Produksi dan Jual Rokok Palsu, Sejumlah Orang Diciduk Polisi

Kompas.com - 13/02/2018, 08:33 WIB
Tersangka kasus produksi dan penjualan rokok dengan modus memalsukan merk dagang salah satu rokok diperlihatkan kepada wartawan di Mapolsek Metro Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (12/2/2018). KOMPAS.com/NURSITA SARITersangka kasus produksi dan penjualan rokok dengan modus memalsukan merk dagang salah satu rokok diperlihatkan kepada wartawan di Mapolsek Metro Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (12/2/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - THG alias Gino sejak Juni 2017 menjalankan bisnis produksi rokok kretek dengan memalsukan salah satu merek rokok terkemuka di Indonesia. Dia mulai menjalankan bisnis barang palsunya itu setelah belajar cara membuat dan melinting rokok di daerah Jawa Tengah.

Kepada wartawan di Mapolsek Metro Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (12/2/2018), THG mengatakan, ia awalnya seorang pengusaha percetakan. Namun, usahanya bangkrut.

Bermodalkan alat pencetakan yang dia miliki, THG membuat sendiri bungkus dan kardus rokok hingga menyerupai merek aslinya. Dia juga mencetak logo rokok tersebut di kertas papir atau kertas pelinting tembakau yang dia beli.

Baca juga : Rokok Palsu yang Dijual di Jabodetabek Rasanya Pahit

Dengan dibantu tiga pekerja, THG melinting sendiri rokok palsu dengan alat pelinting yang dibeli dari pasar di Jawa Tengah. Dalam sehari, THG dan tiga pekerjanya bisa memproduksi 1-2 bal rokok palsu. Satu bal berisi 20 slop rokok.

Ditangkap

Unit Reskrim Polsek Metro Setiabudi menangkap THG atas perbuatannya memalsukan merek dagang pada 5 Februari 2018 di Tangerang, Banten. Sebelum menangkap THG, polisi menangkap MZ dan BSA (penjual rokok ke toko-toko) pada 25 Januari 2018 serta BSU (penyuplai) pada 31 Januari 2018.

Saat menjual rokok, MZ dan BSA memakai seragam berlogo perusahaan rokok yang dipalsukan untuk mengelabui pemilik toko yang jadi target pembeli barang palsu mereka. Orang yang memberikan seragam sales palsu itu masih buron.

Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Mardiaz Kusin Dwihananto mengatakan, penangkapan bermula ketika pemilik toko di Pasar Mencos, Setiabudi, yang membeli rokok dari tersangka MZ dan BSA dikomplain pembelinya. Pemilik toko dikomplain karena rasa rokok yang dijualnya berbeda dibandingkan rokok asli merek tersebut.

"Ketika seorang penjual rokok/korban menjual rokok yang dia beli, ternyata konsumen itu mengembalikan rokok ke tokonya karena rokok yang dijual terasa pahit," kata Mardiaz saat merilis kasus tersebut.

Keempat tersangka kini dijerat Pasal 386 KUHP juncto Pasal 62 Ayat 1 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Mereka diancam hukuman tujuh tahun penjara.

Mardiaz menyampaikan, sebagai produsen rokok palsu, THG meraup keuntungan Rp 10 juta setiap bulannya. Bisnisnya berjalan sejak Juni tahun lalu. Jadi setidaknya THG sudah mengantongi untung sekitar Rp 80 juta.

Baca juga : Penjual Rokok Palsu Raup Untung Rp 10 Juta per Bulan

THG menjual rokok palsu yang diproduksinya seharga Rp 90.000 per slop kepada BSU. BSU menjual kembali rokok tersebut dengan harga Rp 105.000 per slop kepada MZ dan BSA.

Sementara MZ dan BSA menjual rokok palsu itu ke toko-toko di Jabodetabek dengan harga Rp 128.000 per slop. Padahal, harga asli merek tersebut di pasaran Rp 143.000 per slop.

Bedakan rokok asli dan palsu

Romok palsu dapat dikenali dari rasanya. Rokok tersebut memiliki rasa yang pahit dibandingkan merek yang asli.

"Diketahui ini rokok palsu adalah dari rasanya. Konsumen mengembalikan rokok kepada si pemilik warung karena rasanya pahit," ujar Mardiaz.

Secara kasat mata, tidak ada perbedaan menonjol dari kemasan maupun batang rokok yang asli dan palsu. Namun, jika diperhatikan, bagian cukai rokok yang asli lebih pudar.

Perbedaan lain adalah tembakau dalam setiap lintingan batang rokok palsu tidak terlalu padat. Ujung tembakaunya pun tidak rapi.

Perbedaan lainnya bisa diketahui dari harga rokok. Rokok palsu dijual lebih murah dari harga pasaran rokok yang asli.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cegah Banjir, Pemancingan Liar di Waduk Munjul Dibongkar

Cegah Banjir, Pemancingan Liar di Waduk Munjul Dibongkar

Megapolitan
Kejar Target Persiapkan Pilkada 2020, KPU Tangsel Targetkan Lipat 1 Juta Surat Suara dalam 4 Hari

Kejar Target Persiapkan Pilkada 2020, KPU Tangsel Targetkan Lipat 1 Juta Surat Suara dalam 4 Hari

Megapolitan
Cerita Jacklyn Choppers Punya Akun YouTube, Pernah Bikin Warga 'Lupa' Sedang Marah ke Polisi

Cerita Jacklyn Choppers Punya Akun YouTube, Pernah Bikin Warga "Lupa" Sedang Marah ke Polisi

Megapolitan
Pengendara Motor Tertimpa Patahan Pohon di Lapangan Banteng

Pengendara Motor Tertimpa Patahan Pohon di Lapangan Banteng

Megapolitan
Berbagai Usulan DPRD DKI Jakarta untuk Pembelajaran Tatap Muka

Berbagai Usulan DPRD DKI Jakarta untuk Pembelajaran Tatap Muka

Megapolitan
Rumah Dinas Guru SMK 57 Terbakar Dini Hari Tadi, Diduga karena Korsleting

Rumah Dinas Guru SMK 57 Terbakar Dini Hari Tadi, Diduga karena Korsleting

Megapolitan
Beda Pandangan Pemprov dengan DPRD DKI soal KBM Tatap Muka

Beda Pandangan Pemprov dengan DPRD DKI soal KBM Tatap Muka

Megapolitan
1.823 Orang Masih Positif Covid-19 di Depok, Ini Sebaran Kelurahannya

1.823 Orang Masih Positif Covid-19 di Depok, Ini Sebaran Kelurahannya

Megapolitan
Dendam Mantan Karyawan di Balik Pembunuhan Berencana Bos di Tangerang...

Dendam Mantan Karyawan di Balik Pembunuhan Berencana Bos di Tangerang...

Megapolitan
Bayang-bayang Lonjakan Covid-19 di Jakarta Jelang Libur Panjang Akhir Tahun

Bayang-bayang Lonjakan Covid-19 di Jakarta Jelang Libur Panjang Akhir Tahun

Megapolitan
Rapid Test di Petamburan yang Sepi Peminat, Warga Diduga Takut, Kabur Setelah Dinyatakan Reaktif

Rapid Test di Petamburan yang Sepi Peminat, Warga Diduga Takut, Kabur Setelah Dinyatakan Reaktif

Megapolitan
Dugaan Pungli Bansos di Muara Angke, Warga Dimintai Rp 20.000, Ketua RT Terancam Dipecat...

Dugaan Pungli Bansos di Muara Angke, Warga Dimintai Rp 20.000, Ketua RT Terancam Dipecat...

Megapolitan
Dudung Abdurachman, Loper Koran Jadi Jenderal

Dudung Abdurachman, Loper Koran Jadi Jenderal

Megapolitan
UPDATE 24 November: Naik Terus, Jumlah Pasien Covid-19 di Depok 1.823 Orang

UPDATE 24 November: Naik Terus, Jumlah Pasien Covid-19 di Depok 1.823 Orang

Megapolitan
UPDATE 24 November: Bertambah 20 Kasus Positif Covid-19 di Tangsel, Totalnya Kini 2.400

UPDATE 24 November: Bertambah 20 Kasus Positif Covid-19 di Tangsel, Totalnya Kini 2.400

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X