Cegat Djarot, Pedagang Bunga Stasiun Klender Baru Curhat Digusur PT KAI - Kompas.com

Cegat Djarot, Pedagang Bunga Stasiun Klender Baru Curhat Digusur PT KAI

Kompas.com - 31/08/2017, 19:52 WIB
Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat dicegat pedagang bunga Stasiun Klender Baru saat ingin pulang, Kamis (31/8/2017).  Pedagang tersebut menceritakan masalah lapaknya yang digusur PT KAI. KOMPAS.com/JESSI CARINA Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat dicegat pedagang bunga Stasiun Klender Baru saat ingin pulang, Kamis (31/8/2017). Pedagang tersebut menceritakan masalah lapaknya yang digusur PT KAI.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pedagang bunga di Stasiun Klender Baru, Torang Simbolon, menghentikan langkah Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat yang menuju mobilnya, Kamis (31/8/2019) sore.

Torang menceritakan masalah penertiban yang dialami dia dan pedagang bunga lain di sekitar stasiun tersebut.

"Kami sudah beberapa kali mohon lokasi sama Pemkot Jakarta Timur. Orang PT KAI kemarin yang bongkar Pak," ujar Torang di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Kamis (31/8/2017).

PT KAI menertibkan sejumlah pedagang bunga yang berjualan di sekitar Stasiun Klender Baru.


(Baca juga: "Kami Direkomendasikan Pemkot Jualan di Sini, tetapi Kini Ditertibkan")

Penertiban dilakukan karena lahan yang dipakai pedagang untuk berjualan tersebut merupakan lahan untuk pembangunan double double track dan perluasan stasiun oleh PT KAI.

Kepada Torang, Djarot berjanji mencarikan lokasi baru untuk mereka berjualan. "Nanti kita cari lokasi, tetapi Anda harus mau. Kalau seperti ini pasti enggak boleh, kita bongkar pasti," kata Djarot sambil menunjuk foto pedagang bunga Stasiun Klender Baru yang ditunjukan Torang.

Torang mengatakan bahwa sebenarnya Pemerintah Kota Jakarta Timur sudah menyediakan tempat alternatif untuk mereka.

Para pedagang tersebut diperbolehkan berjualan di sekitar pemakaman Pondok Kelapa. Namun, tempat yang disediakan Pemkot Jaktim dianggap masih kurang.

"Cuma 20 orang yang sudah pindah ke sana, kami akan ada 35 orang, 15 orang lagi belum bisa ke sana karena tempat itu enggak muat," ujar Torang.


EditorIcha Rastika

Close Ads X