Ketika Jaksa Menuntut dan Jonru Tak Peduli...

Kompas.com - 20/02/2018, 12:21 WIB
Jonru tidak peduli nota keberatanya di tolak hakim, Senin (22/1/2018) Stanly RavelJonru tidak peduli nota keberatanya di tolak hakim, Senin (22/1/2018)
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pada Senin (19/2/2018), tim jaksa penuntut umum yang menangani kasus ujaran kebencian dengan terdakwa Jon Riah Ukur atau Jonru, menyampaikan tuntutannya.

Jaksa menuntut agar Jonru dihukum dua tahun penjara dan denda Rp 50 juta. Tuntutan tersebut dibacakan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Menurut jaksa, Jonru terbukti melakukan beberapa perbuatan dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan, suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

Masing-masing tindakan tersebut dianggap terbukti berhubungan sedemikian rumah sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut.

"Terdakwa secara sah dan terbukti menyebarkan informasi untuk memancing kebencian dan permusuhan baik secara individu dan kelompok sehingga atas perbuatanya tersebut harus dipertanggungjawabkan," kata Zulkipli selaku jaksa penutunt umum, Senin.

Baca juga : Tidak Merasa Bersalah, Hal yang Memberatkan Tuntutan Jonru...

Menurut jaksa, tuntutan ini disusun berdasarkan sejumlah bukti, di antaranya berupa postingan di media sosial. Selain itu, bukti berupa keterangan para saksi ahli termasuk pelapor, ahli, dan fakta persidangan.

"Menurut ahli bahasa dan pelapor, postingan terdakwa mengenai Presiden Jokowi yang menyebutkan asal usul orang tua Jokowi tidak jelas, mengandung kebencian," kata Zulkipli.

Di samping itu, jaksa menyampaikan pertimbangannya mengapa menuntut Jonru dihukum dua tahun penjara dan denda Rp 50 juta.

"Ada pertimbangan yang meringakan, ada yang memberatkan. Untuk pertimbangan yang memeberatkan ada tiga poin, yakni perkara ini termasuk perkara yang menarik perhatian masyarakat, terdakwa tidak merasa bersalah, dan terdakwa tidak menyesali perbuatannya," ujar Zulkipli.

Sementara itu, hal yang menjadi pertimbangan meringankan, terdakwa Jonru merupakan tulang punggung keluarga dan belum pernah dihukum sebelumnya.

Tidak peduli

Tuntutan jaksa ini dijawab oleh tim kuasa hukum Jonru yang mengatakan siap untuk membela klienya pada persidangan selanjutnya yang dijadwalkan pada Senin (26/2/2018).

Djuju Purwanto selaku kuasa hukum Jonru mengatakan, semua tuntutan jaksa bertentangan dengan fakta-fakta dan terlalu mengada-ada.

"Postingan yang dianggap jaksa berdampak menimbulkan kebencian dan permusuhan tidak ada buktinya, tidak ada suatu akibat hukum yang ditumbulkan karena dakwaan di Pasal 28 Ayat (2) itu. Bila dibilang menimbulkan kebencian dan permusuhan buktinya di mana, kan tidak ada faktanya," kata Djuju.

Baca juga : Jonru Tak Peduli Dituntut 2 Tahun Penjara dan Sebut Jaksa Bukan Tuhan

Sementara itu, atas tuntutan jaksa ini, Jonru menyatakan tidak peduli. "Saya hanya percaya penilaian Allah terhadap saya, dan jaksa itu bukan Tuhan. Jadi, saya tidak peduli, Allahu akbar... Allahu akbar... Allahu akbar," ucap Jonru di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (19/2/2018).



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pilkada Depok, PSI Manfaatkan Kesempatan untuk Perkuat Mesin Partai

Pilkada Depok, PSI Manfaatkan Kesempatan untuk Perkuat Mesin Partai

Megapolitan
[HOAKS] Data BIN Tetapkan Jakarta Zona Hitam Covid-19

[HOAKS] Data BIN Tetapkan Jakarta Zona Hitam Covid-19

Megapolitan
Ditjen Perkeretapian Hentikan Pembongkaran Struktur Bata Kuno di Proyek DDT Stasiun Bekasi

Ditjen Perkeretapian Hentikan Pembongkaran Struktur Bata Kuno di Proyek DDT Stasiun Bekasi

Megapolitan
Warga Jakarta Bisa Gelar Lomba dan Kegiatan 17 Agustus, asalkan...

Warga Jakarta Bisa Gelar Lomba dan Kegiatan 17 Agustus, asalkan...

Megapolitan
Polisi Buru Tetangga yang Diduga Bawa Kabur Remaja Asal Cengkareng

Polisi Buru Tetangga yang Diduga Bawa Kabur Remaja Asal Cengkareng

Megapolitan
Seorang Ibu Laporkan Tetangga, Diduga Bawa Kabur Anaknya Berusia 14 Tahun

Seorang Ibu Laporkan Tetangga, Diduga Bawa Kabur Anaknya Berusia 14 Tahun

Megapolitan
Bandara Soekarno-Hatta Operasikan Heliport Komersial Mulai 23 Agustus

Bandara Soekarno-Hatta Operasikan Heliport Komersial Mulai 23 Agustus

Megapolitan
PSI Nilai Koalisi Gerindra dan PDI-P Tak Serius Menang di Pilkada Depok 2020

PSI Nilai Koalisi Gerindra dan PDI-P Tak Serius Menang di Pilkada Depok 2020

Megapolitan
Ledakan Covid-19 Kota Bogor, PNS Hingga Puluhan Pegawai Puskesmas Positif Corona

Ledakan Covid-19 Kota Bogor, PNS Hingga Puluhan Pegawai Puskesmas Positif Corona

Megapolitan
Saat 867 Pohon Harus Diganti dan Direlokasi karena Imbas Proyek MRT Fase 2A

Saat 867 Pohon Harus Diganti dan Direlokasi karena Imbas Proyek MRT Fase 2A

Megapolitan
Penumpang KRL Tak Tertib hingga Rusak Pagar Stasiun Tanah Abang, Personel TNI-Polri Dikerahkan

Penumpang KRL Tak Tertib hingga Rusak Pagar Stasiun Tanah Abang, Personel TNI-Polri Dikerahkan

Megapolitan
UPDATE 11 Agustus: Covid-19 di Kota Bekasi Capai 626 Kasus Positif

UPDATE 11 Agustus: Covid-19 di Kota Bekasi Capai 626 Kasus Positif

Megapolitan
Akhir Rentetan Penembakan Misterius yang Incar Pengedara di Tangsel

Akhir Rentetan Penembakan Misterius yang Incar Pengedara di Tangsel

Megapolitan
Kebakaran Selama 8 Jam, 987 Jiwa Kehilangan Tempat Tinggal di Tambora

Kebakaran Selama 8 Jam, 987 Jiwa Kehilangan Tempat Tinggal di Tambora

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Babak Baru Pemerkosaan di Bintaro | Penembakan Misterius di Tangsel Lukai 8 Korban

[POPULER JABODETABEK] Babak Baru Pemerkosaan di Bintaro | Penembakan Misterius di Tangsel Lukai 8 Korban

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X