Kompas.com - 17/01/2017, 11:12 WIB
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com - Majelis hakim dalam kasus dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama mencecar anggota polisi bernama Briptu Ahmad Hamdani. 

Dia adalah anggota kepolisian Bogor yang menerima laporan dari saksi pelapor bernama Willyudin Dhani terkait dugaan penodaan agama oleh Ahok di Kepulauan Pramuka.

Dalam laporan yang ditulis Ahmad, kejadian penodaan agama tersebut terjadi pada 6 September 2016 di Tegal Lega, Bogor, Jawa Barat. Padahal, peristiwa Ahok tersebut berada di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada 27 September 2016.

Ahmad menjelaskan, tanggal 6 Sepetember itu merupakan waktu saat Willyudin menonton video Ahok di Kepulauan Seribu.

"Pelapor melaporkan bahwa ada (video) di-share grup di Whatsapp dari teman pelapor dan di-downlod dan dilihat di rumah pelapor. Alamat rumahnya di Tegal Lega, Bogor," kata Ahmad di Gedung Kementan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (17/1/2017).

Ahmad mengaku lupa saat menerima laporan Willyudin, pelapor mengemas video tersebut dalam bentuk apa. Dia juga tidak melihat langsung isi video tersebut. Ia hanya ingat, Willyudin membuat laporan pada 7 Oktober 2016. Saat itu, Willyudin datang bersama tiga rekannya.

Mendengar jawaban dari Ahmad, majelis hakim pun menanyakan alasan Ahmad menerima laporan tersebut. Padahal, kejadian dugaan penodaan agama tersebut terjadi di Kepulauan Seribu.

"Mengapa saudara tidak menyarankan agar melapor ke Polres Kepulauan Seribu dan menerima laporannya?" tanya salah satu hakim.

Ahmad menjawab, sebagai anggota Polri, dia harus melayani setiap aduan masyarakat. Oleh karena itu, dia pun menerima laporan tersebut.

"Kita sebagai anggota polri harus melayani, kalau masyarakat lapor ke Kepulauan Seribu kan terlalu jauh," kata Ahmad.

Hakim kembali menanyakan mengenai tanggal kejadian tersebut. Sebab, dalam laporan tersebut tertuang kejadian penodaan agama itu terjadi pada Kamis, 6 September 2016. Padahal, tanggal 6 September itu bukan hari Kamis, melainkan Selasa.

Menjawab pertanyaan hakim, Ahmad mengaku yang menyebutkan hari, tanggal, bulan dan tahun kejadian adalah Willyudin sebagai pelapor.

"LP-nya dibaca sendiri sama pelapornya. Lalu dicek ada yang salah atau tidak, lalu ditandatangani pelapor, baru setelah itu dicap," jawab Ahmad.

Kompas TV Polisi Ubah Pola Pengamanan Sidang Ahok
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cara ke Stasiun Gambir dari Depok Naik Transportasi Umum

Cara ke Stasiun Gambir dari Depok Naik Transportasi Umum

Megapolitan
Cara ke Stasiun Gambir dari Tangerang Naik Transportasi Umum

Cara ke Stasiun Gambir dari Tangerang Naik Transportasi Umum

Megapolitan
Cara ke Stasiun Gambir dari Bandara Soekarno Hatta

Cara ke Stasiun Gambir dari Bandara Soekarno Hatta

Megapolitan
Rute Kereta Argo Parahyangan dan Jadwalnya 2022

Rute Kereta Argo Parahyangan dan Jadwalnya 2022

Megapolitan
Cara ke Stasiun Gambir dari Bekasi Naik Transportasi Umum

Cara ke Stasiun Gambir dari Bekasi Naik Transportasi Umum

Megapolitan
18 Rekomendasi Tempat Ngopi di Jakarta Selatan

18 Rekomendasi Tempat Ngopi di Jakarta Selatan

Megapolitan
Lokasi Vaksin Booster di Jabodetabek 13 dan 14 Agustus 2022

Lokasi Vaksin Booster di Jabodetabek 13 dan 14 Agustus 2022

Megapolitan
100 Penyandang Tunanetra di Jakarta Barat Akan Dilatih Jadi Penyiar Podcast

100 Penyandang Tunanetra di Jakarta Barat Akan Dilatih Jadi Penyiar Podcast

Megapolitan
Berawal dari Seperempat Potongan Pil Ekstasi di Jakarta, Lebih dari 100.000 Butir Gagal Diselundupkan

Berawal dari Seperempat Potongan Pil Ekstasi di Jakarta, Lebih dari 100.000 Butir Gagal Diselundupkan

Megapolitan
100.000 Butir Lebih Pil Ekstasi Kualitas Terbaik Jaringan Malaysia Gagal Diselundupkan ke Jakarta

100.000 Butir Lebih Pil Ekstasi Kualitas Terbaik Jaringan Malaysia Gagal Diselundupkan ke Jakarta

Megapolitan
Hasil Pemeriksaan Komnas HAM: Ferdy Sambo Akui Adanya 'Obstruction of Justice' Pembunuhan Brigadir J

Hasil Pemeriksaan Komnas HAM: Ferdy Sambo Akui Adanya "Obstruction of Justice" Pembunuhan Brigadir J

Megapolitan
Istri Ferdy Sambo Belum Stabil, Komnas HAM Tunda Pemeriksaan

Istri Ferdy Sambo Belum Stabil, Komnas HAM Tunda Pemeriksaan

Megapolitan
Pria Diduga ODGJ Dilaporkan ke Polisi Lantaran Menombak Pintu Rumah Warga Cengkareng

Pria Diduga ODGJ Dilaporkan ke Polisi Lantaran Menombak Pintu Rumah Warga Cengkareng

Megapolitan
Bangku Taman Terbengkalai dan Tanpa Alas, Camat Jatiasih-Bina Marga Koordinasi untuk Perbaikan

Bangku Taman Terbengkalai dan Tanpa Alas, Camat Jatiasih-Bina Marga Koordinasi untuk Perbaikan

Megapolitan
Penjual Pohon Pinang di Jatinegara Kebanjiran Pesanan Menjelang HUT RI

Penjual Pohon Pinang di Jatinegara Kebanjiran Pesanan Menjelang HUT RI

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.