Penjual Rokok Palsu Raup Untung Rp 10 Juta per Bulan

Kompas.com - 12/02/2018, 19:47 WIB
Tersangka THG alias Gino menunjukkan rokok yang dia produksi dengan memalsukan merk dagang salah satu rokok, Selasa (12/2/2018). Atas perbuatannya, THG dan 3 orang lainnya ditangkap Unit Reskrim Polsek Metro Setiabudi. KOMPAS.com/NURSITA SARITersangka THG alias Gino menunjukkan rokok yang dia produksi dengan memalsukan merk dagang salah satu rokok, Selasa (12/2/2018). Atas perbuatannya, THG dan 3 orang lainnya ditangkap Unit Reskrim Polsek Metro Setiabudi.
Penulis Nursita Sari
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Produsen rokok kretek dengan memalsukan merek rokok terkemuka di Indonesia, THG alias Gino, meraup keuntungan Rp 10 juta setiap bulannya.

Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Mardiaz Kusin Dwihananto mengatakan, bisnis rokok palsu milik THG sudah berjalan sejak tahun lalu.

"Ini sudah berjalan dari Juni 2017. Keuntungan dari pembuat rokok, si THG, ini sekitar Rp 10 juta per bulannya," ujar Mardiaz saat merilis kasus tersebut di Mapolsek Metro Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (12/2/2018).

Mardiaz menjelaskan, rokok palsu itu dijual di Jabodetabek oleh MZ dan BSA (tersangka penjual) ke toko-toko. Saat menjual rokok tersebut, MZ dan BSA memakai seragam berlogo perusahaan rokok yang dipalsukan untuk mengelabui pemilik toko yang jadi target pembeli barang palsu mereka.

"Mereka mengedarkan di wilayah Jabodetabek. Mereka menggunakan kostum seolah-olah sales resmi rokok," kata Mardiaz.

Baca juga : Pria Ini Produksi Rokok dengan Palsukan Merk Dagang

Dalam sehari, kata Mardiaz, THG dan tiga orang pekerjanya bisa memproduksi 1-2 bal rokok palsu. 1 bal berisi 20 slop rokok.

Tersangka THG kemudian menjual rokok palsu yang diproduksinya seharga Rp 90.000 per slop kepada BSU, tersangka yang menjadi supplier. BSU menjual kembali rokok tersebut dengan harga Rp 105.000 per slop kepada MZ dan BSA.

"MZ sama BSA menjual (ke toko-toko) seharga Rp 128.000 per slop. Harga aslinya Rp 143.000 per slop," ucap Mardiaz.

Unit Reskrim Polsek Metro Setiabudi kini telah menangkap THG, BSU, MZ, dan BSA. Mereka dijerat Pasal 386 KUHP juncto Pasal 62 Ayat 1 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Mereka diancam hukuman 7 tahun penjara.

Polisi saat ini masih mengejar satu tersangka yang memberikan seragam sales yang juga dipalsukan.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tempat Isolasi OTG Covid-19 di Depok dari CSR Tak Kunjung Beroperasi, Ini Kata Pjs Wali Kota

Tempat Isolasi OTG Covid-19 di Depok dari CSR Tak Kunjung Beroperasi, Ini Kata Pjs Wali Kota

Megapolitan
Doakan Anies Cepat Sembuh, Wakil Wali Kota Bekasi: Covid-19 Bukan Aib

Doakan Anies Cepat Sembuh, Wakil Wali Kota Bekasi: Covid-19 Bukan Aib

Megapolitan
Blok Makam Covid-19 Khusus Jenazah Muslim Penuh di TPU Pondok Ranggon, Hanya Bisa Sistem Tumpang

Blok Makam Covid-19 Khusus Jenazah Muslim Penuh di TPU Pondok Ranggon, Hanya Bisa Sistem Tumpang

Megapolitan
Tersangka yang Cabuli Bocah di Pondok Aren Pernah 4 Kali Lakukan Pelecehan Remas Payudara

Tersangka yang Cabuli Bocah di Pondok Aren Pernah 4 Kali Lakukan Pelecehan Remas Payudara

Megapolitan
Mulai Besok, Underpass Senen Extension Bisa Dilewati Kendaraan 24 Jam

Mulai Besok, Underpass Senen Extension Bisa Dilewati Kendaraan 24 Jam

Megapolitan
Sebut Fraksi PSI Setujui Anggaran Kenaikan Gaji DPRD DKI, Taufik: Tak Perlu Pencitraan

Sebut Fraksi PSI Setujui Anggaran Kenaikan Gaji DPRD DKI, Taufik: Tak Perlu Pencitraan

Megapolitan
Rizieq Shihab dan Menantunya Tak Penuhi Panggilan Polisi, FPI: Karena Kesehatan

Rizieq Shihab dan Menantunya Tak Penuhi Panggilan Polisi, FPI: Karena Kesehatan

Megapolitan
Dinilai Mencla-mencle soal Kenaikan Gaji DPRD, DPW PSI: Kami Tegas Menolak

Dinilai Mencla-mencle soal Kenaikan Gaji DPRD, DPW PSI: Kami Tegas Menolak

Megapolitan
Pengangguran Melonjak di Jakarta karena Pandemi, PSI Tolak Kenaikan Anggaran untuk DPRD

Pengangguran Melonjak di Jakarta karena Pandemi, PSI Tolak Kenaikan Anggaran untuk DPRD

Megapolitan
SPBU MT Haryono Ditutup Setelah Kebakaran, Ini 2 SPBU Alternatif untuk Isi BBM

SPBU MT Haryono Ditutup Setelah Kebakaran, Ini 2 SPBU Alternatif untuk Isi BBM

Megapolitan
Kronologi Kebakaran di SPBU MT Haryono, Percikan Api Muncul Setelah Listrik Menyala

Kronologi Kebakaran di SPBU MT Haryono, Percikan Api Muncul Setelah Listrik Menyala

Megapolitan
Selama November, Depok Catat 'Kunjungan' Terbanyak Satwa Liar ke Permukiman

Selama November, Depok Catat "Kunjungan" Terbanyak Satwa Liar ke Permukiman

Megapolitan
Imbas Kerumunan Massa Rizieq Shihab, Camat Tanah Abang dan Lurah Petamburan Juga Dicopot

Imbas Kerumunan Massa Rizieq Shihab, Camat Tanah Abang dan Lurah Petamburan Juga Dicopot

Megapolitan
Data Tim Dokter Kota Bekasi: Semakin Lama Penyembuhan Pasien Covid-19 Berpenyakit Bawaan

Data Tim Dokter Kota Bekasi: Semakin Lama Penyembuhan Pasien Covid-19 Berpenyakit Bawaan

Megapolitan
Jelang Masa Tenang Pilkada Tangsel, Benyamin-Pilar Bakal Fokus Kampanye

Jelang Masa Tenang Pilkada Tangsel, Benyamin-Pilar Bakal Fokus Kampanye

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X