Kompas.com - 09/03/2017, 22:09 WIB
Bus transjakarta melintas di jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (16/1/2017). KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGBus transjakarta melintas di jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (16/1/2017).
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorIndra Akuntono


JAKARTA, KOMPAS.com -
Ketua Organda DKI Jakarta Shafruhan Sinungan mengatakan para pengusaha angkutan umum saat ini sedang berencana mengajukan permintaan agar PT Transportasi Jakarta bersedia membeli izin trayek dan bus-bus mereka.

Penyebabnya karena pengusaha angkutan umum kalah bersaing dengan layanan bus Transjakarta.

Menurut Shafruhan, semakin banyaknya layanan bus feeder di rute-rute bus kota reguler menyebabkan warga penumpang lebih memilih menggunakan bus Transjakarta.

"Kalau terus menempatkan bus di trayek kami ya sama saja ngebunuh. Mending beli aja izin dan bus kami," kata Shafruhan, saat dihubungi, Kamis (9/3/2017).

Shafruhan menuturkan, permintaan agar PT Transjakarta membeli izin trayek dan bus merupakan satu-satunya opsi yang bisa dilakukan pengusaha angkutan umum. Sebab, jika harus bekerja sama, Shafruhan menyebut para pengusaha tidak memiliki modal untuk meremajakan bus.

Dalam mekanisme kerja sama dengan PT Transjakarta, pengusaha akan dibayar dengan sistem rupiah per kilometer. Dengan catatan, bus yang digunakan memenuhi standar yang ditetapkan, salah satunya bus yang dilengkapi  AC.

"Mau integrasi tidak mungkin dengan kondisi angkutan umum saat ini. Mau diremajakan enggak ada modal. Jadi ya sudah beli saja sekalian daripada mati," ujar Shafruhan.

Shafruhan menyatakan, para pengusaha angkutan umum sebenarnya keberatan dengan  perluasan layanan Transjakarta ke rute-rute bus kota reguler.

"Bukannya membina mengembangkan usaha rakyat, tapi malah membunuh. BUMD itu modalnya dari anggaran rakyat. Kok dibuat untuk bunuh rakyat," kata Shafruhan.

Saat ini, layanan bus Transjakarta memang tidak hanya melayani di koridor busway saja, tapi sudah merambah ke rute-rute angkutan reguler, termasuk rute ke kota-kota penyangga.

Dengan hanya membayar Rp 3.500, penumpang tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan jika berpindah bus. Kondisi itu yang ditengarai menjadi penyebab penumpang kemudian lebih memilih naik bus Transjakarta.

Kompas TV Bus Baru Akan Digunakan di Luar Bus Transjakarta
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kebakaran Melanda Gudang Penyimpanan Ikan di Pelabuhan Muara Baru

Kebakaran Melanda Gudang Penyimpanan Ikan di Pelabuhan Muara Baru

Megapolitan
Jumlah Pengunjung Ragunan pada Libur Waisak Capai 31.206 Orang

Jumlah Pengunjung Ragunan pada Libur Waisak Capai 31.206 Orang

Megapolitan
Sudah Sebulan 400 KK di Kampung Nelayan Marunda Alami Krisis Air Bersih

Sudah Sebulan 400 KK di Kampung Nelayan Marunda Alami Krisis Air Bersih

Megapolitan
Lift Macet akibat Kelebihan Muatan, 7 Orang Terjebak Dievakuasi Damkar Kota Bekasi

Lift Macet akibat Kelebihan Muatan, 7 Orang Terjebak Dievakuasi Damkar Kota Bekasi

Megapolitan
Cerita Anies ke Universitas Oxford Jajaki Kerja Sama Pengembangan Kebijakan Publik Jakarta

Cerita Anies ke Universitas Oxford Jajaki Kerja Sama Pengembangan Kebijakan Publik Jakarta

Megapolitan
Warga Bogor Dibegal Saat Pulang Kerja, Korban Dibacok, Motor dan Uangnya Raib

Warga Bogor Dibegal Saat Pulang Kerja, Korban Dibacok, Motor dan Uangnya Raib

Megapolitan
Dentuman Meriam Akan Terdengar Lagi di Depok Besok, Warga Diimbau Tak Panik

Dentuman Meriam Akan Terdengar Lagi di Depok Besok, Warga Diimbau Tak Panik

Megapolitan
Bima Arya Usulkan Sekda Jadi Pj Kepala Daerah

Bima Arya Usulkan Sekda Jadi Pj Kepala Daerah

Megapolitan
TV Tersambar Petir, Sebuah Rumah di Bekasi Dilanda Kebakaran

TV Tersambar Petir, Sebuah Rumah di Bekasi Dilanda Kebakaran

Megapolitan
Besok, Oditur Akan Bantah Pleidoi Kolonel Priyanto Terdakwa Kasus Pembunuhan Handi-Salsabila

Besok, Oditur Akan Bantah Pleidoi Kolonel Priyanto Terdakwa Kasus Pembunuhan Handi-Salsabila

Megapolitan
Pabrik Kimia di Cikarang Dilanda Kebakaran, Pemadaman Butuh Waktu 7 Jam

Pabrik Kimia di Cikarang Dilanda Kebakaran, Pemadaman Butuh Waktu 7 Jam

Megapolitan
Politisi PDI-P: Banyak Program yang Tak Dieksekusi Anies

Politisi PDI-P: Banyak Program yang Tak Dieksekusi Anies

Megapolitan
Seorang Remaja Satroni Rumah Ketua RW di Pulogadung, Curi 3 Ponsel

Seorang Remaja Satroni Rumah Ketua RW di Pulogadung, Curi 3 Ponsel

Megapolitan
Pria yang Tewas Gantung Diri di Apartemen Kawasan Duren Sawit Diduga Terlilit Utang

Pria yang Tewas Gantung Diri di Apartemen Kawasan Duren Sawit Diduga Terlilit Utang

Megapolitan
Ketua DPRD DKI Bakal Panggil Manajemen Ancol karena Khawatir Merugi Saat Formula E Berlangsung

Ketua DPRD DKI Bakal Panggil Manajemen Ancol karena Khawatir Merugi Saat Formula E Berlangsung

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.