“Guiding Block” di Trotoar Jakarta Belum Sempurna, Ini Kata Bina Marga

Kompas.com - 26/01/2017, 07:58 WIB
Jalur pemandu khusus penyandang disabilitas atau biasa  disebut guiding block yang dipasang terbalik di kawasan Jalan Hang Tuah, Jakarta Selatan. Gambar diambil Senin (23/1/2017). KOMPAS.com/SRI NOVIYANTIJalur pemandu khusus penyandang disabilitas atau biasa disebut guiding block yang dipasang terbalik di kawasan Jalan Hang Tuah, Jakarta Selatan. Gambar diambil Senin (23/1/2017).
|
EditorIcha Rastika

JAKARTA, KOMPAS.com – Pembangunan guiding block atau jalur pemandu di trotoar DKI Jakarta belum sepenuhnya ramah penyandang tunanetra.

Masih banyak ditemui fasilitas yang terputus karena tiang. Terkait masalah ini, Pihak Dinas Bina Marga DKI Jakarta akan bertahap membenahi.

“Memang belum sepenuhnya sempurna. Maka, pelan-pelan akan diperbaiki,” ujar Kepala Seksi Pembangunan dan Peningkatan Kelengkapan Prasarana Jalan Dinas Bina Marga DKI Jakarta Ricky Janus saat ditemui Kompas.com, Rabu (25/1/2017).

Sebelumnya, pengamat transportasi Djoko Setijowarno saat dihubungi Kompas.com, Selasa (24/1/2017), mengatakan bahwa baru sedikit trotoar di wilayah Jakarta yang memiliki fasilitas guiding block sesuai standar. 

"Salah satu yang bagus dan sesuai standar ada di sepanjang Jati Baru sampai Tanah Abang, Jakarta Pusat. Namun sayangnya, ada juga yang terkesan dipasang asal. Bahkan terpasang tiang listrik di tengah," ujar Djoko.

(Baca juga: Pemasangan "Guiding Block" di Jakarta Dinilai Asal-asalan )

Ricky mengakui bahwa saat ini memang banyak jalur pemandu yang terputus karena ada tiang di bagian tengahnya. Hal itu terjadi karena pembangunan tiang dilakukan setelah guiding block selesai dibangun.

Dinas Bina Marga sudah memiliki program koordinasi dengan instansi terkait untuk perbaikan dan pemindahan existing facility—fasilitas yang sudah ada atau baru dibangun di trotoar—yang kebetulan bertabrakan dengan jalur pemandu.

“Pemanfaatan trotoar itu ada banyak. Selain untuk pejalan kaki, ada juga untuk existing facility, seperti tiang listrik, ruangan hijau, hingga rambu-rambu. Nah kami harus atur dan berkoordinasi dengan instansi terkait agar jalur pemandu bisa membuat nyaman para penyandang tunanetra,” kata Staf Seksi Perencanaan Kelengkapan Prasarana Jalan dan Jaringan Utilitas Dinas Bina Marga DKI Jakarta Junardi EY.

KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Jalur pemandu khusus penyandang tunanetra atau guiding block di Stasiun Manggarai. Foto diambil Kamis, (19/1/2017)

Saat ini, kata Junaedi, untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan proses. Lagi pula, masih ada trotoar yang lebarnya terbatas. Artinya, belum cukup untuk diberi fasilitas itu dalam satu trotoar.

“Ukurannya, mengikuti ukuran ergonomis manusia,” kata Junaedi lagi.

Ukuran ergonomis, kata Junaedi berhubungan dengan kenyamanan seseorang. Untuk trotoar, perincian pertimbangannya adalah minimal muat untuk dua orang bersimpangan di jalan, yakni 1,2 meter. Lalu, beri jarak 30 sentimeter (cm) agar ada jarak.

“Itu sudah 1,5 meter. Lalu, ditambah lagi dengan perabot jalan atau existing facility selebar 60 cm. jadilah 2,1 meter lebar (idealnya),” ujar Junaedi lagi.

Saat ini, kata Junaedi, secara bertahap, Bina Marga sudah memperlebar trotoar mengacu pada hitung-hitungan tersebut.

Namun, untuk fasilitas guiding block yang belum terpasang sesuai standar masih harus menunggu program yang disebutkan dia sebelumnya.

Fokus untuk penyandang disabilitas

Baru-baru ini, kata Ricky, lebar dan fasilitas trotoar atau ruang publik yang baru dibangun Dinas Bina Marga DKI Jakarta diujicobakan pada para penyandang disabilitas. Harapannya, pembangunan fasilitas bisa mendekati ideal.

“Saat kami buat sejenis mock-up—contoh awal—saat fasilitas baru terbangun 10 meter. Kami mengajak teman-teman dari Gerakan Aksesibilitas Umum Nasional (GAUN) bersama para penyandang disabilitas untuk mencobanya. Mereka banyak kasih saran,” ujar Ricky.

(Baca juga: Sudahkah Pemasangan ?Guiding Block? di Jakarta Sesuai Standar?)

Saran terbagi dalam dua hal. Pertama datang dari penyandang tunanetra yang berharap jalur pemandu rata leveling-nya.

Lalu, apabila ada penghalang seperti tiang atau pohon, ada baiknya diberikan penanda berhenti (warning block—ubin berpola titik-titik).

“Masukan kedua datang dari pemakai kursi roda. Mereka berharap kemiringan trotoar tidak ekstrem. Turunan atau tanjakan sebaiknya dibuat landai. Hal-hal itu membantu kami untuk membuat fasilitas yang ideal bagi mereka,” kata Ricky.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sekolah di Depok Gelar PTM 100 Persen Besok, Kantin Ditutup dan Istirahat Diperpendek

Sekolah di Depok Gelar PTM 100 Persen Besok, Kantin Ditutup dan Istirahat Diperpendek

Megapolitan
UPDATE: Bertambah 1.739, Kasus Covid-19 di DKI Jakarta Kini Ada 879.307

UPDATE: Bertambah 1.739, Kasus Covid-19 di DKI Jakarta Kini Ada 879.307

Megapolitan
12 Pompa Apung dan 5 Pompa Mobile Dikerahkan untuk Surutkan Banjir di Tegal Alur

12 Pompa Apung dan 5 Pompa Mobile Dikerahkan untuk Surutkan Banjir di Tegal Alur

Megapolitan
Sopir Minibus Selamat Usai Terjepit karena Tabrak Truk di Klender

Sopir Minibus Selamat Usai Terjepit karena Tabrak Truk di Klender

Megapolitan
Dua Tersangka Kasus Penyekapan Wanita di Tangerang Diamankan Polisi

Dua Tersangka Kasus Penyekapan Wanita di Tangerang Diamankan Polisi

Megapolitan
Sajam yang Dipakai untuk Menusuk Anggota TNI AD di Jakarta Utara Sudah Ditemukan

Sajam yang Dipakai untuk Menusuk Anggota TNI AD di Jakarta Utara Sudah Ditemukan

Megapolitan
Giring-Anies Saling Sindir, Pengamat: Hanya untuk Menyenangkan Masing-masing Pendukungnya

Giring-Anies Saling Sindir, Pengamat: Hanya untuk Menyenangkan Masing-masing Pendukungnya

Megapolitan
Apresiasi Kinerja KPK Tetapkan Rahmat Effendi Tersangka, Warga Bekasi Utara Cukur Gundul

Apresiasi Kinerja KPK Tetapkan Rahmat Effendi Tersangka, Warga Bekasi Utara Cukur Gundul

Megapolitan
Pemprov DKI Jakarta Disarankan Terus Gencarkan Vaksinasi Booster Covid-19

Pemprov DKI Jakarta Disarankan Terus Gencarkan Vaksinasi Booster Covid-19

Megapolitan
Antusiasnya Warga Kunjungi Alun-alun Depok dan Nasib Skatepark yang Dijadikan Perosotan

Antusiasnya Warga Kunjungi Alun-alun Depok dan Nasib Skatepark yang Dijadikan Perosotan

Megapolitan
Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan Membusuk di Saluran Air Kampung Tambun Bekasi

Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan Membusuk di Saluran Air Kampung Tambun Bekasi

Megapolitan
Pengendara Mobil Diteriaki Maling dan Dipukuli hingga Tewas di Cakung, padahal Bukan Pencuri

Pengendara Mobil Diteriaki Maling dan Dipukuli hingga Tewas di Cakung, padahal Bukan Pencuri

Megapolitan
Konvoi Mobil Mewah yang Berhenti di Tol untuk Berfoto Tidak Ditilang, Hanya Ditegur Polisi

Konvoi Mobil Mewah yang Berhenti di Tol untuk Berfoto Tidak Ditilang, Hanya Ditegur Polisi

Megapolitan
2 Pasien Omicron Meninggal Dunia, Dinkes DKI: Kita Tidak Boleh Anggap Enteng

2 Pasien Omicron Meninggal Dunia, Dinkes DKI: Kita Tidak Boleh Anggap Enteng

Megapolitan
Wagub DKI Sebut Penularan Covid-19 di Sekolah Sedikit, Ahli: Pelacakannya Harus Cermat

Wagub DKI Sebut Penularan Covid-19 di Sekolah Sedikit, Ahli: Pelacakannya Harus Cermat

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.