Kompas.com - 21/03/2017, 17:36 WIB
Anak-anak mencuci muka di Kali Ciliwung yang penuh dengan hunian di Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (15/2/2015). Pencemaran sungai di Jakarta sudah jauh di atas ambang batas yang diisyaratkan. bahkan, dari sekitar 807.000 pelanggan air dari dua perusahaan air minum di DKI Jakarta, hampir 300.000 di antaranya tidak terlayani. KOMPAS/AGUS SUSANTOAnak-anak mencuci muka di Kali Ciliwung yang penuh dengan hunian di Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (15/2/2015). Pencemaran sungai di Jakarta sudah jauh di atas ambang batas yang diisyaratkan. bahkan, dari sekitar 807.000 pelanggan air dari dua perusahaan air minum di DKI Jakarta, hampir 300.000 di antaranya tidak terlayani.
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorIndra Akuntono


JAKARTA, KOMPAS.com -
Sejarawan JJ Rizal menilai kesulitan mendapat air bersih gratis di Jakarta kini sangat kontras dengan kondisi masyarakat Betawi tempo dulu. Menurut Rizal, masyarakat Jakarta dulu bisa dengan mudah mendapat air bersih dari sungai-sungai yang mengalir di Jakarta.

Rizal menuturkan, dulu, masyarakat Betawi juga banyak yang membangun permukiman di sepanjang bantaran sungai. Dia menyebut permukiman itu dikenal dengan nama kobakan.

"Di kobakan inilah orang Betawi hidup di antara 13 sungai," kata Rizal, saat hadir dalam diskusi “Membongkar Solusi Palsu Salah Urus Air Jakarta” di Kantor LBH Jakarta, Selasa (21/3/2017).

Menurut Rizal, kehidupan masyarakat Betawi di dekat sungai itu yang kemudian membuat mereka sangat memahami kehidupan buaya.

"Kenapa roti buaya memiliki posisi yang paling penting? Satu, karena buaya simbol kesetiaan. Buaya hanya kawin sekali sama satu buaya, enggak ama buaya-buaya yang lain. Dari mana orang Betawi tahu? Karena secara geografis orang Betawi merupakan masyarakat sungai," ujar Rizal.

Rizal menyebut sungai kehilangan peran penting bagi masyarakat Betawi setelah kedatangan Belanda. Terutama saat Belanda mulai mempusatkan pembangunan di Weltevreden, kini disebut Gambir.

Saat itulah, sungai-sungai di Jakarta tak lagi jadi sumber penghidupan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Sejak itulah air jadi enggak penting, jadi enggak terurus. Mulai dibangun jaringan pipa air di Jakarta. Ada yang dapat air, ada yang enggak," ucap Rizal.

Sejak 1997 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui PT Perusahaan Air Minum Jaya (PAM Jaya) melakukan kerja sama dengan dua perusahaan asing swasta untuk mengelola air di Ibu Kota. Keduanya adalah Palyja dan Aetra.

Palyja mengelola air untuk wilayah Jakarta bagian Barat, sedangkan Aetra Air Jakarta ditunjuk untuk mengelola air di wilayah Jakarta bagian Timur.

Batas pengelolaan air oleh kedua perusahaan itu adalah Sungai Ciliwung. Namun pada 2013, Koalisi Masyarakat Menolak Swastanisasi Air Jakarta (KMMSAJ) yang terdiri dari LBH Jakarta, ICW, Kiara, Kruha, Solidaritas Perempuan, Koalisi Anti Utang, Walhi Jakarta dan beberapa LSM lainnya mengajukan gugatan ke pengadilan terkait pengelolaan air bersih di Jakarta oleh perusahaan swasta.

Pada 25 Maret 2015, majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengabulkan sebagian gugatan yang diajukan KMMSAJ. Namun, pemerintah kemudian mengajukan banding terhadap Pengadilan Tinggi.

Saat ini, proses gugatan yang diajukan KMMSAJ masih menunggu putusan akhir di Mahkamah Agung. Hampir dua tahun pasca-putusan majelis hakim di PN Jakarta Pusat, KMMSAJ menyatakan bahwa mereka masih menunggu putusan MA sampai dengan saat ini. KMMSAJ berharap MA menolak banding yang diajukan pemerintah.

"Memang di Jakarta air dibuat jadi bisnis. Tapi MA harus melindungi hak-hak warga untuk mendapatkan air bersih sesuai yang diatur undang-undang," kata anggota KMMSAJ, Muhammad Reza.




Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menengok Bangunan Baru Stasiun Manggarai, Menhub BIlang Mirip Stasiun di Jepang

Menengok Bangunan Baru Stasiun Manggarai, Menhub BIlang Mirip Stasiun di Jepang

Megapolitan
Jalur Baru di Stasiun Manggarai Diprediksi Tingkatkan Pergerakan Penumpang

Jalur Baru di Stasiun Manggarai Diprediksi Tingkatkan Pergerakan Penumpang

Megapolitan
Hujan Deras dan Angin Kencang di Depok, Pohon Tumbang dan Atap Beterbangan

Hujan Deras dan Angin Kencang di Depok, Pohon Tumbang dan Atap Beterbangan

Megapolitan
Seluruh SMP Negeri dan Swasta di Kota Tangerang Akan Gelar PTM pada 4 Oktober

Seluruh SMP Negeri dan Swasta di Kota Tangerang Akan Gelar PTM pada 4 Oktober

Megapolitan
Gapura Batas Tangsel-Jakarta Jadi Korban Coretan Vandalisme, Ini Respons Wali Kota Benyamin

Gapura Batas Tangsel-Jakarta Jadi Korban Coretan Vandalisme, Ini Respons Wali Kota Benyamin

Megapolitan
Bayi 10 Bulan yang Dicat Silver dan Diajak Mengemis di Pamulang Dijemput Kemensos

Bayi 10 Bulan yang Dicat Silver dan Diajak Mengemis di Pamulang Dijemput Kemensos

Megapolitan
Beroperasi sampai Dini Hari dan Gelar Karaoke, Kafe di Blok M Ditutup 7 Hari serta Didenda Rp 50 Juta

Beroperasi sampai Dini Hari dan Gelar Karaoke, Kafe di Blok M Ditutup 7 Hari serta Didenda Rp 50 Juta

Megapolitan
Angin Kencang, Pohon Tumbang Timpa Mobil Berisi 4 Orang di Cilodong Depok

Angin Kencang, Pohon Tumbang Timpa Mobil Berisi 4 Orang di Cilodong Depok

Megapolitan
Pengoperasian Gedung Baru Stasiun Manggarai, Jalur KRL Bogor-Jakarta Kota Disesuaikan

Pengoperasian Gedung Baru Stasiun Manggarai, Jalur KRL Bogor-Jakarta Kota Disesuaikan

Megapolitan
Mobil Terguling di Bintaro, Polisi Masih Selidiki

Mobil Terguling di Bintaro, Polisi Masih Selidiki

Megapolitan
Murid SD yang Sudah Berusia 12 Tahun di Kota Bekasi Akan Divaksinasi Covid-19

Murid SD yang Sudah Berusia 12 Tahun di Kota Bekasi Akan Divaksinasi Covid-19

Megapolitan
Polisi Tidur di Pulomas Dibuat Warga untuk Cegah Balap Liar, Dibongkar atas Protes Pesepeda

Polisi Tidur di Pulomas Dibuat Warga untuk Cegah Balap Liar, Dibongkar atas Protes Pesepeda

Megapolitan
1.509 Sekolah di Jakarta Akan Gelar PTM Terbatas, Disdik DKI: Aman

1.509 Sekolah di Jakarta Akan Gelar PTM Terbatas, Disdik DKI: Aman

Megapolitan
Diprotes Pesepeda, Polisi Tidur di Pulomas Dibongkar

Diprotes Pesepeda, Polisi Tidur di Pulomas Dibongkar

Megapolitan
Sekolah Tatap Muka di Jakarta Dihentikan 4 Hari karena Kegiatan ANBK

Sekolah Tatap Muka di Jakarta Dihentikan 4 Hari karena Kegiatan ANBK

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.