Kompas.com - 29/01/2018, 11:16 WIB
Senjumlah pengemudi taksi online menggelar aksi unjuk rasa di Lapangan IRTI, Monas, Jakarta Pusat, Senin (29/1/2018). Unjuk rasa itu untuk menolak PM 108 yang mengatur soal taksi online. Ridwan Aji Pitoko/KOMPAS.comSenjumlah pengemudi taksi online menggelar aksi unjuk rasa di Lapangan IRTI, Monas, Jakarta Pusat, Senin (29/1/2018). Unjuk rasa itu untuk menolak PM 108 yang mengatur soal taksi online.
|
EditorEgidius Patnistik

JAKARTA, KOMPAS.com - Para pengemudi taksi online berkumpul di Lapangan IRTI Monas, Jakarta Pusat, Senin (29/1/2018). Di sana mereka menyatakan penolakan terhadap Peraturan Menteri (PM) Perhubungan Nomor 108 Penyelenggaran Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek.

Dua mobil komando ditempatkan di depan Food and Culture Lenggang Jakarta.

Koordinator Aliansi Nasional Driver Online (Aliando) Baja menyampaikan, para pengemudi taksi online akan berjalan ke gedung Kementerian Perhubungan untuk menyampaikan penolakan tersebut. "Jam 11 kami akan bergerak menuju ke gedung Kemenhub," ucap Baja.

Baja juga menambahkan, selain ke Kemenhub, sekitar 200 orang akan berjalan ke Mahkamah Konstitusi (MK).

"Ke MK ada sidang uji materi UU 22 Tahun 2009 Pasal 151 di mana mengembalikan kemandirian individu untuk berusaha transportasi, karena di UU sebelumnya nomor 14 tahun 1997 kalau perorangan bisa usaha transportasi yang 2014 dihilangkan mau kami kembalikan," tandas Baja.

Suasana unjuk rasa para pengemudi taksi online di Lapangan IRTI, Monas, Jakarta Pusat, Senin (29/1/2018). Unjuk rasa itu untuk menolak PM 108 yang mengatur soal taksi online.Ridwan Aji Pitoko/KOMPAS.com Suasana unjuk rasa para pengemudi taksi online di Lapangan IRTI, Monas, Jakarta Pusat, Senin (29/1/2018). Unjuk rasa itu untuk menolak PM 108 yang mengatur soal taksi online.
Para pengemudi taksi online menolak PM 108 karena isinya yang dianggap merugikan mereka. Mereka merasa, regulasi tersebut seperti wajib masuk koperasi, memasang stiker, dan uji KIR, memberatkan dan merugikan mereka.

"Selama ini kan kami pakai kendaraan pribadi, kendaraan kami sendiri. Lalu, kalau harus uji KIR, gabung di koperasi, apalagi sampai status kendaraan kami diubah jadi kendaraan umum, jelas tidak maulah. Rugi kami," kata Satrio, pengemudi taksi online pada Minggu kemarin.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga : Pengemudi Taksi Online Akan Gelar Aksi Tolak Regulasi PM 108 Hari Ini

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Besok, Ganjil Genap di Margonda Depok Kembali Berlaku

Besok, Ganjil Genap di Margonda Depok Kembali Berlaku

Megapolitan
Polisi Hentikan Kasus Dugaan Penganiayaan Selebgram Ayu Thalia oleh Nicholas Sean

Polisi Hentikan Kasus Dugaan Penganiayaan Selebgram Ayu Thalia oleh Nicholas Sean

Megapolitan
Seorang Remaja Tewas Saat Berenang di Pelabuhan Sunda Kelapa Saat Banjir Rob

Seorang Remaja Tewas Saat Berenang di Pelabuhan Sunda Kelapa Saat Banjir Rob

Megapolitan
Seorang Nenek Tewas Mengenaskan Tertabrak Kereta di Kebon Jeruk

Seorang Nenek Tewas Mengenaskan Tertabrak Kereta di Kebon Jeruk

Megapolitan
Imbas Ganjil Genap di Margonda, Akses Menuju Depok dari Lenteng Agung Macet Panjang

Imbas Ganjil Genap di Margonda, Akses Menuju Depok dari Lenteng Agung Macet Panjang

Megapolitan
Kasus DBD Naik, PMI Tangsel Sebut Permintan Trombosit Meningkat

Kasus DBD Naik, PMI Tangsel Sebut Permintan Trombosit Meningkat

Megapolitan
Hari Pertama Dibuka, 500 Pengunjung Sudah Reservasi ke Atlantis Ancol

Hari Pertama Dibuka, 500 Pengunjung Sudah Reservasi ke Atlantis Ancol

Megapolitan
Banjir Rob di Jalan Lodan, Pompa Mobile Dikerahkan untuk Surutkan Genangan

Banjir Rob di Jalan Lodan, Pompa Mobile Dikerahkan untuk Surutkan Genangan

Megapolitan
Imbas Ganjil Genap di Margonda, Macet Panjang dari Jalan Kartini

Imbas Ganjil Genap di Margonda, Macet Panjang dari Jalan Kartini

Megapolitan
229 Bus Berhenti Beroperasi Imbas Kecelakaan, Transjakarta Jamin Layanan Tak Terganggu

229 Bus Berhenti Beroperasi Imbas Kecelakaan, Transjakarta Jamin Layanan Tak Terganggu

Megapolitan
RS Harapan Kita: Haji Lulung Bukan Dibuat Koma, tapi Diberi Obat Penenang

RS Harapan Kita: Haji Lulung Bukan Dibuat Koma, tapi Diberi Obat Penenang

Megapolitan
Ganjil Genap di Jalan Margonda Mulai Berlaku Siang Ini, Begini Situasi di Lokasi

Ganjil Genap di Jalan Margonda Mulai Berlaku Siang Ini, Begini Situasi di Lokasi

Megapolitan
Transjakarta Hentikan Sementara Operasional 229 Bus dari 2 Operator yang Terlibat Kecelakaan

Transjakarta Hentikan Sementara Operasional 229 Bus dari 2 Operator yang Terlibat Kecelakaan

Megapolitan
Polisi Tangkap Penipu Rekrutmen CPNS, Korban Dijanjikan Jadi PNS Kemenkumham dengan Setor Rp 35 Juta

Polisi Tangkap Penipu Rekrutmen CPNS, Korban Dijanjikan Jadi PNS Kemenkumham dengan Setor Rp 35 Juta

Megapolitan
Bus Kecelakaan Berulang Kali, Dirut Transjakarta Minta Maaf

Bus Kecelakaan Berulang Kali, Dirut Transjakarta Minta Maaf

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.