Kompas.com - 11/02/2018, 15:50 WIB
Rapat musyawarah tingkat Muspika Kecamatan Legok terkait adanya penolakan kegiatan Biksu Mulyanto Nurhalim di Desa Babat, Legok, Tangerang. Dokumen Polres Tangerang SelatanRapat musyawarah tingkat Muspika Kecamatan Legok terkait adanya penolakan kegiatan Biksu Mulyanto Nurhalim di Desa Babat, Legok, Tangerang.

JAKARTA, KOMPAS.com - Warga Kebon Baru RT 001 RW 001, Desa Babat, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, menolak kehadiran Biksu Mulyanto Nurhalim karena dinilai telah menyalahgunakan fungsi tempat tinggal menjadi tempat ibadah.

Meski demikian, melalui rapat musyawarah tingkat Muspika Kecamatan Legok, permasalahan tersebut sudah diselesaikan oleh berbagai pihak.

"Dengan cara yang tepat dan cepat, permasalahan sudah selesai," kata Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan AKP Ahmad Alexander kepada Kompas.com, Minggu (11/2/2018).

Ahmad mengatakan, di kediaman Biksu Mulyanto Nurhalim memang sering dikunjungi umat Buddha dari luar Kecamatan Legok, terutama pada hari Sabtu dan Minggu untuk memberikan makan kepada biksu dan minta didoakan, bukan melaksanakan kegiatan ibadah.

"Hal ini dapat dimaklumi karena biksu tidak boleh pegang uang dan beli makanan sendiri. Rumah Biksu Mulyanto Nurhalim dipastikan untuk tempat tinggal, bukan rumah ibadah umat Buddha seperti yang dicurigai," ucap Ahmad.

Selain itu, agar tidak menimbulkan kecurigaan warga, sebaiknya ornamen yang menyerupai kegiatan ibadah umat Buddha dimasukkan ke rumah agar tidak mencolok dan tidak terlihat seperti patung.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Sepakat menyatakan permasalahan selesai dan saling menyadari kesalahan yang ada, kemudian saling memaafkan," tutur Ahmad.

Baca juga: Warga Legok Tolak Kegiatan Umat di Rumah Seorang Biksu

Kapolsek Legok AKP Murodih mengatakan, permasalahan yang terjadi pada Minggu (4/2/2018) di kediaman Biksu Mulyanto diadakan bakti sosial dari umat Buddha dan diduga setiap Minggu sering diadakan kegiatan agama Buddha.

"Tidak dibenarkan jika ada kegiatan ibadah keagamaan yang dilakukan. Saya akan melarang karena izin Biksu Mulyanto Nurhalim di rumah tersebut adalah izin tempat tinggal, bukan untuk kegiatan ibadah. Jika memang dari awal itu adalah izin tempat tinggal maka kembalikan sebagai tempat tinggal, jangan dijadikan tempat ibadah," kata Murodih.

Pihaknya meminta bila ada kegiatan masyarakat di wilayah, baik itu kegiatan agama maupun kegiatan hiburan, untuk disampaikan kepada pihak kepolisian setempat.

"Kita sama-sama di sini saling menjaga lingkungan untuk situasi kamtibmas yang baik. Selayaknya kepada Romo jika ada kunjungan yang datang ke rumah Biksu Mulyanto Nurhalim, setidaknya ada pemberitahuan bila melebihi 1x24 jam untuk tamu," ucap Murodih.

Kades Babat, Sukron Ma'mun, menuturkan bahwa masyarakat di daerahnya selama ini hidup rukun dan berdampingan.

"Perlu diketahui, kami warga Babat dari dulu selalu tidak ada masalah. Kami sangat toleransi sekali dengan pemeluk agama lain. Kami hidup rukun, bahkan ada dua RT di desa kami ketua RT-nya berasal dari turunan China. Permasalahan yang saat itu terjadi, singkatnya pada awal 2010 tanah yang dihuni oleh biksu saat itu dibeli untuk dibangun rumah, bukan untuk dijadikan tempat ibadah," kata Sukron.

Sementara itu, Romo Kartika, pemuka agama Buddha, mengakui bahwa yang dilakukan rekan-rekannya akibat dari kurangnya pemahaman. Meski demikian, Romo Kartika menampik bahwa kegiatan yang dilakukan oleh Mulyanto Nurhalim adalah kegiatan keagamaan.

"Adapun kegiatan hari Minggu, dengan datangnya tamu dari luar, itu bukanlah kegiatan ibadah, hanya datang memberi bekal makan dan biksu sekadar mendoakan mereka yang telah datang," kata Romo Kartika.

Baca juga: Jusuf Kalla: Tempat Ibadah Tidak Boleh Jadi Tempat Kampanye

Adapun Ketua MUI Legok, Odji Madroji, menuturkan, di Desa Babat sudah sering terjadi bahwa rumah yang awalnya tempat tinggal, tetapi lama-kelamaan ketika jemaah menjadi banyak kemudian dibangun tempat ibadah.

"Kami khawatir jika tempat Biksu Mulyanto Nurhalim di Desa Babat dan kecurigaan masyarakat, tempat tersebut dijadikan tempat syi'ar umat Buddha. Jika jelas itu hanya tempat tinggal bukan sebagai tempat ibadah, menurut kami, tidak ada masalah dan masyarakat Babat sangat akan bisa menerima," tuturnya.

Camat Legok, Nurhalim, mengatakan, jika memang ada kegiatan keagamaan maka sebaiknya dilakukan di wihara sebagaimana tempat ibadah umat Buddha.

"Jadi kalau hanya dijadikan tempat tinggal maka masyarakat Desa Babat tidak keberatan kalau memang ingin ibadah. Jangan di situ, silakan ibadah mencari wihara. Jika ada kegiatan, tolong diinformasikan, dikoordinasikan dengan aparat setempat, tokoh sekitar, dan pihak keamanan sehingga masyarakat tidak curiga," kata Nurhalim.



Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Masuk Lapas Klas II A Tangerang, Pinangki Tempati Blok Pengenalan Lingkungan Selama 2 Minggu

Masuk Lapas Klas II A Tangerang, Pinangki Tempati Blok Pengenalan Lingkungan Selama 2 Minggu

Megapolitan
Warteg di Ciputat Jadi Korban Pungli, Pelaku Diduga Karang Taruna Gadungan

Warteg di Ciputat Jadi Korban Pungli, Pelaku Diduga Karang Taruna Gadungan

Megapolitan
Bukan 5M, Kabupaten Bekasi Cegah Penularan Covid-19 dengan 6M

Bukan 5M, Kabupaten Bekasi Cegah Penularan Covid-19 dengan 6M

Megapolitan
Perubahan RPJMD 2017-2022 DKI Jakarta, Manuver Janji Anies di Sisa Masa Jabatan

Perubahan RPJMD 2017-2022 DKI Jakarta, Manuver Janji Anies di Sisa Masa Jabatan

Megapolitan
Babak Baru Kasus Jerinx, Polisi Sita Ponsel dan Kembali Gelar Perkara

Babak Baru Kasus Jerinx, Polisi Sita Ponsel dan Kembali Gelar Perkara

Megapolitan
Dugaan Pengeroyokan Mahasiswa oleh Satpam GBK Diselidiki Polisi

Dugaan Pengeroyokan Mahasiswa oleh Satpam GBK Diselidiki Polisi

Megapolitan
Cerita Penyintas Covid-19 Harus Banyak Keluar Uang untuk Cek Kesehatan Setelah Negatif Covid-19

Cerita Penyintas Covid-19 Harus Banyak Keluar Uang untuk Cek Kesehatan Setelah Negatif Covid-19

Megapolitan
PPKM Level 4 di Jabodetabek, Klaim Penurunan Kasus di Jakarta, tapi Pendapatan Asli Daerah Bekasi Anjlok

PPKM Level 4 di Jabodetabek, Klaim Penurunan Kasus di Jakarta, tapi Pendapatan Asli Daerah Bekasi Anjlok

Megapolitan
PPKM Diperpanjang, Jakarta Masih Berstatus Level 4

PPKM Diperpanjang, Jakarta Masih Berstatus Level 4

Megapolitan
Bagaimana Teknik Swab PCR terhadap Harimau? Ini Penjelasan Dokter Hewan Ragunan

Bagaimana Teknik Swab PCR terhadap Harimau? Ini Penjelasan Dokter Hewan Ragunan

Megapolitan
UPDATE: Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Bertambah 129, Pasien Aktif Jadi 4.662 Orang

UPDATE: Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Bertambah 129, Pasien Aktif Jadi 4.662 Orang

Megapolitan
Kebakaran Gudang di Parakan Sawangan, Karyawan Nyaris Jadi Korban dan Api Sulit Dikendalikan

Kebakaran Gudang di Parakan Sawangan, Karyawan Nyaris Jadi Korban dan Api Sulit Dikendalikan

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Perpanjangan PPKM Level 4 di Jakarta | Reaksi Anies Nonton Greysia/Apriyani Raih Emas Olimpiade

[POPULER JABODETABEK] Perpanjangan PPKM Level 4 di Jakarta | Reaksi Anies Nonton Greysia/Apriyani Raih Emas Olimpiade

Megapolitan
UPDATE: Hampir 1.000 Kasus Baru Covid-19 di Depok, 15 Pasien Wafat

UPDATE: Hampir 1.000 Kasus Baru Covid-19 di Depok, 15 Pasien Wafat

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG Hari Ini: Jakarta Hujan

Prakiraan Cuaca BMKG Hari Ini: Jakarta Hujan

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X