Bertani di Ibu Kota, Tetap Menanam meski Hasil Tak Menentu

Kompas.com - 15/03/2018, 15:44 WIB
Usup (70) dan Oti (52) berusaha mengusir hama burung yang menyerang padi mereka di lahan persawahan dekat BKT, Jakarta Timur, Rabu (14/3/2018) Kompas.com/Setyo AdiUsup (70) dan Oti (52) berusaha mengusir hama burung yang menyerang padi mereka di lahan persawahan dekat BKT, Jakarta Timur, Rabu (14/3/2018)

JAKARTA, KOMPAS.com - Bekerja sebagai petani mungkin sesuatu yang jarang didengar bagi sebagian warga kota Jakarta.

Namun, di beberapa wilayah Ibu Kota, menjadi petani terutama menanam padi, masih jadi pilihan bekerja sebagian warga.

Sunardi (40) salah satunya. Warga asli Pusaka Ratu, Subang ini datang ke Jakarta untuk mengadu nasib.

Namun, karena keahliannya di kampung sebagai petani, kehidupan bertani tetap jadi pilihannya mencari nafkah.

"Waktu saya ke Jakarta inginnya bekerja beda, tetapi ternyata ketemu sawah juga di sini (Cakung Timur) sebelum sekarang jadi perumahan. Sudah hampir 15 tahun bekerja," ucap Sunardi.

Baca juga : Masih Ada Sawah, DKI Akan Buat Wisata Agro Saat Asian Games

Hal yang sama disampaikan Tarsono (30), warga Indramayu. Ia datang ke Jakarta untuk membantu kakeknya, Warsiman, menggarap satu hektar petak sawah di Jalan Inspeksi Timur, Cakung, Jakarta Timur.

"Di kampung sebenarnya masih ada lahan. Masih sering pulang pergi ke Indramayu untuk bertani juga. Saya ke sini ikut istri. Dan ada kakek garap sawah, saya bantu-bantu daripada menggangur," ucap Tarsono.

Baik Tarsono dan Sunardi menyampaikan, bekerja sebagai petani tidak selalu menguntungkan. Sebab, keuntungan dari bertani tergantung beberapa faktor, antara lain hasil panen, hama dan cuaca, serta harga padi.

"Modal untuk satu hektar lahan saja sekitar Rp 10 juta. Kalau lagi bagus hasil panen basah bisa sekitar 6 ton, paling jelek 3 ton. Kalau harga padi lagi jelek, di bawah Rp 4.000 per kwintal ya bisa saja tidak menutup modal," ucap Tarsono.

Warsiman (80) petani di Cakung Timur, Jakarta Timur, melihat lahan sawah garpaannya, Rabu (14/3/2018)Kompas.com/Setyo Adi Warsiman (80) petani di Cakung Timur, Jakarta Timur, melihat lahan sawah garpaannya, Rabu (14/3/2018)

Meski begitu, petani-petani yang ditemui Kompas.com di sekitar Banjir Kanal Timur (BKT) mengaku tak pernah memikirkan soal untung rugi.

Hal yang terpenting bagi mereka yakni masih bisa berkegiatan dan bekerja di Ibu Kota. Panen pun masih dapat disimpan untuk dipakai sendiri.

"Terpenting tidak diam. Bisa bekerja, garap lahan, tanam padi. Selain padi sekitar lahan juga ditanami jenis tanaman kebun lain. Jadi ada saja rezekinya," ucap Usup (70), warga Medan Satria yang tetap memilih bertani padi meski hasilnya tidak menentu.

Baca juga : Saat Gubernur Anies Panen Padi dengan Pakaian Dinas...

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, di Jakarta masih tersedia lahan persawahan yang cukup luas.

Menurut Anies, ada lebih dari 300 hektar sawah di Jakarta. "Dan di lokasi ini ada sekitar 3 hektar dan alhamdulillah ditanam bulan Oktober, November dan sudah panen kira 5 ton per hektarnya," ujar Anies saat berkunjung ke areal persawahan di Cakung Timur, akhir Januari lalu.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kepatuhan Warga Rendah, Wagub DKI Minta Dewan Kota/Kabupaten Sosialisasi Protokol Pencegahan Covid-19

Kepatuhan Warga Rendah, Wagub DKI Minta Dewan Kota/Kabupaten Sosialisasi Protokol Pencegahan Covid-19

Megapolitan
UPDATE 9 Juli: 13 Kelurahan di Depok Masih di Zona Merah Covid-19

UPDATE 9 Juli: 13 Kelurahan di Depok Masih di Zona Merah Covid-19

Megapolitan
Virus Corona Menyebar di Udara, Ini Saran Epidemiolog Terkait Aktivitas Bioskop

Virus Corona Menyebar di Udara, Ini Saran Epidemiolog Terkait Aktivitas Bioskop

Megapolitan
Mobil Tercebur di Kalimalang, Anak Tiga Tahun Masih Dicari

Mobil Tercebur di Kalimalang, Anak Tiga Tahun Masih Dicari

Megapolitan
Pemprov DKI Masih Larang Resepsi Pernikahan karena Rentan Penularan Covid-19

Pemprov DKI Masih Larang Resepsi Pernikahan karena Rentan Penularan Covid-19

Megapolitan
Daftar 52 Kelurahan di Kota Tangerang yang Masih Ada Kasus Covid-19

Daftar 52 Kelurahan di Kota Tangerang yang Masih Ada Kasus Covid-19

Megapolitan
5 Fakta Aksi WN Perancis Predator Paedofil, Modus Jadi Fotografer hingga 305 Anak Jadi Korban

5 Fakta Aksi WN Perancis Predator Paedofil, Modus Jadi Fotografer hingga 305 Anak Jadi Korban

Megapolitan
Kisah Arista Peraih Ratusan Penghargaan yang Pilih Putus Sekolah Setelah Gagal PPDB Jakarta

Kisah Arista Peraih Ratusan Penghargaan yang Pilih Putus Sekolah Setelah Gagal PPDB Jakarta

Megapolitan
Sedang Dorong Sepeda karena Ban Bocor, Lansia di Depok Meninggal

Sedang Dorong Sepeda karena Ban Bocor, Lansia di Depok Meninggal

Megapolitan
Mobil Tercebur ke Kalimalang, Ibu Ditemukan Meninggal, Anak Hanyut

Mobil Tercebur ke Kalimalang, Ibu Ditemukan Meninggal, Anak Hanyut

Megapolitan
Kisah Petugas Kebersihan KRL Temukan Uang Rp 500 Juta, Mengira Sampah hingga Kembalikan ke Pemilik

Kisah Petugas Kebersihan KRL Temukan Uang Rp 500 Juta, Mengira Sampah hingga Kembalikan ke Pemilik

Megapolitan
Mobil Tercebur Kalimalang, Satu Orang Meninggal Terseret Arus

Mobil Tercebur Kalimalang, Satu Orang Meninggal Terseret Arus

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Kejujuran Petugas Stasiun Bogor Kembalikan Uang Rp 500 Juta | Ironi Siswi Berprestasi Gagal dalam PPDB

[POPULER JABODETABEK] Kejujuran Petugas Stasiun Bogor Kembalikan Uang Rp 500 Juta | Ironi Siswi Berprestasi Gagal dalam PPDB

Megapolitan
Ini 13 Lokasi Layanan Perpanjangan SIM di Jakarta Hari Ini

Ini 13 Lokasi Layanan Perpanjangan SIM di Jakarta Hari Ini

Megapolitan
Ibadah Haji 2020 Batal, Penjualan Sapi Kurban Diprediksi Meningkat

Ibadah Haji 2020 Batal, Penjualan Sapi Kurban Diprediksi Meningkat

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X