"PPDB Online Bagus, tetapi Terlalu Mepet dan Tak Ada Uji Coba"

Kompas.com - 14/07/2017, 18:45 WIB
Wakil Kepala SMPN 12 Tangerang Selatan Kunardi memberi penjelasan mengenai penerimaan peserta didik baru (PPDB) pada Jumat (14/7/2017). SMPN 12 salah satu dari sekian sekolah yang mengalami kendala teknis berupa ketidaksesuaian data untuk sistem zonasi dalam proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2017. KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Wakil Kepala SMPN 12 Tangerang Selatan Kunardi memberi penjelasan mengenai penerimaan peserta didik baru (PPDB) pada Jumat (14/7/2017). SMPN 12 salah satu dari sekian sekolah yang mengalami kendala teknis berupa ketidaksesuaian data untuk sistem zonasi dalam proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2017.
|
EditorDian Maharani

TANGERANG, KOMPAS.com - Pengurus sekolah mengapresiasi proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) online yang baru dilaksanakan per tahun ini melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2017.

Namun, ada beberapa catatan yang disampaikan pihak sekolah sebagai bahan evaluasi agar PPDB online tahun depan terlaksana lebih baik lagi.

"Sama sistemnya sih setuju, lebih bagus. Tapi, waktu yang disiapkan terlalu mepet dan tidak ada waktu untuk uji coba," kata Wakil Kepala SMPN 12 Tangsel Kunardi saat ditemui Kompas.com, Jumat (14/7/2017).

Sebagai salah satu sekolah yang menjalankan PPDB online, Kunardi merasa pelaksanaannya agak terburu-buru.


Baca: Proses PPDB di Tangsel Terkendala Data Kependudukan Tidak Valid

Kurangnya persiapan di berbagai lini berdampak juga pada pelaksanaan di lapangan, terutama mengenai kemampuan operator yang membantu orangtua calon murid saat mengurus proses pendaftaran anak mereka.

"Ya, seadanya saja jadinya. Operatornya belum sempat training," tutur Kunardi.

Dia berharap, PPDB online untuk tahun ajaran mendatang dapat lebih baik lagi. Kunardi juga menyinggung tentang kendala teknis berupa data kependudukan yang tidak valid yang menyebabkan sistem zonasi dalam PPDB online tidak efektif.

Data yang dimaksud mengacu pada data kependudukan dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, di mana basis data itu digunakan dalam PPDB dengan sistem zonasi yang pertama kali dilakukan tahun ini. SMPN 12 merupakan salah satu sekolah yang mengalami kendala itu.

Baca: Cerita soal Orangtua di Tangsel yang Kecewa Anaknya Tak Dapat Sekolah Dekat Rumah

Bahkan, akibat banyak data tidak valid, menyebabkan beredarnya video orangtua calon murid yang ancam akan telanjang di gerbang sekolah jika anaknya yang tinggal kurang 200 meter dari sekolah tidak diterima.

Adapun yang dimaksud tertukar itu adalah mereka yang berdomisili dekat dengan sekolah dianggap tinggal paling jauh. Sebaliknya, mereka yang sebenarnya bermukim jauh dari sekolah justru malah dianggap dekat dengan zona sekolah dan langsung masuk ke sekolah tersebut.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Puluhan Ojol Datangi Polres Jaktim Minta Polisi Tindak Mata Elang

Puluhan Ojol Datangi Polres Jaktim Minta Polisi Tindak Mata Elang

Megapolitan
Diperiksa Polisi, Tas Mencurigakan di Kembangan Berisi Buku hingga Kerupuk

Diperiksa Polisi, Tas Mencurigakan di Kembangan Berisi Buku hingga Kerupuk

Megapolitan
Dua Dosen Ditangkap Disangka Cemarkan Nama Baik Rektor Unima

Dua Dosen Ditangkap Disangka Cemarkan Nama Baik Rektor Unima

Megapolitan
Kronologi Keributan Kelompok Ojol dengan 2 Mata Elang di Rawamangun

Kronologi Keributan Kelompok Ojol dengan 2 Mata Elang di Rawamangun

Megapolitan
Polisi Periksa Tas Hitam Mencurigakan yang Tergeletak di Jalan Mawar Kembangan

Polisi Periksa Tas Hitam Mencurigakan yang Tergeletak di Jalan Mawar Kembangan

Megapolitan
Saksi: Seorang Pengemudi Ojol Terluka Sayat Saat Ribut dengan Mata Elang

Saksi: Seorang Pengemudi Ojol Terluka Sayat Saat Ribut dengan Mata Elang

Megapolitan
Kasus Pemukulan Kucing hingga Mati di Bekasi Berakhir Damai

Kasus Pemukulan Kucing hingga Mati di Bekasi Berakhir Damai

Megapolitan
Sidang Dugaan Kriminalisasi Sopir Taksi Online, Saksi Bantah Keterangan dalam BAP

Sidang Dugaan Kriminalisasi Sopir Taksi Online, Saksi Bantah Keterangan dalam BAP

Megapolitan
Polisi Anjurkan Sopir Taksi Online Ari Darmawan Serahkan Uang Jutaan Rupiah untuk Berdamai

Polisi Anjurkan Sopir Taksi Online Ari Darmawan Serahkan Uang Jutaan Rupiah untuk Berdamai

Megapolitan
BMKG: Wilayah Jabotabek Diprediksi Hujan Disertai Angin Kencang Malam Ini

BMKG: Wilayah Jabotabek Diprediksi Hujan Disertai Angin Kencang Malam Ini

Megapolitan
DPR Panggil Ketua DPRD DKI untuk Diskusi soal Revitalisasi TIM

DPR Panggil Ketua DPRD DKI untuk Diskusi soal Revitalisasi TIM

Megapolitan
Dipicu Masalah Kredit Motor, Mata Elang dan Pengemudi Ojol Ribut di Rawamangun

Dipicu Masalah Kredit Motor, Mata Elang dan Pengemudi Ojol Ribut di Rawamangun

Megapolitan
Pembuat Kosmetik Ilegal di Depok Racik Bahan Kimia Berdasar Pengalaman Kerja

Pembuat Kosmetik Ilegal di Depok Racik Bahan Kimia Berdasar Pengalaman Kerja

Megapolitan
Pemukul Kucing hingga Mati di Bekasi Tidak Ditahan

Pemukul Kucing hingga Mati di Bekasi Tidak Ditahan

Megapolitan
Kosmetik Ilegal Produksi di Depok Diedarkan ke Dokter Kulit hingga Klinik Kecantikan di Jakarta

Kosmetik Ilegal Produksi di Depok Diedarkan ke Dokter Kulit hingga Klinik Kecantikan di Jakarta

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X