Cerita Para Petani Padi Ibu Kota...

Kompas.com - 16/03/2018, 06:04 WIB
Usup (70) dan Oti (52) berusaha mengusir hama burung yang menyerang padi mereka di lahan persawahan dekat BKT, Jakarta Timur, Rabu (14/3/2018) Kompas.com/Setyo AdiUsup (70) dan Oti (52) berusaha mengusir hama burung yang menyerang padi mereka di lahan persawahan dekat BKT, Jakarta Timur, Rabu (14/3/2018)

JAKARTA, KOMPAS.com - Warsiman (80) sedang mencangkul sawah bersama cucunya, Tarsono (36), saat ditemui Kompas.com Rabu (14/3/2018).

Sudah sejak 2012 Warsiman menggarap lahan kosong di sekitar rumahnya yang terletak di Jalan Inspeksi Timur, Cakung, Jakarta Timur tersebut.

"Bagaimana, namanya juga tidak ada kerjaan. Sudah tua tetapi saya masih ingin berkegiatan. Makanya bertani," ucap Warsiman.

Bertani, terutama menanam padi, merupakan hal yang jarang ditemui di Ibu Kota. Sawah hanya terlihat di sebagian wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara.

Warsiman mengaku dibantu oleh cucunya yang datang dari Indramayu untuk menggarap sawah satu hektar tersebut. Tarsono datang ke Jakarta karena sang istri bekerja di Ibu Kota.

"Mau tidak mau ke Jakarta. Sering pulang pergi Indramayu untuk mengurus sawah di kampung," ucap Tarsono.

Baca juga : Bertani di Ibu Kota, Tetap Menanam meski Hasil Tak Menentu

Cerita yang hampir sama diutarakan Usup (70), warga Medan Satria Bekasi yang menggarap sepetak lahan di sisi Banjir Kanal Timur (BKT). Ia mengerjakan lahan seluas dua setengah hektar untuk ditanami padi jenis Ciherang.

"Sudah sejak tahun 2000, dulunya masih kebun. Saya buka pakai tangan sedikit demi sedikit. Dari pada tidak bekerja, karena saya sudah tua tetapi saya yakin masih bisa punya tenaga," ucap Usup.

Lahan persawhan di sekitar Banjir kanal timur, Cakung, Jakarta TImur Rabu (14/3/2018). Lahan persawahan masih dapat ditemui di beberapa daerah di JakartaKompas/Setyo Adi Lahan persawhan di sekitar Banjir kanal timur, Cakung, Jakarta TImur Rabu (14/3/2018). Lahan persawahan masih dapat ditemui di beberapa daerah di Jakarta

Baik Warsiman dan Usup menolak tua dengan tidak melakukan apa-apa. Kesamaan lainnya, keduanya menggarap lahan bukan miliknya.

Warsiman diperintahkan oleh pemilik lahan yang sedang dalam sengketa untuk menanam padi agar tidak diserobot oleh pihak-pihak yang bersengketa. Sementara itu, Usup secara sadar membuka lahan milik pemerintah.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Penembakan Mahasiswa Universitas Halu Oleo, Brigadir AM Divonis 4 Tahun Penjara

Penembakan Mahasiswa Universitas Halu Oleo, Brigadir AM Divonis 4 Tahun Penjara

Megapolitan
Pengangkatan Sampah Kayu di Kali Bekasi Terkendala Alat Berat

Pengangkatan Sampah Kayu di Kali Bekasi Terkendala Alat Berat

Megapolitan
[UPDATE] Depok Catat 2.157 Kasus Aktif Covid-19, Terbanyak Selama Pandemi

[UPDATE] Depok Catat 2.157 Kasus Aktif Covid-19, Terbanyak Selama Pandemi

Megapolitan
1.968 Titik Tali Air di Jakarta Utara Rusak, Kini sedang Diperbaiki

1.968 Titik Tali Air di Jakarta Utara Rusak, Kini sedang Diperbaiki

Megapolitan
Polisi: Tersangka Pencabulan Bocah di Pondok Aren Juga Pernah Membegal Pesepeda

Polisi: Tersangka Pencabulan Bocah di Pondok Aren Juga Pernah Membegal Pesepeda

Megapolitan
UPDATE 1 Desember: Tambah 1.058 Kasus Covid-19 di Jakarta, 10.128 Pasien Masih Dirawat

UPDATE 1 Desember: Tambah 1.058 Kasus Covid-19 di Jakarta, 10.128 Pasien Masih Dirawat

Megapolitan
Polisi: Tersangka Pencabulan Bocah di Pondok Aren Sudah 4 Kali Beraksi Sejak 2017

Polisi: Tersangka Pencabulan Bocah di Pondok Aren Sudah 4 Kali Beraksi Sejak 2017

Megapolitan
Gaji Anggota DPRD DKI Diusulkan Rp 8,38 Miliar Per Tahun pada 2021

Gaji Anggota DPRD DKI Diusulkan Rp 8,38 Miliar Per Tahun pada 2021

Megapolitan
Anies dan Riza Patria Positif Covid-19, Pembahasan APBD 2021 Disebut Tetap Berjalan

Anies dan Riza Patria Positif Covid-19, Pembahasan APBD 2021 Disebut Tetap Berjalan

Megapolitan
Positif Covid-19, Anies dan Riza Patria Akan Jalankan Isolasi Mandiri Dua Minggu

Positif Covid-19, Anies dan Riza Patria Akan Jalankan Isolasi Mandiri Dua Minggu

Megapolitan
Tempat Isolasi OTG Covid-19 di Depok dari CSR Tak Kunjung Beroperasi, Ini Kata Pjs Wali Kota

Tempat Isolasi OTG Covid-19 di Depok dari CSR Tak Kunjung Beroperasi, Ini Kata Pjs Wali Kota

Megapolitan
Doakan Anies Cepat Sembuh, Wakil Wali Kota Bekasi: Covid-19 Bukan Aib

Doakan Anies Cepat Sembuh, Wakil Wali Kota Bekasi: Covid-19 Bukan Aib

Megapolitan
Blok Makam Covid-19 Khusus Jenazah Muslim Penuh di TPU Pondok Ranggon, Hanya Bisa Sistem Tumpang

Blok Makam Covid-19 Khusus Jenazah Muslim Penuh di TPU Pondok Ranggon, Hanya Bisa Sistem Tumpang

Megapolitan
Tersangka yang Cabuli Bocah di Pondok Aren Pernah 4 Kali Lakukan Pelecehan Remas Payudara

Tersangka yang Cabuli Bocah di Pondok Aren Pernah 4 Kali Lakukan Pelecehan Remas Payudara

Megapolitan
Mulai Besok, Underpass Senen Extension Bisa Dilewati Kendaraan 24 Jam

Mulai Besok, Underpass Senen Extension Bisa Dilewati Kendaraan 24 Jam

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X