Jaksa: Penyelundup 1 Ton Sabu-sabu Tahu Barang yang Diangkutnya

Kompas.com - 05/04/2018, 19:58 WIB
Delapan warga negara Taiwan yang menjadi terdakwa dalam kasus penyelundupan satu ton sabu-sabu menjalani sidang pembacaan replik dari jaksa di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (5/4/2018). KOMPAS.com/NURSITA SARIDelapan warga negara Taiwan yang menjadi terdakwa dalam kasus penyelundupan satu ton sabu-sabu menjalani sidang pembacaan replik dari jaksa di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (5/4/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sarwoto menolak nota pembelaan atau pleidoi yang disampaikan delapan terdakwa penyelundup satu ton sabu-sabu asal Taiwan dan tim penasihat hukumnya. Penolakan itu disampaikan dalam persidangan beragenda pembacaan tanggapan atas pleidoi atau replik dari jaksa di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (5/4/2018).

"Menolak seluruh nota pembelaan penasihat hukum terdakwa," kata Jaksa Sarwoto dalam persidangan.

Dalam repliknya, jaksa menyampaikan, pembelaan para terdakwa dan tim penasihat hukum yang menyebut tak tahu barang yang diangkut adalah narkotika tidak masuk akal.

Sarwoto menjelaskan, para terdakwa pasti mengetahui barang yang mereka angkut.

Baca juga : Pembelaan 8 WN Taiwan Penyelundup 1 Ton Sabu-sabu yang Merasa Ditipu...

"Keterangan terdakwa Liao Guan Yu bahwa sebenarnya telah mengetahui kalau yang akan dikerjakan adalah kirim angkut narkotika. Terdakwa Chen Wei Cyuan dan terdakwa Hsu Yung Li sudah mengetahui kalau barang yang diterima dari Juang Jin Sheng adalah narkotika jenis sabu karena telah mendapatkan penjelasan dari Li Ming Hui," kata Sarwoto.

Sarwoto juga menjelaskan beberapa kejanggalan lain untuk membuktikan bahwa para terdakwa mengetahui barang yang mereka angkut adalah narkotika. Ia menyebut gaji yang dijanjikan tinggi, pengiriman pada malam hari dan sembunyi-sembunyi melalui Dermaga Mandalika, dan jalur pelayaran ilegal.

Sarwoto juga menyebut kapal yang digunakan untuk mengangkut barang tersebut adalah kapal pesiar. Dengan demikian, tidak mungkin barang yang diangkut adalah produk pertanian, seperti yang disampaikan para terdakwa.

"Kapal yang dipakai bukan kapal barang untuk mengangkut produk hasil pertanian. Kapal Wanderlust termasuk jenis kapal pesiar sehingga sangat janggal kalau barang yang diangkut hanya merupakan hasil produk pertanian," kata Sarwoto.

Para terdakwa dan tim penasihat hukumnya tidak mengajukan tanggapan atau duplik atas replik yang disampaikan jaksa.

Karena itu, majelis hakim akan langsung memberikan vonis kepada delapan terdakwa. Sidang pembacaan putusan atau vonis rencananya akan digelar pada 19 April ini.

Dalam persidangan sebelumnya, para terdakwa meminta putusan yang lebih ringan dari tuntutan hukuman mati. Alasannya, mereka mengaku tidak tahu barang yang diantar ke Indonesia itu adalah sabu-sabu. Mereka merasa ditipu.

"Saya awalnya ditipu, disebut yang akan diangkut produk pertanian. Setelah kejadian, saya sangat menyesal," kata seorang terdakwa, Kuo Chun Yuan.

Baca juga : Merasa Ditipu, Terdakwa Penyelundupan 1 Ton Sabu-sabu Minta Keringanan Hukuman

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

1.200 Nasi 'Kotak Oranye' bagi Tenaga Medis di RSUP Persahabatan

1.200 Nasi "Kotak Oranye" bagi Tenaga Medis di RSUP Persahabatan

Megapolitan
Wali Kota Jakbar Usul 183 Warga yang Dikarantina di Masjid Jammi Dipindah ke Wisma Atlet

Wali Kota Jakbar Usul 183 Warga yang Dikarantina di Masjid Jammi Dipindah ke Wisma Atlet

Megapolitan
PNS Pemkot Bekasi Ada yang Positif Covid-19

PNS Pemkot Bekasi Ada yang Positif Covid-19

Megapolitan
Diperpanjang, Pelajar Jakarta Belajar dari Rumah hingga 19 April 2020

Diperpanjang, Pelajar Jakarta Belajar dari Rumah hingga 19 April 2020

Megapolitan
Pemkot Depok Siapkan RS UI hingga Ruang Sekolah untuk Tangani Kasus Covid-19

Pemkot Depok Siapkan RS UI hingga Ruang Sekolah untuk Tangani Kasus Covid-19

Megapolitan
Kasus Covid-19 Terus Meluas, Depok Kaji Opsi Karantina Wilayah

Kasus Covid-19 Terus Meluas, Depok Kaji Opsi Karantina Wilayah

Megapolitan
Depok Dapat 1.000 Alat Rapid Test Covid-19 dari Pemprov Jabar

Depok Dapat 1.000 Alat Rapid Test Covid-19 dari Pemprov Jabar

Megapolitan
Pemkot Depok Berencana Realokasi Anggaran untuk Penanganan Covid-19

Pemkot Depok Berencana Realokasi Anggaran untuk Penanganan Covid-19

Megapolitan
Anies Minta Warga Jakarta Tidak Pulang Kampung untuk Cegah Penyebaran Covid-19

Anies Minta Warga Jakarta Tidak Pulang Kampung untuk Cegah Penyebaran Covid-19

Megapolitan
Gelontorkan Rp 15 Miliar, Pemkot Depok Sebut Stok Masker Tenaga Medis Cukup untuk 3 Bulan

Gelontorkan Rp 15 Miliar, Pemkot Depok Sebut Stok Masker Tenaga Medis Cukup untuk 3 Bulan

Megapolitan
UPDATE Covid-19 di Depok 28 Maret: Tambahan 8 Kasus Positif dan 1 Meninggal

UPDATE Covid-19 di Depok 28 Maret: Tambahan 8 Kasus Positif dan 1 Meninggal

Megapolitan
Pemprov DKI Perpanjang Masa Tanggap Darurat Covid-19 sampai 19 April 2020

Pemprov DKI Perpanjang Masa Tanggap Darurat Covid-19 sampai 19 April 2020

Megapolitan
61 Tenaga Medis di Jakarta Terinfeksi Covid-19, Dirawat di 26 RS

61 Tenaga Medis di Jakarta Terinfeksi Covid-19, Dirawat di 26 RS

Megapolitan
Dr Tirta Ceritakan Menyedihkannya Kondisi Dokter yang Berjuang Lawan Covid-19

Dr Tirta Ceritakan Menyedihkannya Kondisi Dokter yang Berjuang Lawan Covid-19

Megapolitan
Data Kasus Covid-19 di 18 Kecamatan di Kabupaten Bekasi, Paling Banyak di Tambun Selatan

Data Kasus Covid-19 di 18 Kecamatan di Kabupaten Bekasi, Paling Banyak di Tambun Selatan

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X