wilayah Jakarta Utara.

Namun, di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, banjir sering kali muncul setelah ada pembangunan rumah klaster dengan tembok eksklusif, yang disebut Ahok sering mengubah aliran kali atau menghambat saluran air.

"Timur kan juga banyak klaster-klaster kecil lho. Klaster dia tutupin tembok eksklusif otomatis saluran-saluran juga ketutup, dulu karena dia minta izin ke kami, di bawah 5.000 meter persegi kan langsung ke sudin-sudin dia suka belokin tuh sungai-sungainya, kalinya mampet," ujar Ahok.

(Baca: Ahok Sebut Penanggulangan Banjir di Jaksel Kerap Terkendala Akses)

Ahok menyebut solusi bagi masalah pembangunan ini tak lain adalah membongkar bangunan yang membelokkan aliran sungai. Selain itu, pembangunan tol juga ia sebut kerap menyebabkan banjir jika mengabaikan saluran air.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Warga Depok Harus Lampirkan Bukti Otentik Sebelum Buat SIKM di Kelurahan, Ini Syaratnya

Warga Depok Harus Lampirkan Bukti Otentik Sebelum Buat SIKM di Kelurahan, Ini Syaratnya

Megapolitan
UPDATE 6 Mei: Kasus Covid-19 di Jakarta Bertambah 905, Pasien Meninggal 20 orang

UPDATE 6 Mei: Kasus Covid-19 di Jakarta Bertambah 905, Pasien Meninggal 20 orang

Megapolitan
Pemprov DKI: Pengusaha Wisata Ingin Tetap Buka Saat Libur Lebaran 2021

Pemprov DKI: Pengusaha Wisata Ingin Tetap Buka Saat Libur Lebaran 2021

Megapolitan
Larangan Mudik Lebaran Berlaku, Tiga Maskapai Masih Beroperasi dari Bandara Soekarno-Hatta

Larangan Mudik Lebaran Berlaku, Tiga Maskapai Masih Beroperasi dari Bandara Soekarno-Hatta

Megapolitan
Varian Virus Corona dari India Sudah Masuk Tangsel, Seperti Apa Bahayanya?

Varian Virus Corona dari India Sudah Masuk Tangsel, Seperti Apa Bahayanya?

Megapolitan
Bertemu Anies, AHY: Dulu Kami Berkompetisi, Sekarang Bersahabat

Bertemu Anies, AHY: Dulu Kami Berkompetisi, Sekarang Bersahabat

Megapolitan
Terminal Pulo Gebang Tak Batasi Keberangkatan Bus Berstiker Khusus Selama Periode Larangan Mudik

Terminal Pulo Gebang Tak Batasi Keberangkatan Bus Berstiker Khusus Selama Periode Larangan Mudik

Megapolitan
John Kei: Saya Minta Dibebaskan, Saya Tak Tahu Masalah Ini

John Kei: Saya Minta Dibebaskan, Saya Tak Tahu Masalah Ini

Megapolitan
Minta Warga Tak Mudik, Anies: Ini Untuk Melindungi Semua

Minta Warga Tak Mudik, Anies: Ini Untuk Melindungi Semua

Megapolitan
Larangan Mudik, Polisi Paksa Putar Balik 1.070 Kendaraan di Tol Cikupa dan Cikarang Barat

Larangan Mudik, Polisi Paksa Putar Balik 1.070 Kendaraan di Tol Cikupa dan Cikarang Barat

Megapolitan
Pohon Tumbang Menimpa Mobil di Jalan Pajajaran Pamulang

Pohon Tumbang Menimpa Mobil di Jalan Pajajaran Pamulang

Megapolitan
Larangan Mudik Lebaran Hari Pertama, Operasional AKAP di Terminal Poris Plawad Dihentikan

Larangan Mudik Lebaran Hari Pertama, Operasional AKAP di Terminal Poris Plawad Dihentikan

Megapolitan
John Kei: Saya Tandatangan BAP karena Anak Saya Ditendang, Ditahan 3 Hari

John Kei: Saya Tandatangan BAP karena Anak Saya Ditendang, Ditahan 3 Hari

Megapolitan
Hari Pertama Larangan Mudik, Ratusan Kendaraan yang Masuk Kota Bogor Diputar Balik

Hari Pertama Larangan Mudik, Ratusan Kendaraan yang Masuk Kota Bogor Diputar Balik

Megapolitan
Dishub DKI: Pergerakan Warga di Kawasan Jabodetabek Tak Perlu SIKM

Dishub DKI: Pergerakan Warga di Kawasan Jabodetabek Tak Perlu SIKM

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X