Sederet Kasus Arseto Suryoadji, dari "Hatespeech", Senjata Ilegal hingga Narkoba ...

Kompas.com - 01/04/2018, 06:30 WIB
Tersangka kasus ujaran kebencian melalui media sosial, Arseto Suryoadji (memakai baju tahanan), dipamerkan polisi saat kasusnya dirilis di Mapolda Metro Jaya, Jumat (30/3/2018). KOMPAS.com/NURSITA SARITersangka kasus ujaran kebencian melalui media sosial, Arseto Suryoadji (memakai baju tahanan), dipamerkan polisi saat kasusnya dirilis di Mapolda Metro Jaya, Jumat (30/3/2018).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Nama Arseto Suryoadji mendadak menjadi perbincangan publik karena sejumlah unggahannya di media sosial yang memantik kontroversi publik.

Salah satunya setelah ia mengunggah video dirinya saat menyebut undangan pernikahan putri Presiden Joko Widodo dijual seharga Rp 25 juta. Hal ini memantik kemarahan publik yang berujung pelaporan atas dirinya di Polda Metro Jaya.

Baru-baru ini polisi telah menahan Arseto. Namun ternyata bukan karena kasua undangan Jokowi, melainkan karena ujaran kebenciannya melalui akun Facebook-nya terkait suku, agama, ras, antaragolongan (SARA).

Arseto menyinggung soal organisasi tertentu yang disebutnya menolak perayaan Hari Raya Paskah di kawasan Monas dalam akun Facebook-nya. Masyarakat kemudian melaporkan tulisan Arseto tersebut.

Baca juga : Miliki Sabu, Arseto Suryoadji Mengaku Sudah Tak Konsumsi Narkoba

Ia menulis bahwa orang yang menolak kegiatan di Monas adalah marxisme dan komunis. Padahal, menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, tak ada satu pihak pun yang melakukan penolakan.

Kepada polisi Arseto menyebut tindakan tersebut ia lakukan lantaran kesal dengan sejumlah kelompok masyarakat tersebut sehingga menulis kalimat tersebut atas dasar emosi semata.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meski demikian polisi tak langsung percaya dan akan menelusuri lebih dalam alasan Arseto melakukan tindakan yang meresahkan masyarakat tersebut.

Namun ternyata tak hanya itu kasus yang menjerat Arseto. Ada kasus lain yang membuatnya akhirnya dikenai pasal berlapis.

Kepemilikan Senjata Ilegal

Saat menggeledah kediaman Arseto beberapa waktu yang lalu polisi menemukan sepucuk air soft gun di mobil pria yang juga dikenal dengan nama Arseto Pariadji ini.

Baca juga : Arseto Suryoadji Tak Kantongi Izin Penggunaan Airsoft Gun

Setelah diselidiki, ternyata Arseto tak mengantongi izin atas kepemilikan senjata tersebut.

Kepada polisi Arseto mengaku membeli senjata tersebut dari seorang kerabatnya. Polisi hingga kini masih mengejar orang yang dimaksud.

Polisi pun masih menggali keterangan dari Arseto mengenai tujuan kepemilikan senjata tersebut.

Kasus Narkoba

Polisi menemukan sejumlah bong (alat hisap sabu), beberapa pipet dan klip plastik di apartemen milik Arseto di kawasan Jakarta Utara. Polisi pun melakukan serangkaian tes untuk mengetahui apakah Arseto mengonsumsi Narkoba.

Kepala Subdirektorat I Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, AKBP Jean Calvijn Simanjuntak mengatakan, berdasarkan hasil tes urine, darah, dan rambut, Arseto Suryoadji negatif narkoba.

"Kami cek konfirmasi ke Labfor (Laboratoriun Forensik Polri), cek terhadap urine, darah, dan rambut, sampai saat ini hasilnya juga negatif terindikasi narkotika dan psikotropika," ujar Calvijn di Mapolda Metro Jaya, Jumat (30/3/2018).

Baca juga : Polisi Sebut Arseto Suryoadji Pernah Beli Sabu di Kampung Ambon

Meski begitu, polisi tetap menetapkan Arseto juga sebagai tersangka kasus narkotika. Sebab, polisi menemukan barang bukti sabu dan peralatan lainnya di apartemen Arseto.

"Kami kejar terhadap barang bukti 0,2 gram diduga sabu, itu dia dapat setahun yang lalu pengakuannya," kata Calvijn.

Menurut Calvijn, Arseto membeli narkotika itu tahun lalu.

"Dia dapat (narkoba) setahun yang lalu pengakuannya. Dibeli sendiri di Kampung Ambon, tapi kami masih dalami. Kemarin belinya 1 gram," ujarnya.

Kini Arseto harus menanggung akibat dari perbuatannya. Tak hanya menahan Arseto, polisi juga menetapkannya sebagai tersangka tiga kasus, yakni ujaran kebencian terkait SARA, penggunaan narkotika, dan kepemilikan senjata api. Polisi menjerat Arseto dengan pasal berlapis.

Baca juga : Polisi Sebut Arseto Suryoadji Menulis Ujaran Kebencian karena Kesal

Dia disangka melanggar Pasal 28 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Pasal 114 subsider Pasal 12 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dan Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 atas kepemilikan senjata.

Kompas TV Tersangka ujaran kebencian bermuatan sara di media sosial, Arseto Pariaji, dijerat 3 pasal berlapis.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jakarta Barat Berencana Bangun Tangki Septik Komunal untuk 500 Rumah di Kelurahan Sukabumi Selatan

Jakarta Barat Berencana Bangun Tangki Septik Komunal untuk 500 Rumah di Kelurahan Sukabumi Selatan

Megapolitan
3 Fakta Penggerebekan Kantor Pinjol Ilegal di Kelapa Gading, Berupaya Kelabui Polisi hingga Pegawai WFH

3 Fakta Penggerebekan Kantor Pinjol Ilegal di Kelapa Gading, Berupaya Kelabui Polisi hingga Pegawai WFH

Megapolitan
Persiapan PTM SD di Kota Tangerang, Siswa Divaksinasi hingga Orangtua Juga Wajib Disuntik Vaksin Covid-19

Persiapan PTM SD di Kota Tangerang, Siswa Divaksinasi hingga Orangtua Juga Wajib Disuntik Vaksin Covid-19

Megapolitan
Rachel Vennya Kabur dari Karantina: Dibantu TNI, Dipanggil Polisi, hingga Siap Terima Sanksi

Rachel Vennya Kabur dari Karantina: Dibantu TNI, Dipanggil Polisi, hingga Siap Terima Sanksi

Megapolitan
Kelabui Polisi Saat Digerebek, Kantor Pinjol Ilegal di Kelapa Gading Mengaku Perusahaan Ekspedisi

Kelabui Polisi Saat Digerebek, Kantor Pinjol Ilegal di Kelapa Gading Mengaku Perusahaan Ekspedisi

Megapolitan
Polisi Pastikan Perusahaan Pinjol Ilegal di Kelapa Gading Tak Lagi Lakukan Penagihan

Polisi Pastikan Perusahaan Pinjol Ilegal di Kelapa Gading Tak Lagi Lakukan Penagihan

Megapolitan
Fakta Baru Kasus Kematian Perempuan di Tol Sedyatmo, Korban Ditabrak Sopir Taksi Online

Fakta Baru Kasus Kematian Perempuan di Tol Sedyatmo, Korban Ditabrak Sopir Taksi Online

Megapolitan
Pemkot Beri Perhatian Khusus pada Empat Kawasan Rawan Banjir di Jakbar

Pemkot Beri Perhatian Khusus pada Empat Kawasan Rawan Banjir di Jakbar

Megapolitan
Perempuan di Pesanggrahan Trauma dan Tak Nafsu Makan karena Pria Masturbasi Buang Sperma di Jok Motornya

Perempuan di Pesanggrahan Trauma dan Tak Nafsu Makan karena Pria Masturbasi Buang Sperma di Jok Motornya

Megapolitan
Sulit Berjalan, Pasien Berbobot 120 Kg Dievakuasi Petugas Damkar dari Lantai 2 Rumah ke RS

Sulit Berjalan, Pasien Berbobot 120 Kg Dievakuasi Petugas Damkar dari Lantai 2 Rumah ke RS

Megapolitan
Rapor Merah 4 Tahun Anies dari LBH: Gimik soal Reklamasi hingga Warga Sulit Punya Rumah di Jakarta

Rapor Merah 4 Tahun Anies dari LBH: Gimik soal Reklamasi hingga Warga Sulit Punya Rumah di Jakarta

Megapolitan
PPKM Jakarta Turun Jadi Level 2

PPKM Jakarta Turun Jadi Level 2

Megapolitan
Babak Baru Kasus Unlawful Killing Laskar FPI, Briptu Fikri dan Ipda Yusmin Didakwa Menganiaya hingga Korban Tewas

Babak Baru Kasus Unlawful Killing Laskar FPI, Briptu Fikri dan Ipda Yusmin Didakwa Menganiaya hingga Korban Tewas

Megapolitan
Cinta Satu Malam di Lokalisasi Gunung Antang Berujung Tewasnya Pelanggan yang Ogah Bayar

Cinta Satu Malam di Lokalisasi Gunung Antang Berujung Tewasnya Pelanggan yang Ogah Bayar

Megapolitan
UPDATE 18 Oktober: Tambah 1 Kasus Covid-19 di Kota Tangerang, 40 Pasien Dirawat

UPDATE 18 Oktober: Tambah 1 Kasus Covid-19 di Kota Tangerang, 40 Pasien Dirawat

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.